JurnalPost.com - Energi adalah tenaga atau kekuatan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas, sehingga energi merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dasar. Energi yang kita bicarakan di sini adalah energi yang dapat diperoleh dari alam dan diubah menjadi bentuk-bentuk seperti penggerak mesin dan produksi listrik.
Industri dan teknologi modern membutuhkan energi dalam jumlah yang sangat besar, dan jumlahnya terus bertambah. Energi dibagi menjadi energi tak terbarukan dan energi terbarukan, tergantung pada sumber produksinya. Energi terbarukan adalah sumber daya alam yang tersedia berlimpah di alam dan berkelanjutan. Energi tak terbarukan merupakan energi yang bisa habis seiring berjalannya waktu. Energi memliki beberapa macam bentuk, setiap bentuknya memiliki manfaat sesuai kegunaannya masing-masing. Sejauh ini, energi tak terbarukan masih mendominasi konsumsi di semua sektor yang diperlukan untuk pengembangan industri.
Konsumsi energi final Indonesia terus tumbuh seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi di semua sektor pengguna. Konsumsi energi final tumbuh pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 2,53 persen. Bahan bakar masih mendominasi konsumsi energi final dengan pangsa sekitar 36,79%, diikuti oleh biomassa 29,95%, listrik 12,03%, gas 9,17%, batu bara 6,80%, dan LPG 5,26%.
Ini artinya, sebagian besar konsumsi energi masih dalam bentuk bahan bakar fosil yang merupakan jenis energi tak terbarukan. Di sisi lain, cadangan energi fosil yang diperkirakan adalah BBM: Gas alam diperkirakan akan habis 3,5 miliar barel dalam 13 tahun: 100,3 TFC dalam 34 tahun, dan batu bara: 7,2 miliar barel dalam 16 tahun.
Pertumbuhan populasi dan peradaban manusia yang cepat, ditambah dengan meningkatnya konsumsi energi, juga merupakan akar dari masalah ini. Tentu saja, karena hal ini, kita tampaknya harus terus meningkatkan produksi energi.
Selain itu, pembakaran bahan bakar fosil yang menjadi konsumsi harian kita seakan menciptakan musuh kita sendiri yang disebut dengan pemanasan global/global warming, peningkatan suhu secara global. Sejak revolusi industri penggunaan bahan bakar fosil mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Meskipun pada saat yang sama, ketika dunia mulai dibawa pada kejayaan oleh industri namun juga membawa dunia pada kerusakan lingkungan. Adalah CO2 (karbon dioksida) salah satu senyawa kimia dominan yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang kemudian dikenal dengan emisi karbon. Emisi karbon inilah yang menimbulkan efek rumah kaca, yang menggambarkan bumi sebagai rumah kita hidup di dalamnya seakan tertutup oleh kaca yaitu panas. Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor energi mengalami peningkatan 2,43% per tahun.
Dengan mencermati kondisi energi di atas, maka diperlukan energi baru yang dapat diproduksi secara terus-menerus, terbarukan (reneweble), dan tidak menghasilkan emisi GRK. Energi tersebut adalah energi baru terbarukan yang memanfaatkan potensi alam seperti tenaga air, tenaga angin, tenaga matahari, panas bumi, biomassa, limbah perkotaan (sampah) dan limbah cair industri.
Indonesia memiliki setidaknya enam sumber daya energi terbarukan: tenaga air, tenaga surya, angin, arus laut, bioenergi, dan panas bumi. Total potensi dari keenam sumber daya ini diperkirakan mencapai 44,7 GW, sementara kapasitas yang telah terealisasi adalah 8,89 GW, atau hanya 2% dari potensi yang ada, sehingga sangat disayangkan bahwa energi terbarukan belum menjadi prioritas di negara kita.
Akademisi harus berusaha keras untuk menciptakan inovasi yang dapat meningkatkan kemampuan kita dalam menangani potensi ini; tim riset khusus harus dibentuk, yang didanai sepenuhnya oleh pemerintah dan terdiri dari generasi muda negara ini, untuk meminimalisir ketergantungan kita pada tenaga asing.
Masyarakat biasa juga dapat berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca melalui konservasi energi dan konsumsi yang efisien, meskipun mereka tidak dapat berinovasi. Yang perlu mereka lakukan adalah melakukan perubahan gaya hidup untuk penggunaan energi yang bijak dan tepat, seperti mematikan listrik jika tidak diperlukan, menanam pohon, memanfaatkan limbah (sampah), menggunakan kendaraan non-bahan bakar untuk jarak dekat, dan mematikan keran air jika bak mandi sudah penuh air.
Oleh: Susi Faheliyatul Hasanah, Penulis mahasiswa Tadris Biologi UIN KHAS Jember
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda