BOGOR, JurnalPost.com - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Bogor, menggelar Seminar Internasional bertema “Menggugat Negara Zionis Israel” di Gedung STAI Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Ahad (24/5/2026).
Seminar yang berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB itu dihadiri ratusan peserta dari kalangan Syubban, Fatayat, dan mahasiswa.
Turut hadir Ketua Umum Ukhuwah Al-Fatah Rescue H. Endang Sudrajat, Sekretaris Umum UAR Muqarrobin Al Ayubi, Kepala Pusdatin UAR Pusat, Pimpinan Umum MINA Arif Rahman, serta Pembina UAR Pusat H. Abdul Malik dan Amir Markaz M. Tobri.
Seminar menghadirkan keynote speaker KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, serta narasumber Dr. Ahed Abu Al-Atta, Dr. Wahyudi KS, dan Ketua Presidium Aqsa Working Group M. Ansharulloh menggantikan Wanda Hamidah yang berhalangan hadir.
Ketua STAI Al-Fatah, Wawan Hermawansyah, M.M.S.I., dalam sambutannya mengatakan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghadirkan pembahasan ilmiah terkait isu Palestina dan penjajahan Zionis Israel.

“Tidak banyak kampus perguruan tinggi yang mengadakan kajian ilmiah tentang Palestina atau tentang penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina seperti yang diselenggarakan STAI Al-Fatah. Oleh karenanya kami berharap seminar ini bisa mendorong kampus-kampus lain untuk mengadakan acara serupa,” ujarnya.
Ia menambahkan, seminar tersebut diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan intelektual dan pembahasan berkelanjutan mengenai Palestina, termasuk penguatan opini publik dan edukasi melalui media sosial maupun forum ilmiah.
Dalam keynote speech-nya, KH. Yakhsyallah Mansur membahas persoalan Palestina dari perspektif sejarah, geopolitik, hukum internasional, dan pandangan Islam. Ia membuka paparannya dengan mengutip Surat Al-Isra ayat 4 tentang kerusakan dan kesombongan Bani Israil.
Menurutnya, penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina tidak lahir secara alamiah, tetapi merupakan bagian dari proyek kolonialisme global yang berkembang setelah runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani. Ia menjelaskan bagaimana Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran Theodore Herzl untuk membeli tanah Palestina.
“Aku tidak akan menjual sejengkal pun tanah Palestina, karena tanah itu bukan milikku, melainkan milik umat Islam,” demikian kutipan Sultan Abdul Hamid II yang disampaikan Yakhsyallah Mansur dalam materinya.
Ia juga mengulas Deklarasi Balfour 1917, mandat Inggris atas Palestina, hingga lahirnya negara Israel pada 1948 yang menurutnya menjadi awal tragedi panjang bagi rakyat Palestina.
Selain menyoroti aspek sejarah, Yakhsyallah Mansur juga menjelaskan kontroversi legalitas Israel dalam perspektif hukum internasional. Ia mengutip pandangan sejumlah tokoh dan lembaga internasional seperti John Dugard, Amnesty International, Human Rights Watch, hingga Mahkamah Internasional di Den Haag yang menilai pendudukan Israel di Palestina melanggar hukum internasional dan memiliki karakter apartheid.
"PBB didirikan hanya untuk melegalkan pendirian negara penjajah zionis Israel di atas tanah Palestina," ungkap Imaam Yakhsyallah.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa Zionisme lebih merupakan proyek politik sekuler modern daripada representasi agama Yahudi secara keseluruhan. Ia menyebut sejumlah intelektual Yahudi seperti Albert Einstein, Norman Finkelstein, dan Shlomo Sand yang pernah mengkritik Zionisme dan kebijakan Israel.
Yakhsyallah Mansur juga menyoroti meningkatnya gelombang solidaritas global terhadap Palestina, terutama pascaperang Gaza 2023. Menurutnya, media sosial telah membuka kesadaran baru di kalangan generasi muda dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina dan standar ganda politik Barat.
Di akhir penyampaiannya, ia menegaskan keyakinannya bahwa kedzaliman dan penjajahan tidak akan bertahan selamanya. Ia menutup materinya dengan mengutip Surat Al-Isra ayat 16-17 tentang kehancuran suatu negeri akibat kedzaliman para pemimpin dan orang-orang yang hidup bermewah-mewahan namun melampaui batas.
Seminar internasional tersebut berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab seputar sejarah Palestina, legitimasi Zionisme, hingga langkah konkret membangun solidaritas dan edukasi publik terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Dalam diskusi yang dipandu Angga Aminudin para peserta narasumber dan peserta Seminar sepakat akan terus menggugat keberadaan negara zionis Isael di atas tanah bangsa Palestina melalui advokasi dan berbagai perjuangan pembelaan lain. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda