CIREBON, JurnalPost.com – Upaya memperkuat identitas Desa Sitiwinangun sebagai desa wisata kriya terus dilakukan. Tim Telkom University menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan fokus penyusunan blueprint storytelling sebagai strategi komunikasi digital desa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Cirebon pada 11 Juni 2026 melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pihak desa. Forum ini menjadi ruang untuk merumuskan draft awal storytelling yang nantinya dapat digunakan sebagai dasar narasi promosi, konten media sosial, website desa, katalog digital, hingga pengembangan desa wisata berbasis kriya.
Desa Sitiwinangun selama ini dikenal sebagai salah satu sentra gerabah tradisional di Kabupaten Cirebon. Desa ini memiliki kekayaan sejarah, nilai budaya, motif, serta filosofi lokal yang melekat dalam setiap produk kriya yang dihasilkan masyarakat.
Tim pengabdian kepada masyarakat Telkom University diketuai oleh Reffi Rafialdi Windya Giri, Ph.D., dengan anggota Dr. Sri Dewi Setiawati dan Dr. Martha Tri Lestari. Dalam kegiatan tersebut, tim berdiskusi bersama Sutrisno selaku perwakilan Desa Sitiwinangun untuk menggali narasi lokal, pengalaman masyarakat, serta nilai-nilai yang hidup di balik produk kriya gerabah.
“Selama ini orang mungkin melihat gerabah hanya sebagai produk. Padahal bagi masyarakat Sitiwinangun, gerabah adalah bagian dari kehidupan, sejarah keluarga, dan identitas desa,” ujar Sutrisno dalam sesi diskusi.
Reffi Rafialdi Windya Giri menjelaskan, penyusunan blueprint storytelling ini menjadi langkah awal agar promosi digital desa tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menghadirkan cerita manusia, proses, dan makna budaya di dalamnya.
“Kami ingin membantu desa menyusun cerita yang autentik. Ketika masuk ke media digital, Sitiwinangun tidak hanya dikenal karena gerabahnya, tetapi juga karena nilai, filosofi, dan kehidupan masyarakat di baliknya,” ungkap Reffi.
Melalui kegiatan ini, storytelling diharapkan menjadi jembatan antara warisan kriya tradisional dan kebutuhan komunikasi digital masa kini. Dengan narasi yang lebih kuat dan humanis, Desa Sitiwinangun diharapkan semakin dikenal sebagai desa wisata kriya yang tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang bermakna.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda