BOGOR, JurnalPost.com – Tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi warisan peradaban yang mampu mengubah arah sejarah umat manusia. Dengan semangat itulah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Cileungsi Kabupaten Bogor menyelenggarakan Workshop Creative Writing bertema “Merangkai Tulisan, Merawat Peradaban, Menyongsong Kemerdekaan Palestina dan Kembalinya Masjidil Aqsa” pada Selasa (19/8/2025).
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB di Kampus STAI Al-Fatah ini menghadirkan wartawan senior Dr. Aat Surya Safaat dan diikuti ratusan peserta terdiri para dosen dan mahasiswa STAI Al-Fatah, mahasiswa Politeknik Bhakti Kartini Bekasi, pengurus Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, jurnalis hingga staf UAR, baik secara luring maupun daring.
Dalam sambutannya, Ketua STAI Al-Fatah Wawan Hermawansyah, M.Si., menyoroti persoalan mendasar di dunia pendidikan tinggi saat ini, yaitu rendahnya semangat membaca dan menulis.
“Faktanya, tingkat membaca Indonesia berada di urutan paling rendah di Asia Tenggara. Padahal perintah pertama Allah dalam Al-Qur’an adalah membaca. Namun realitasnya, banyak mahasiswa lebih akrab dengan berita hoaks ketimbang menulis dan membaca literatur ilmiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, di era digital masyarakat seringkali lebih percaya dan menyebarkan berita bohong yang dikemas menarik, sementara orang-orang yang memahami kebenaran justru kalah dalam publikasi.
“Karena itu budaya membaca dan menulis harus menjadi kebiasaan yang mengakar, terutama di perguruan tinggi. Harapan kami, dari workshop ini lahir mindset kreatif yang berorientasi pada kebenaran. Mahasiswa dan peserta mampu menulis berita yang benar, menarik, dan dipublikasikan di media yang tepat,” pungkasnya.
Direktur Politeknik Bhakti Kartini Yusnita Yusfik, M.KM menggarisbawahi pesan yang disampaikan Ketua STAI, para mahasiswa diminta rajin membaca dan menulis serta menyayangkan para mahasiswa yang tidak hadir di acara ini. “Jangan hanya didengar lalu hilang begitu saja. Catat, pelajari, dan praktikkan dalam dunia nyata,” ujarnya.
Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) KH. Yakhsyallah Mansur, M.A., yang turut hadir sebagai pembicara kunci juga mengingatkan bahwa kebodohan merupakan penyakit terbesar umat sejak jaman Nabi Muhammad hingga sekarang. Oleh karenanya “kejahiliyahan” itu harus dihilangkan antara lain dengan banyak membaca dan menulis yang baik.
Beliau mencontohkan bagaimana Al-Qur’an mengisahkan komunikasi Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis dalam Surat An-Naml ayat 23 – 27 yang sarat nilai sastra, ringkas, padat, dan fasih sebagai ciri tulisan yang baik. Selain itu surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis menunjukkan tulisan bisa menjadi sarana dakwah, diplomasi, dan merawat peradaban.
Sementara itu, Dr. Aat Surya Safaat dalam materinya “Kiat Menulis Cepat, Menarik, dan Bermanfaat” menekankan bahwa menulis adalah perjuangan. Ia menyinggung bagaimana Ir. Soekarno menulis buku Di Bawah Bendera Revolusi ketika dipenjara, dan Mohammad Hatta melahirkan karya besar di tengah keterbatasan.
“Tulisan mampu menembus penjara dan menginspirasi bangsa. Karena itu, menulislah dengan atraktif, akhiri dengan impresif, dan selalu pegang teguh kebenaran,” tegasnya.
Ia juga mengajak mahasiswa menjadikan pena sebagai senjata peradaban, bukan hanya untuk menyalurkan ide, tetapi juga sebagai kontribusi nyata bagi perjuangan umat Islam dalam mendukung kemerdekaan bangsa Palestina dan Al Aqsa.
“Tulisan yang lahir dari kejujuran dan komitmen akan memberi arah, bahkan menyongsong kemerdekaan Palestina dan kembalinya Masjidil Aqsa,” pesan Dr. Aat Surya Safaat yang pernah menjabat sebagai Kepala Biro Antara di New York dan meliput agenda PBB itu.
Workshop kolaborasi STAI Al-Fatah dengan Majelis Ukhuwah Pusat (MUP) Jama’ah Muslimin (Hizbullah) ini berlangsung hangat dan antusiasme para peserta. Acara ditutup pukul 12.00 WIB dengan penyerahan cinderamata kepada Dr. Aat Surya Safaat oleh Amir MUP H. Syakuri. Sebelumnya Pembina STAI Imaam Yakhsyallah Mansur juga menerima cinderamata dari Ketua STAI Al-Fatah Wawan Hermawansyah.
Suasana penuh motivasi tersebut meninggalkan kesan mendalam, bahwa merawat peradaban dimulai dari budaya membaca dan menulis yang benar, kreatif, dan berpihak pada kebenaran. (AM)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda