Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Politik
  3. SEMAKIN dekatnya Pemilihan Umum Menjadi Potensi perpecahan Masyarakat akibat perbedaan pilihan politik

SEMAKIN dekatnya Pemilihan Umum Menjadi Potensi perpecahan Masyarakat akibat perbedaan pilihan politik

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
14 September 2018, 18.25 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
SEMAKIN dekatnya masa pemilihan umum menjadi potensi perpecahan masyarakat akibat perbedaan pilihan politik

Jakarta, Jurnalpost – SEMAKIN dekatnya masa pemilihan umum menjadi potensi perpecahan masyarakat akibat perbedaan pilihan politik.

Perbedaan yang terjadi sering menimbulkan gesekan-gesekan, baik ujaran kebencian, fitnah bahkan potensi gesekan fisik.

IKLAN

Polda Metro Jaya (PMJ) menyadari betul hal ini. Pada Kamis (13/9/2018), puluhan mitra Polri dari seluruh wilayah hukum PMJ dikumpulkan untuk mendapat pemaparan dalam kegiatan Pemberdayaan Bina Kamtibmas Dalam Budaya Kearifan Lokal Guna Mencegah Radikalisme Untuk Terwujudnya Keamanan di Wilayah Hukum Polda Metro Jaya di Puri Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pancasila  From Memorization to Practice
Baca Juga

Hafal Pancasila, Lupa Mengamalkan

Kegiatan silahturahmi Bina Kamtibmas diadakan menyikapi situasi kamtibmas di wilayah hukum Polda Metro Jaya, terutama menjelang tahun demokrasi.

Direktur Intelkam Polda Metro Jaya, Kombes Pol Dr Umar Effendi mengatakan, Bina kamtibmas merupakan salah satu bagian tugas Polri yang menjadi program unggulan dalam upaya pemeliharaan kamtibmas, pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Menurutnya, peran serta aktif masyarakat dalam bina kamtibmas diharapkan dapat mewujudkan mitra Polri dalam menciptakan kondisi aman dan tertib, yang harus dilakukan secara bersama antara Polri dan Masyarakat, dengan cara pemberdayaan masyarakat itu sendiri.

“Tujuannya supaya mampu mendeteksi gejala yang dapat menimbulkan konflik sosial di masyarakat dan mampu mendapatkan solusi untuk mengantisipasi permasalahan serta mampu memelihara keamanan dan ketertiban di lingkungannya secara bersama,” ujarnya.

Tanggapan Kriminolog: Kasus Penangkapan 2 Oknum Perwira Menengah TNI
Baca Juga

Tanggapan Kriminolog: Kasus Penangkapan 2 Oknum Perwira Menengah TNI

Konflik sosial akibat penggunaan isu sara di masyarakat menimbulkan dampak berbahaya dan bersifat jangka panjang.

Masyarakat akan mudah terbelah karena politik SARA, dampak ini sudah terlihat nyata dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang terjadi sampai saat ini.

Puluhan mitra Polri dari seluruh wilayah hukum Polda Metro Jaya dikumpulkan untuk mendapat pemaparan dalam kegiatan Pemberdayaan Bina Kamtibmas Dalam Budaya Kearifan Lokal Guna Mencegah Radikalisme Untuk Terwujudnya Keamanan di Wilayah Hukum Polda Metro Jaya di Puri Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis (13/9/2018).

Bina Kamtibmas dalam tugas pokoknya itu sendiri, menitikberatkan kepada peran serta aktif masyarakat dalam upaya memperkuat pencegahan dan deteksi dini khususnya permasalahan radikalisme.

Faktor Ekonomi Pengaruhi Angka Kasus penyalahgunaan Narkoba
Baca Juga

Faktor Ekonomi Pengaruhi Angka Kasus penyalahgunaan Narkoba

IKLAN

“Upaya pembinaan Kamtibmas kepada masyarakat dimaksudkan agar masyarakat turut serta membantu tugas Kepolisian yang mendasari kepada cipta kondisi aman dan tertib serta penangkalan terhadap radikalisme dengan budaya kearifan lokal di dalam masyarakat tersebut,” ungkapnya.

Intoleransi Kriminolog dan Dosen PTIK Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwi Laksana saat menjadi pembicara dalam kesempatan itu mengatakan, Indonesia adalah masyarakat majemuk dengan ragam budaya.

“Bangsa ini rawan untuk bubar. Bangsa ini terpisah-pisah ada puluhan ribu pulau. Menjaga keteraturan sosial harus dilakukan. Paling penting adanya jalinan komunikasi. Jadi, kalau ada masalah ada tempat untuk bersandar. Untuk curhat,” katanya.

Menjelang tahun demokrasi, menurutnya, sangat rentan terjadinya konflik sosial karena perbedaan cara pandang bahkan perbedaan dukungan politik.

Lemahnya kontrol akan hal itu menurutnya bisa menimbulkan munculnya sikap intoleransi yang bisa menjadi akar terjadinya kejahatan-kejahatan lain.

“Intoleran ini bisa disebabkan oleh luka batin atau kekecewaan sosial yang tidak tertangani atau karena terabaikan oleh institusi-institusi penyelenggara negara. Mereka akhirnya mencari penyaluran, legitimasi pada golongan-golongan primordial. Disitu tidak lagi rasional, melainkan lebih pada emosional dan spiritual,” terangnya.

Selanjutnya, bisa disebabkan pula oleh keterbatasan pengetahuan, kemiskinan atau oleh sistem-sistem yang sarat akan KKN sehingga kelompok-kelompok yang sakit hati yang tidak mampu bersaing aman mencari pelarian ke preman.

Intoleransi pada gilirannya akan menimbulkan kebencian hingga rasa saling tidak percaya, saling menyalahkan, membenturkan antara baik dan buruk, benar dan salah atau yang suci dengan dosa.

Apabila kebencian sudah memuncak, apapun yang dilakukan kelompok lawan dianggap salah, dianggap harus dilibas bahkan mungkin boleh dimatikan. Puncaknya, nanti ada hate spech atau hate crime yang itu pada dasarnya adalah konflik.”

“Yang perlu ditekankan. Dalam memerangi potensi-potensi konflik dari hate spech maupun hate crime tidak boleh ada labeling. Polisi di sini sebagai representatif negara yang harus melakukan tindakan proaktif, problem solving, kemitraan dan pencegahan terhadap potensi-potensi terjadinya intoleransi,” paparnya.

Namun, lebih dari itu, Brigjen Chryshnanda menekankan, kunci penanganan konflik, intoleransi dan radikalisme adalah dengan menjadi bangsa yang kuat, cerdas dan memiliki jati diri serta tidak mudah diprovokasi atau dibodohi dengan dalih apapun.

Pengisi materi selain dari internal Polda Metro Jaya diisi oleh Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Prof Dr Hamdi Muluk, Dir Binmas PMJ Kombes Pol Sambodo Purnomo Yugo dan sejumlah narasumber lain. (BTG)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/semakin-dekatnya-pemilihan-umum-menjadi-potensi-perpecahan-masyarakat-akibat-perbedaan-pilihan-politik/7609/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.10 WITA

  • #Intoleransi
  • #Kriminolog
  • #radikalisme

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Erick Komala Terima Penghargaan atas Dedikasi Memperkuat Toleransi dan Kebebasan Beribadah di Jawa Timur

Kongres X GPM Tetapkan Alit Kelakan sebagai Ketua Umum Periode 2026–2030

Kongres X GPM di TMII, Hasto Kristiyanto Tekankan Ideologi dan Kaderisasi

Pengawasan Pemilu Berbasis Gender: Mengapa Harus Ada Perempuan dalam Struktur Pengawas Pemilu?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Pilihan Editor

  1. 1 Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang
  2. 2

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  3. 3

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.