Pontianak, JurnalPost.com — Persoalan sampah plastik sekali pakai masih menjadi tantangan besar di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman. Dari persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) mencoba menghadirkan alternatif melalui pengembangan gelas yang dapat dikonsumsi sekaligus mudah terurai secara alami.
Inovasi tersebut diberi nama SENGGACUP, singkatan dari konsep Antioxidant Edible & Biodegradable Cup. Produk ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan memanfaatkan sejumlah bahan lokal Indonesia.
Tidak seperti gelas plastik konvensional yang biasanya langsung menjadi limbah setelah digunakan, SENGGACUP dirancang agar dapat dimakan. Apabila tidak dikonsumsi, material penyusunnya juga dikembangkan agar dapat terurai secara alami sehingga mendukung konsep zero-waste.
Memanfaatkan Ganyong, Porang hingga Buah Senggani
Dalam proses produksinya, tim mahasiswa Untan menggunakan tepung ganyong, glukomanan porang, agar rumput laut, ekstrak buah senggani (Melastoma malabathricum), serta beeswax berstandar pangan.
Masing-masing bahan memiliki fungsi berbeda dalam membentuk karakteristik produk.
Pati ganyong digunakan sebagai salah satu bahan pembentuk struktur utama. Glukomanan yang berasal dari porang berfungsi membantu meningkatkan elastisitas material, sementara agar rumput laut digunakan untuk memperkuat karakteristik mekanik gelas.
Ekstrak buah senggani kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan warna ungu alami sekaligus memberi nilai tambah berupa kandungan antioksidan.
Bagian permukaan gelas juga dilapisi beeswax food grade untuk membantu meningkatkan ketahanan terhadap air dan suhu minuman.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut menjadi salah satu cara tim menggabungkan potensi sumber daya lokal dengan pengembangan teknologi kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan.
Berawal dari Persoalan Sampah Plastik
Pengembangan SENGGACUP tidak terlepas dari tingginya penggunaan kemasan sekali pakai di sektor makanan dan minuman.
Dalam data yang digunakan sebagai dasar penyusunan proposal pengembangan produk, sampah plastik disebut mencapai sekitar 20,04 persen dari total timbulan sampah nasional. Sementara tingkat daur ulang plastik masih berada di bawah 10 persen.
Masalah serupa juga terlihat pada tingkat lokal. Sejumlah penelitian yang digunakan sebagai rujukan tim menunjukkan kedai minuman di Kota Pontianak menghasilkan limbah gelas plastik dalam jumlah cukup besar.
Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan kemasan yang tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, tetapi juga tetap dapat digunakan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.
Punya Aktivitas Antioksidan 93,90 Persen
Selain menawarkan aspek ramah lingkungan, SENGGACUP juga dikembangkan sebagai kemasan dengan nilai fungsional.
Penggunaan ekstrak buah senggani menjadi salah satu pembeda produk tersebut. Dalam pelaksanaan PKM-K, tim melakukan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH.
Hasil pengujian menunjukkan SENGGACUP memiliki aktivitas antioksidan sebesar 93,90 persen.
Capaian tersebut kemudian menjadi salah satu nilai diferensiasi produk dibandingkan sejumlah kemasan edible maupun biodegradable yang hanya berfokus pada fungsi wadah.
Secara fisik, SENGGACUP dikembangkan dalam ukuran sekitar 14 oz, dengan berat sekitar 30 hingga 40 gram dan ketebalan dinding berkisar 3 hingga 4 milimeter.
Berdasarkan hasil pengembangan tim, gelas tersebut mampu mempertahankan bentuk dan fungsinya ketika digunakan untuk minuman panas bersuhu sekitar 70–80 derajat Celsius selama 2–3 jam.
Sementara untuk minuman dingin bersuhu sekitar 5–10 derajat Celsius, daya tahannya dilaporkan dapat mencapai 4–6 jam.
Menyasar Coffee Shop hingga Konsumen Muda
SENGGACUP tidak hanya dikembangkan sebagai prototipe penelitian, tetapi juga diarahkan menjadi produk komersial.
Tim menggunakan dua skema pasar, yaitu Business-to-Business (B2B) dan Business-to-Consumer (B2C).
Untuk pasar B2B, target SENGGACUP mencakup coffee shop, UMKM kuliner, hotel, restoran hingga penyelenggara acara yang membutuhkan alternatif kemasan ramah lingkungan.

Sementara di pasar B2C, produk tersebut menyasar konsumen muda, terutama Generasi Z dan Milenial yang semakin memiliki perhatian terhadap isu lingkungan serta gaya hidup berkelanjutan.
Dalam pemetaan bisnis, tim menggunakan pendekatan Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), dan Serviceable Obtainable Market (SOM).
Pasar potensial nasional diperkirakan mencakup sekitar 5,28 juta unit usaha penyedia makanan dan minuman.
Angka tersebut kemudian dipersempit menjadi sekitar 15.000 pelaku usaha F&B di Kalimantan Barat, dengan fokus awal pada sekitar 1.035 coffee shop dan UMKM makanan-minuman di Kota Pontianak.
