Penulis: Dr. Darmawan Saptadi, S.P., M.P. Afiliasi: Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya
Malang, JurnalPost.com — Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, selama ini dikenal luas sebagai salah satu sentra penghasil jeruk unggulan di Jawa Timur. Berbagai varietas populer seperti jeruk baby java, keprok, hingga siem menjadi sumber utama penghidupan masyarakat setempat. Namun, kejayaan komoditas andalan ini kini dihadapkan pada tantangan besar yang mengancam keberlanjutan ekonomi petani lokal. Ancaman utama datang dari serangan penyakit tanaman CVPD, ditambah dengan harga jual buah di pasaran yang kerap fluktuatif akibat rantai tataniaga yang terlalu panjang.
Kondisi pelik tersebut memaksa para petani untuk segera mencari jalan keluar alternatif agar dapur tetap ngebul dan kesejahteraan keluarga terjaga. Menjawab keresahan ini, sebuah kegiatan penyuluhan pertanian digelar pada awal Agustus 2026 di balai desa setempat. Acara ini dirancang khusus untuk membuka wawasan dan memberikan edukasi kepada para petani mengenai peluang diversifikasi tanaman. Melalui langkah peralihan yang terencana, para petani diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu komoditas saja yang rentan terhadap kegagalan panen dan serangan hama penyakit.
Dalam pemaparannya, Dr. Darmawan Saptadi dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya, menekankan pentingnya ketelitian dalam memilih bahan tanam yang berkualitas tinggi. Mengingat komoditas tanaman tahunan umumnya baru dapat menghasilkan buah setelah kurun waktu tiga hingga lima tahun, pemilihan bibit unggul menjadi fondasi mutlak kesuksesan. Ia menawarkan beberapa alternatif komoditas buah tropis bernilai ekonomi tinggi yang sangat sesuai dengan kondisi agroekosistem lingkungan setempat, seperti durian, alpukat berkualitas, serta buah lengkeng.
Sesi berikutnya dalam penyuluhan tersebut diisi oleh praktisi bisnis pertanian berpengalaman, yakni Suyadi, S.P., M.P., yang secara mendalam membahas strategi pemasaran modern. Di era digital saat ini, pemanfaatan teknologi informasi serta upaya memperpendek rantai distribusi menjadi kunci utama keberhasilan usaha. Dengan memotong jalur tengkulak yang terlalu panjang, petani diharapkan bisa memperoleh margin keuntungan yang jauh lebih besar sekaligus menekan risiko kerugian. Sebagai bentuk dukungan nyata dan tindak lanjut dari kegiatan ini, paket bantuan berupa bibit durian serta alpukat varietas unggul dibagikan secara gratis agar petani bisa langsung mencoba menanamnya di lahan masing-masing.
Antusiasme yang tinggi terlihat jelas dari raut wajah para petani yang hadir mengikuti seluruh rangkaian acara penyuluhan dari awal hingga akhir. Mereka berpendapat bahwa tambahan pengetahuan baru ini sangat membantu dalam memperkuat posisi tawar di hadapan para tengkulak sekaligus membuka akses pasar yang jauh lebih luas. Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan intensif tidak hanya mendongkrak pemahaman teknis budidaya yang berkelanjutan, tetapi juga menguatkan mental kesiapan mereka dalam menghadapi dinamika pasar yang kerap berubah-ubah.
Langkah strategis diversifikasi komoditas pertanian ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan taraf hidup petani secara berkelanjutan sekaligus membangun sistem agrikultur yang lebih tangguh dan resilien. Upaya nyata di tingkat akar rumput ini ternyata juga sejalan dengan agenda besar tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Program tersebut secara khusus mendukung pencapaian SDG 1 mengenai pengentasan kemiskinan, SDG 8 tentang penyediaan pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi, serta SDG 10 yang berfokus pada upaya mengurangi tingkat ketimpangan sosial di tengah masyarakat pedesaan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda