Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Bayar Obat di Apotek Makin Mudah, Nasabah BRI Bojonegoro Rasakan Manfaat QRIS

  2. Mahasiswa Hukum Untag Surabaya Amati Persidangan di Pengadilan Agama, Pelajari Proses Litigasi

  3. Mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya Amati Langsung Proses Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

  4. Nasabah BRI Bojonegoro Ungkap Kemudahan Cicil Emas Lewat BRImo, Praktis dan Fleksibel

  5. Mahasiswa Untag Surabaya Amati Jalannya Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. SENGGACUP, Inovasi Gelas Edible dari Mahasiswa Untan yang Tawarkan Alternatif Kemasan Ramah Lingkungan

SENGGACUP, Inovasi Gelas Edible dari Mahasiswa Untan yang Tawarkan Alternatif Kemasan Ramah Lingkungan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
05 September 2026, 18.55 WITA • Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Tim mahasiswa Universitas Tanjungpura
Tim mahasiswa Universitas Tanjungpura memperkenalkan SENGGACUP, inovasi edible dan biodegradable cup berbahan lokal yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) sebagai alternatif kemasan ramah lingkungan.

Pontianak, JurnalPost.com — Persoalan sampah plastik sekali pakai masih menjadi tantangan besar di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman. Dari persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) mencoba menghadirkan alternatif melalui pengembangan gelas yang dapat dikonsumsi sekaligus mudah terurai secara alami.

Inovasi tersebut diberi nama SENGGACUP, singkatan dari konsep Antioxidant Edible & Biodegradable Cup. Produk ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan memanfaatkan sejumlah bahan lokal Indonesia.

IKLAN

Tidak seperti gelas plastik konvensional yang biasanya langsung menjadi limbah setelah digunakan, SENGGACUP dirancang agar dapat dimakan. Apabila tidak dikonsumsi, material penyusunnya juga dikembangkan agar dapat terurai secara alami sehingga mendukung konsep zero-waste.

Tim PKM-K Universitas Negeri Malang
Baca Juga

Tim PKM-K Universitas Negeri Malang Kembangkan WHISH, Tisu Sepatu Antikekuningan Berbasis Riset dan Ramah Lingkungan

Memanfaatkan Ganyong, Porang hingga Buah Senggani

Dalam proses produksinya, tim mahasiswa Untan menggunakan tepung ganyong, glukomanan porang, agar rumput laut, ekstrak buah senggani (Melastoma malabathricum), serta beeswax berstandar pangan.

Masing-masing bahan memiliki fungsi berbeda dalam membentuk karakteristik produk.

Pati ganyong digunakan sebagai salah satu bahan pembentuk struktur utama. Glukomanan yang berasal dari porang berfungsi membantu meningkatkan elastisitas material, sementara agar rumput laut digunakan untuk memperkuat karakteristik mekanik gelas.

Ekstrak buah senggani kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan warna ungu alami sekaligus memberi nilai tambah berupa kandungan antioksidan.

Dosen dan Mahasiswa UPN
Baca Juga

Dosen dan Mahasiswa UPN Veteran Jatim Gelar Aksi Bersih Sampah di Kawasan Mangrove Surabaya Timur

Bagian permukaan gelas juga dilapisi beeswax food grade untuk membantu meningkatkan ketahanan terhadap air dan suhu minuman.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut menjadi salah satu cara tim menggabungkan potensi sumber daya lokal dengan pengembangan teknologi kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan.

Berawal dari Persoalan Sampah Plastik

Pengembangan SENGGACUP tidak terlepas dari tingginya penggunaan kemasan sekali pakai di sektor makanan dan minuman.

Dalam data yang digunakan sebagai dasar penyusunan proposal pengembangan produk, sampah plastik disebut mencapai sekitar 20,04 persen dari total timbulan sampah nasional. Sementara tingkat daur ulang plastik masih berada di bawah 10 persen.

sampah betumpuk
Baca Juga

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

Masalah serupa juga terlihat pada tingkat lokal. Sejumlah penelitian yang digunakan sebagai rujukan tim menunjukkan kedai minuman di Kota Pontianak menghasilkan limbah gelas plastik dalam jumlah cukup besar.

Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan kemasan yang tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, tetapi juga tetap dapat digunakan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.

Punya Aktivitas Antioksidan 93,90 Persen

Selain menawarkan aspek ramah lingkungan, SENGGACUP juga dikembangkan sebagai kemasan dengan nilai fungsional.

Penggunaan ekstrak buah senggani menjadi salah satu pembeda produk tersebut. Dalam pelaksanaan PKM-K, tim melakukan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH.

Hasil pengujian menunjukkan SENGGACUP memiliki aktivitas antioksidan sebesar 93,90 persen.

Capaian tersebut kemudian menjadi salah satu nilai diferensiasi produk dibandingkan sejumlah kemasan edible maupun biodegradable yang hanya berfokus pada fungsi wadah.

Secara fisik, SENGGACUP dikembangkan dalam ukuran sekitar 14 oz, dengan berat sekitar 30 hingga 40 gram dan ketebalan dinding berkisar 3 hingga 4 milimeter.

Berdasarkan hasil pengembangan tim, gelas tersebut mampu mempertahankan bentuk dan fungsinya ketika digunakan untuk minuman panas bersuhu sekitar 70–80 derajat Celsius selama 2–3 jam.

Sementara untuk minuman dingin bersuhu sekitar 5–10 derajat Celsius, daya tahannya dilaporkan dapat mencapai 4–6 jam.

Menyasar Coffee Shop hingga Konsumen Muda

SENGGACUP tidak hanya dikembangkan sebagai prototipe penelitian, tetapi juga diarahkan menjadi produk komersial.

Tim menggunakan dua skema pasar, yaitu Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Consumer (B2C).

Untuk pasar B2B, target SENGGACUP mencakup coffee shop, UMKM kuliner, hotel, restoran hingga penyelenggara acara yang membutuhkan alternatif kemasan ramah lingkungan.

Inovasi Gelas Edible

Sementara di pasar B2C, produk tersebut menyasar konsumen muda, terutama Generasi Z dan Milenial yang semakin memiliki perhatian terhadap isu lingkungan serta gaya hidup berkelanjutan.

Dalam pemetaan bisnis, tim menggunakan pendekatan Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), dan Serviceable Obtainable Market (SOM).

Pasar potensial nasional diperkirakan mencakup sekitar 5,28 juta unit usaha penyedia makanan dan minuman.

Angka tersebut kemudian dipersempit menjadi sekitar 15.000 pelaku usaha F&B di Kalimantan Barat, dengan fokus awal pada sekitar 1.035 coffee shop dan UMKM makanan-minuman di Kota Pontianak.

Produksi 1.800 Unit, Sebanyak 1.711 Terjual

Pengembangan SENGGACUP kemudian dilanjutkan ke tahap produksi dan pemasaran.

Tim menjalankan serangkaian proses research and development (R&D), mulai dari formulasi bahan, optimasi produk, pengujian aktivitas antioksidan hingga produksi akhir.

Selama pelaksanaan program, tim berhasil menghasilkan sebanyak 1.800 unit SENGGACUP.

IKLAN

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.711 unit berhasil terjual, atau sekitar 95,06 persen dari keseluruhan produksi.

Penjualan tersebut menghasilkan omzet sebesar Rp11.312.000.

Menariknya, mayoritas transaksi berasal dari skema paket atau bundling.

Sebanyak 1.330 unit atau sekitar 77,7 persen produk terjual melalui paket bundling, sementara 381 unit atau sekitar 22,3 persen lainnya berasal dari penjualan satuan.

Tren penjualan juga menunjukkan peningkatan sepanjang masa pelaksanaan program.

Penjualan yang pada minggu pertama tercatat sekitar 120 unit meningkat menjadi 681 unit pada minggu keenam.

Peningkatan tersebut berlangsung setelah tim memperkuat pemasaran melalui media sosial, direct selling, bazar serta perluasan jaringan kerja sama.

Pemasaran Dilakukan Secara Online dan Offline

Untuk memperkenalkan produknya, tim menerapkan strategi pemasaran omnichannel.

Pemasaran digital dilakukan melalui Instagram @senggacup.pkmk serta toko resmi di Shopee.

Sementara promosi secara langsung dilakukan melalui kegiatan Car Free Day, bazar kampus, workshop kewirausahaan, pameran ekonomi kreatif serta penjualan langsung kepada calon konsumen.

Hingga penyusunan laporan kemajuan program, akun Instagram SENGGACUP tercatat memiliki 1.071 pengikut, 42 unggahan, dan menghasilkan sekitar 38.790 tayangan atau impressions.

Konten yang disajikan tidak hanya berisi promosi produk. Tim juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi mengenai persoalan sampah plastik, proses penelitian dan pengembangan produk, legalitas usaha, proses produksi hingga informasi pemesanan.

Mulai Bangun Kemitraan dengan Pelaku Usaha

SENGGACUP juga mulai dikembangkan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak.

Tim tercatat melakukan komunikasi dan menjalin kemitraan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kubu Raya serta sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman, di antaranya Temu Sapa, Saca Coffee, RBK Cafe, dan Reposidi Coffee Shop.

Kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus memperoleh umpan balik langsung dari pelaku industri yang berpotensi menggunakan kemasan tersebut.

Tim juga memanfaatkan kegiatan promosi sebagai sarana untuk mengenalkan dampak penggunaan plastik sekali pakai dan pentingnya transisi menuju kemasan yang lebih berkelanjutan.

Sudah Memiliki NIB dan SPP-IRT

Selain pengembangan produk dan pemasaran, aspek legalitas usaha turut diperkuat.

Dalam pelaksanaan program, SENGGACUP telah memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) serta Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT).

Legalitas tersebut menjadi bagian penting sebelum produk dikembangkan menuju pasar yang lebih luas.

Dari sisi finansial, SENGGACUP dipasarkan dengan harga sekitar Rp7.000 per unit, sedangkan Harga Pokok Produksi (HPP) tercatat sekitar Rp4.167 per unit.

Dari penjualan sebanyak 1.711 unit, omzet yang diperoleh mencapai Rp11,312 juta dengan laba bersih operasional sekitar Rp4.182.263.

Analisis usaha juga menunjukkan titik impas atau Break Even Point (BEP) berada pada sekitar 593 unit, dengan nilai penjualan sekitar Rp4.151.000.

Angka tersebut memberikan gambaran awal mengenai potensi keekonomian produk apabila dikembangkan pada skala produksi yang lebih besar.

Dari Proyek Mahasiswa Menuju Usaha Berkelanjutan

Hingga tahap laporan kemajuan, pelaksanaan PKM-K SENGGACUP disebut telah mencapai sekitar 95 persen dari target luaran program.

Sejumlah luaran seperti katalog produk, media sosial dan laporan kemajuan telah diselesaikan, sementara penyusunan laporan akhir masih dilanjutkan.

Pengembangan berikutnya akan diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, penyempurnaan formulasi bahan, pengembangan variasi ukuran serta perluasan kerja sama dengan coffee shop, restoran, hotel, UMKM kuliner, penyelenggara acara dan berbagai institusi lain.

Tim juga berencana memperkuat pemasaran digital melalui media sosial, marketplace, kolaborasi bersama kreator konten dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.

Kehadiran SENGGACUP menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Melalui perpaduan bahan baku lokal, konsep kemasan edible, teknologi biodegradable dan model pemasaran yang mulai diuji kepada konsumen, gelas minuman tidak lagi hanya dipandang sebagai kemasan sekali pakai.

SENGGACUP membawa gagasan sederhana namun relevan: kemasan minuman masa depan dapat dirancang agar setelah digunakan tidak harus berakhir menjadi sampah plastik.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/senggacup-inovasi-gelas-edible-dari-mahasiswa-untan-yang-tawarkan-alternatif-kemasan-ramah-lingkungan/97588/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 21.38 WITA

  • #Inovasi Mahasiswa
  • #PKM-K
  • #Pontianak
  • #SENGGACUP
  • #Universitas Tanjungpura
  • #edible cup
  • #kemasan ramah lingkungan
  • #sampah plastik

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Sinergi Akademisi dan Pemerintah: Sekolah Vokasi IPB University Gelar Edukasi Gizi di Mulyaharja

HMI Cabang Pamekasan Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Lewat Program BAKTI CITA

Dosen UMI Bekali 30 Santri Tahfidz Pesantren Mizanul Ulum Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Digital

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

“In This Economy”: Mampukah Gen Z Menemukan Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian?

Kampus Ramah, Mahasiswa Aman: Dosen UPN Veteran Jatim Edukasi 200 Mahasiswa Baru tentang Pencegahan Kekerasan

Cegah Kanker Serviks, KESDM Gelar Vaksinasi HPV di PPSDM Migas Cepu, Diikuti 87 Peserta

Bisnis Anak Muda di Era Digital: Antara Tren Viral, Ambisi Cuan, dan Tantangan Bertahan

Pilihan Editor

  1. 1 Penguatan Instruktur, PPSDM Migas Gelar Sosialisasi Pejabat Fungsional
  2. 2

    Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

  3. 3

    Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

  4. 4

    Pegawai DLH Pamekasan Ikuti Pelatihan Pengambilan Sampel Air di PPSDM Migas

  5. 5

    Cuan Cepat di Layar Ponsel, Jangan Sampai Logika Ikut Tertinggal

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.