Produksi 1.800 Unit, Sebanyak 1.711 Terjual
Pengembangan SENGGACUP kemudian dilanjutkan ke tahap produksi dan pemasaran.
Tim menjalankan serangkaian proses research and development (R&D), mulai dari formulasi bahan, optimasi produk, pengujian aktivitas antioksidan hingga produksi akhir.
Selama pelaksanaan program, tim berhasil menghasilkan sebanyak 1.800 unit SENGGACUP.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.711 unit berhasil terjual, atau sekitar 95,06 persen dari keseluruhan produksi.
Penjualan tersebut menghasilkan omzet sebesar Rp11.312.000.
Menariknya, mayoritas transaksi berasal dari skema paket atau bundling.
Sebanyak 1.330 unit atau sekitar 77,7 persen produk terjual melalui paket bundling, sementara 381 unit atau sekitar 22,3 persen lainnya berasal dari penjualan satuan.
Tren penjualan juga menunjukkan peningkatan sepanjang masa pelaksanaan program.
Penjualan yang pada minggu pertama tercatat sekitar 120 unit meningkat menjadi 681 unit pada minggu keenam.
Peningkatan tersebut berlangsung setelah tim memperkuat pemasaran melalui media sosial, direct selling, bazar serta perluasan jaringan kerja sama.
Pemasaran Dilakukan Secara Online dan Offline
Untuk memperkenalkan produknya, tim menerapkan strategi pemasaran omnichannel.
Pemasaran digital dilakukan melalui Instagram @senggacup.pkmk serta toko resmi di Shopee.
Sementara promosi secara langsung dilakukan melalui kegiatan Car Free Day, bazar kampus, workshop kewirausahaan, pameran ekonomi kreatif serta penjualan langsung kepada calon konsumen.
Hingga penyusunan laporan kemajuan program, akun Instagram SENGGACUP tercatat memiliki 1.071 pengikut, 42 unggahan, dan menghasilkan sekitar 38.790 tayangan atau impressions.
Konten yang disajikan tidak hanya berisi promosi produk. Tim juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi mengenai persoalan sampah plastik, proses penelitian dan pengembangan produk, legalitas usaha, proses produksi hingga informasi pemesanan.
Mulai Bangun Kemitraan dengan Pelaku Usaha
SENGGACUP juga mulai dikembangkan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak.
Tim tercatat melakukan komunikasi dan menjalin kemitraan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kubu Raya serta sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman, di antaranya Temu Sapa, Saca Coffee, RBK Cafe, dan Reposidi Coffee Shop.
Kemitraan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus memperoleh umpan balik langsung dari pelaku industri yang berpotensi menggunakan kemasan tersebut.
Tim juga memanfaatkan kegiatan promosi sebagai sarana untuk mengenalkan dampak penggunaan plastik sekali pakai dan pentingnya transisi menuju kemasan yang lebih berkelanjutan.
Sudah Memiliki NIB dan SPP-IRT
Selain pengembangan produk dan pemasaran, aspek legalitas usaha turut diperkuat.
Dalam pelaksanaan program, SENGGACUP telah memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) serta Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT).
Legalitas tersebut menjadi bagian penting sebelum produk dikembangkan menuju pasar yang lebih luas.
Dari sisi finansial, SENGGACUP dipasarkan dengan harga sekitar Rp7.000 per unit, sedangkan Harga Pokok Produksi (HPP) tercatat sekitar Rp4.167 per unit.
Dari penjualan sebanyak 1.711 unit, omzet yang diperoleh mencapai Rp11,312 juta dengan laba bersih operasional sekitar Rp4.182.263.
Analisis usaha juga menunjukkan titik impas atau Break Even Point (BEP) berada pada sekitar 593 unit, dengan nilai penjualan sekitar Rp4.151.000.
Angka tersebut memberikan gambaran awal mengenai potensi keekonomian produk apabila dikembangkan pada skala produksi yang lebih besar.
Dari Proyek Mahasiswa Menuju Usaha Berkelanjutan
Hingga tahap laporan kemajuan, pelaksanaan PKM-K SENGGACUP disebut telah mencapai sekitar 95 persen dari target luaran program.
Sejumlah luaran seperti katalog produk, media sosial dan laporan kemajuan telah diselesaikan, sementara penyusunan laporan akhir masih dilanjutkan.
Pengembangan berikutnya akan diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, penyempurnaan formulasi bahan, pengembangan variasi ukuran serta perluasan kerja sama dengan coffee shop, restoran, hotel, UMKM kuliner, penyelenggara acara dan berbagai institusi lain.
Tim juga berencana memperkuat pemasaran digital melalui media sosial, marketplace, kolaborasi bersama kreator konten dan komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.
Kehadiran SENGGACUP menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi kewirausahaan di kalangan mahasiswa.
Melalui perpaduan bahan baku lokal, konsep kemasan edible, teknologi biodegradable dan model pemasaran yang mulai diuji kepada konsumen, gelas minuman tidak lagi hanya dipandang sebagai kemasan sekali pakai.
SENGGACUP membawa gagasan sederhana namun relevan: kemasan minuman masa depan dapat dirancang agar setelah digunakan tidak harus berakhir menjadi sampah plastik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda