Bandung, JurnalPost.com – Telkom University melalui Program Studi Digital Public Relations mengembangkan riset digitalisasi motif dan filosofi Batik Surakarta sebagai dasar perumusan aplikasi digital repository batik. Riset bertajuk "Digitalisasi Motif dan Filosofi Batik Solo untuk Kampanye Budaya: Perpustakaan Digital Batik Surakarta sebagai Strategi Branding Budaya dan Storytelling Visual Interaktif" ini hadir untuk menjawab tantangan pelestarian batik di era digital — di mana upaya digitalisasi budaya selama ini kerap berhenti pada sekadar penyimpanan gambar atau katalog visual, sementara nilai terpenting batik justru terletak pada makna, cerita, dan filosofi yang melekat pada setiap motifnya.
Riset ini menempatkan batik bukan hanya sebagai produk wastra atau elemen visual, melainkan sebagai warisan budaya yang mengandung filosofi, sejarah, nilai kehidupan, dan identitas kultural masyarakat Jawa. Penelitian dijalankan oleh tiga anggota tim dari Telkom University: Dr. Sri Dewi Setiawati, M.Si; Refi Rifaldi Windya Giri, ST., MBA., PhD; serta Diena Yudiarti, S.Ds., MSM.
Dalam kajian ini, motif Batik Surakarta dipahami sebagai sistem tanda visual yang memuat nilai-nilai seperti harmoni, keteguhan, kasih, pemulihan, spiritualitas, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam struktur aplikasi, mencakup kartu motif, katalog visual, timeline sejarah, navigasi berbasis fase kehidupan, hotspot interaktif, hingga storytelling visual. Salah satu pendekatan khasnya adalah menghubungkan motif batik dengan fase kehidupan dalam tradisi macapat — seperti Asmarandana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, dan Pangkur — sehingga aplikasi tidak hanya berfungsi sebagai arsip digital, tetapi juga sebagai ruang pengalaman budaya yang membantu pengguna memahami batik sebagai narasi perjalanan hidup manusia.
"Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk melihat batik sebagai sumber nilai budaya, bukan sekadar motif visual. Digital repository yang kami rancang diarahkan agar pengguna tidak hanya melihat batik sebagai gambar, tetapi juga memahami filosofi, cerita, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya," ungkap Sri Dewi, Ketua Tim Peneliti.
Dari perspektif Digital PR, riset ini memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat dikomunikasikan secara strategis melalui platform digital. "Dalam konteks Digital PR, repository batik dapat menjadi media komunikasi budaya yang mempertemukan edukasi, partisipasi publik, dan branding daerah. Ketika nilai batik dikemas melalui narasi digital yang tepat, publik tidak hanya mengenal batik sebagai produk, tetapi juga sebagai identitas budaya yang hidup," tambah Refi
Konsep UI/UX dalam riset ini diposisikan bukan sekadar untuk memperindah tampilan, melainkan untuk mengatur bagaimana pengguna menelusuri motif, membaca makna, memahami konteks sejarah, dan mengalami cerita visual batik secara lebih intuitif. "Nilai seperti harmoni dapat hadir melalui tampilan yang seimbang, keteguhan melalui navigasi yang jelas, dan kebijaksanaan melalui penyajian informasi yang mendalam namun tetap mudah dipahami," jelas Diena, anggota tim peneliti.
Pandangan serupa datang dari narasumber pakar budaya Surakarta yang dilibatkan dalam penelitian ini. Para pakar menilai bahwa fitur-fitur seperti kartu motif, timeline sejarah, hotspot interaktif, dan storytelling visual relevan dikembangkan dalam aplikasi digital repository, dan dapat mengubah aplikasi dari sekadar katalog menjadi media pembelajaran budaya yang lebih hidup bagi generasi muda. "Banyak orang mengenal batik hanya dari bentuk atau coraknya saja, padahal setiap motif punya makna, sejarah, dan mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa," ujar salah satu pakar budaya.
Melalui riset ini, Telkom University menegaskan bahwa penguatan budaya lokal dapat dilakukan melalui inovasi digital yang tetap menghormati akurasi sejarah, makna simbolik, dan nilai kultural. Hasil penelitian diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan digital heritage, digital branding, dan komunikasi visual budaya di Indonesia.
Oleh: Dr. Sri Dewi Setiawati, M.Si. Dosen Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda