JurnalPost.com - Kecamatan Manyak Payed – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir 2025 tidak hanya meninggalkan genangan air dan lumpur, tetapi juga persoalan serius yang masih dirasakan masyarakat hingga kini.
Di Desa Alue Ie Puteh, lumpur tebal yang terbawa arus banjir menimbun mata air sumur-sumur warga dan mencemari sumber air yang selama ini menjadi penopang utama kebutuhan rumah tangga. Air berubah keruh, Debit air menurun drastis dan tidak lagi layak digunakan untuk konsumsi maupun sanitasi. Dalam situasi pascabencana, ketika kebutuhan air justru meningkat untuk membersihkan rumah dan lingkungan, kondisi ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi warga.
Merespons persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Samudra melaksanakan kegiatan Pemulihan Sistem Air Bersih Tanggap Darurat Pascabanjir pada 12 Februari 2025. Program ini dirancang tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan fisik sumber air, tetapi juga membangun kembali sistem pengelolaan air bersih yang lebih tangguh di tingkat desa.
Ketua tim pengabdian, Salman, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa genangan banjir yang berlangsung cukup lama menyebabkan endapan lumpur bercampur dan material organik masuk ke dalam sumur warga. “Kondisi tersebut menurunkan kualitas air secara drastis dan meningkatkan risiko kontaminasi. Air tidak lagi aman digunakan, bahkan untuk kebutuhan dasar,” ungkapnya.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama mahasiswa Universitas Samudra dan masyarakat Desa Alue Ie Puteh. Tahapan awal dilakukan melalui asesmen lapangan untuk memetakan tingkat kerusakan sumur dan menentukan prioritas penanganan. Selanjutnya, tim melakukan pembersihan fisik menggunakan teknologi submersible sewage pump guna mengangkat lumpur dari dalam sumur secara efektif dan efisien.
Setelah proses pembersihan, tim juga memberikan edukasi langsung kepada warga mengenai teknik pembersihan sumur pascabanjir, pengolahan air sederhana, serta praktik sanitasi yang aman dalam kondisi darurat. Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian masyarakat sehingga lebih siap menghadapi potensi banjir berulang.
Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, warga diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih dari luar. Upaya ini menjadi fondasi awal dalam membangun ketahanan desa terhadap krisis air bersih dan risiko kesehatan lingkungan.
Kegiatan pengabdian ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Samudra. Tim menyampaikan apresiasi atas komitmen yang diberikan dalam mendukung program pengabdian yang responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda