24 C
Jakarta
Kamis, Mei 6, 2021

Tantangan Dunia Pendidikan di Masa Pandemi

“Pandemi ibarat ledakan bagi dunia pendidikan.” – Nadiem Makarim

JURNALPOST – Pandemi Covid-19, wabah yang meresahkan masyarakat secara global. Menyebarnya Covid-19 di seluruh penjuru dunia telah meruntuhkan ragam sendi-sendi kehidupan. Wabah tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan saja, tetapi juga merambah ke seluruh sendi kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan.

Situasi pendidikan saat ini bak buah simalakama. Di satu sisi, beraktivitas di sekolah memicu kekhawatiran terinfeksi Covid-19. Sementara itu, belajar secara daring di rumah sudah mulai terasa melelahkan dan membosankan. Hal ini bisa dilihat dari kerinduan para pelajar untuk kembali sekolah seperti semulanya. Belajar, bersenda gurau dengan teman, berkumpul di ruang kelas dan kantin pun sudah lama tidak dilakukan. Namun, kini semua itu seakan hanya kenangan.

Pandemi Covid-19 dinilai telah mengubah pola pendidikan. Berawal dari proses pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka, kini berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal ini didasari oleh Surat Edaran Kemendikbud Dikti Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dampak dari perubahan ini pun terasa signifikan.

Menanggapi hal ini, sekolah sebagai wadah bagi para siswa pun memberi respons cepat dengan mengikuti intruksi pemerintah. Dikutip dari CNN Indonesia, Senin (16/3/20), ada sebanyak 65 perguruan tinggi di Indonesia yang telah melaksanakan pembelajaran secara daring. Menurut Moore, Dickson-Deane, dan Galyen (2011), pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang menggunakan jaringan internet dengan aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas, dan kemampuan untuk memunculkan berbagai jenis interaksi pembelajaran. Secara sederhana, pembelajaran secara daring adalah kegiatan belajar menggunakan akses internet dan perangkat elektronik.

Lantas, mengapa perubahan sistem pembelajaran ini membawa dampak yang berbeda?

Hal ini disebabkan siswa sudah terbiasa mengikuti pembelajaran secara langsung. Dengan mengubah kebiasaan itu, mereka pasti akan mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Kesulitan inilah yang memicu tantangan dalam dunia pendidikan. Adaptasi baru ini juga membuat para tenaga pendidik harus berjuang keras untuk memikirkan strategi pembelajaran yang tepat.

Pandemi ibarat gelombang yang menghantam, sedangkan tiap-tiap dari kita berjuang di perahu yang berbeda. Analogi ini mengisyaratkan pandemi Covid-19 membawa sejumlah tantangan bagi berbagai pihak dalam sektor pendidikan, baik pendidik maupun peserta didik. Sebenarnya kendala yang dihadapi oleh tenaga pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran daring tidaklah jauh berbeda.

Tantangan utama bagi guru dalam pembelajaran online adalah soal lemahnya penguasaan teknologi dan rendahnya akses internet. Sementara itu, masalah yang umum dihadapi oleh para siswa, terutama di wilayah terpencil adalah mengenai sarana dan prasarana yang kurang memadai untuk mendukung proses pembelajaran secara daring. Keterbatasan kepemilikan gadget dan rendahnya penetrasi internet ini pun dinilai sebagai faktor utama yang menghambat proses belajar-mengajar.

Seiring berjalannya waktu, kondisi pandemi pun mendorong sejumlah pihak untuk melakukan berbagai inovasi sebagai solusi menjawab tantangan Covid-19. Bisa dilihat kini teknologi dan digitalisasi telah mengambil alih dan menjadi sarana pembelajaran utama yang menghubungkan guru, siswa, dan orang tua.  Bentuk inovasi tersebut tentunya perlu melibatkan peranan teknologi mengingat saat ini kita telah beranjak menuju fase masyarakat digital.

E-Learning merupakan salah satu bentuk implementasi aplikasi yang menggabungkan antara pembelajaran dan teknologi informasi. Saat ini metode E-Learning banyak diterapkan oleh sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Berdasarkan survei yang dilakukan The Conversation, mayoritas responden (62%) mengatakan bahwa kualitas pembelajaran E-Learning sama baiknya dengan pembelajaran secara tatap muka. Lebih dari 70% dari responden adalah mahasiswa (71%), sisanya adalah dosen (16%), dan petinggi universitas. Mereka menilai pelaksanaan E-Learning pada masa pandemi Covid-19 ini berjalan lancar dan dan tujuan pembelajaran juga tercapai dengan baik. Hasil survei tersebut membuktikan bahwa metode pembelajaran dalam bentuk E-Learning dapat berjalan efektif dalam menunjang proses pembelajaran secara daring.

Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa situasi pandemi ini harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki ekosistem pendidikan nasional. Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, pun mencetuskan program “Merdeka Belajar”. Program ini memberikan kesempatan untuk berpetualang dan mengeksplorasi ilmu. Konsep “Merdeka Belajar” ini juga dinilai sebagai terobosan positif bagi perkembangan pendidikan nasionl. Untuk mendukung gerakan ini, pemerintah juga memberikan sejumlah subsidi kuota internet bagi kalangan akademis.

Meskipun saat ini teknologi memegang peranan yang penting dalam dunia pendidikan, peran guru, dosen, dan pendidik tetap tidak dapat tergantikan.

Guru, digugu lan ditiru.

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa besarnya peranan seorang guru yang dijadikan sebagai sosok panutan oleh peserta didiknya. Dalam dunia pendidikan itu tidak melulu soal pengetahuan, tetapi pembentukan karakter anak juga tidak kalah penting. Untuk membentuk karakter anak bangsa yang berkualitas, seorang guru sebagai pusat teladan harus memberikan contoh yang baik. Hal ini mengindikasikan seorang guru perlu merangkap peran ganda ketika mengedukasi anak didiknya.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Semboyan pendidikan yang diperkenalkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, selalu dijadikan sebagai pendoman bagi pendidik dalam menjalankan bimbingannya. Selain itu, slogan dan semboyan ini juga bisa menjadi penyemangat bagi rakyat Indonesia dalam dunia pendidikan, terutama di situasi sekarang ini.

Memang tidak dapat dimungkiri kini dunia pendidikan sedang diuji oleh kehadiran pandemi Covid-19. Namun, ingatlah seluruh tujuan pendidikan adalah mengubah cermin menjadi jendela. Perlu ditegaskan bahwa pendidikan memainkan peran yang penting dalam memajukan suatu bangsa. Sebab, pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan memperluas pengetahuan setiap anak didik.

Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan di masa khusus ini, seorang guru harus mampu beradaptasi khususnya pada era revolusi teknologi saat ini. Dalam hal ini, guru sebagai ujung tombak pendidikan dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif. Namun, pendidikan yang efektif tentunya juga membutuhkan kolabrasi yang efektif dari guru, siswa, dan orang tua. Maka dari itu, mari kita bangkitkan semangat mengajar dan mengejar ilmu di masa darurat Covid-19. Akhir kata, Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk seluruh insan pendidikan.

Oleh: Arfinna Erliencani

Jurnalpost.com adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Berita ini dibuat dengan formulir pengiriman. Silahkan login untuk memulai menulis!

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.