Ditulis oleh Eka Aprillia Putri
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang
JurnalPost.com - Bayangkan seorang manajer HRD pada Jumat sore. Lowongan untuk posisi staf layanan pelanggan baru dibuka empat hari, tetapi ratusan lamaran sudah masuk. Waktu semakin terbatas, atasan menunggu nama kandidat terpilih, sementara di antara tumpukan berkas terdapat satu pelamar yang tampak paling menonjol.
Ia merupakan lulusan perguruan tinggi ternama, mampu berbicara dengan baik, dan terlihat meyakinkan saat wawancara. Sekilas, hampir tidak ada alasan untuk tidak memilihnya.
Namun, apakah kandidat yang paling meyakinkan otomatis menjadi orang yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut?
Di titik inilah persoalan seleksi sumber daya manusia sering bermula. Perusahaan dituntut bergerak cepat mengisi posisi yang kosong, sementara jumlah pelamar yang besar membuat proses penyaringan semakin kompleks. Teknologi memang memungkinkan perusahaan menerima dan menyeleksi lamaran dengan lebih cepat, tetapi kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan ketepatan keputusan.
Menurut saya, seleksi tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai proses mencari seseorang untuk mengisi posisi kosong. Seleksi merupakan proses untuk memastikan bahwa kandidat yang dipilih memiliki kemampuan, karakteristik, dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.
Ketika perusahaan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, kesan pertama berisiko menggantikan penilaian yang seharusnya dilakukan secara lebih sistematis.
Ketika Kesan Pertama Menggeser Ukuran Objektif
Penilaian terhadap kandidat sangat mudah dipengaruhi oleh karakteristik yang tampak menonjol.
Wawancara yang berlangsung lancar dapat dianggap sebagai bukti kompetensi. Nama perguruan tinggi tertentu terkadang diperlakukan seolah menjadi jaminan kemampuan. Pengalaman kerja yang panjang pun sering dianggap cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang pasti sesuai dengan jabatan yang tersedia.
Padahal, kemampuan seseorang dalam menampilkan dirinya selama proses seleksi belum tentu sama dengan kemampuannya ketika benar-benar menjalankan pekerjaan.
Persoalan tersebut dapat dilihat dalam penelitian Jaelani dan Syaima (2024) pada CV Karyamekar Putera Sejahtera. Penelitian tersebut menemukan adanya kandidat yang belum siap bekerja karena minim pengalaman, ketidaksesuaian latar belakang dengan tugas jabatan, hingga karyawan baru yang hanya mampu bertahan dalam waktu singkat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekeliruan dalam menentukan kandidat dapat menimbulkan konsekuensi bagi perusahaan. Waktu, biaya, dan sumber daya yang telah digunakan dalam proses perekrutan dapat terbuang ketika perusahaan harus kembali melakukan penyesuaian bahkan membuka proses rekrutmen baru.
Karena itu, pertanyaan dalam proses seleksi seharusnya tidak berhenti pada, “Siapa kandidat yang terlihat paling bagus?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Siapa kandidat yang paling sesuai dengan pekerjaan yang tersedia?”
Perbedaan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat menentukan cara perusahaan menilai setiap calon karyawan.
Keputusan Seleksi Membutuhkan Dasar yang Jelas
Untuk menentukan kandidat yang sesuai, perusahaan terlebih dahulu perlu memahami pekerjaan yang akan diisi.
Tanggung jawab, kompetensi, keterampilan, hingga kualifikasi yang dibutuhkan dalam suatu jabatan harus menjadi dasar sebelum perusahaan menentukan siapa yang dianggap memenuhi persyaratan.
Di sinilah analisis jabatan memainkan peran penting.
Shafina dkk. (2026) menjelaskan bahwa analisis jabatan dapat menjadi dasar dalam menentukan kualifikasi pada proses rekrutmen. Uraian jabatan dan spesifikasi pekerjaan membantu perusahaan menyusun persyaratan berdasarkan kebutuhan nyata suatu posisi, bukan semata-mata berdasarkan karakteristik kandidat yang terlihat menarik.
Kajian tersebut memang bukan penelitian lapangan sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh organisasi atau perusahaan. Namun, gagasan dasarnya tetap relevan.
Bagaimana perusahaan dapat menemukan orang yang tepat apabila sejak awal perusahaan belum memiliki gambaran yang jelas mengenai orang seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan?
Persyaratan dalam lowongan pekerjaan juga perlu diperiksa secara kritis. Sebuah kualifikasi seharusnya dicantumkan karena memiliki hubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
Apabila suatu persyaratan tidak memiliki keterkaitan dengan tugas dan tanggung jawab jabatan, keberadaannya justru dapat menyingkirkan kandidat yang sebenarnya memiliki kemampuan sesuai.
Seleksi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk menemukan kesesuaian antara individu dengan pekerjaan, bukan sekadar memperpanjang daftar persyaratan.
Banyak Tahapan Belum Tentu Membuat Seleksi Lebih Tepat
Perusahaan juga perlu berhati-hati dalam menganggap banyaknya tahapan seleksi sebagai tanda bahwa proses yang dijalankan sudah berkualitas.
Tes tertulis, wawancara, asesmen kepribadian, maupun uji keterampilan memang dapat memberikan informasi mengenai kandidat dari berbagai sisi. Namun, banyaknya metode tidak akan banyak berarti apabila setiap kandidat tidak dinilai berdasarkan kriteria yang jelas dan konsisten.
Jaelani dan Syaima (2024) menemukan bahwa perusahaan yang mereka teliti menggunakan penilaian kepribadian, wawancara, serta tes pengetahuan dan keterampilan dalam proses seleksi.
Namun, belum tersedianya tes tertulis yang baku menyebabkan penilaian menjadi lebih sulit diseragamkan. Kondisi tersebut membuka kemungkinan munculnya subjektivitas dalam pengambilan keputusan.
Gambaran serupa terlihat dalam penelitian Islami dkk. (2023) terhadap 68 karyawan pada salah satu kantor cabang bank daerah di Tenggarong.
Penelitian tersebut menemukan bahwa seleksi memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan, sedangkan rekrutmen tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Penelitian ini memang memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada satu kantor cabang. Meski begitu, temuan mengenai pentingnya konsistensi dalam proses seleksi tetap menarik untuk diperhatikan.
Peneliti mencatat adanya pelamar dengan pendidikan SMA yang diterima meskipun persyaratan minimal yang telah ditentukan adalah diploma tiga.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa memiliki kriteria saja belum cukup. Kriteria juga harus benar-benar digunakan sebagai pedoman ketika menilai setiap kandidat.
Dengan demikian, kualitas seleksi tidak ditentukan oleh seberapa banyak tahap yang dimiliki perusahaan. Hal yang lebih penting adalah apakah setiap tahap mampu menghasilkan informasi yang relevan dan apakah informasi tersebut digunakan secara konsisten dalam pengambilan keputusan.
Keputusan Seleksi Memiliki Konsekuensi Jangka Panjang
Keputusan seleksi tidak berhenti ketika perusahaan mengumumkan nama kandidat yang diterima.
Bagi perusahaan, kandidat tersebut nantinya akan menjalankan pekerjaan, berinteraksi dengan tim, menghadapi pelanggan atau mitra, serta berkontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Bagi kandidat, keputusan seleksi juga dapat menentukan kesempatan kerja dan perjalanan kariernya.
Dzahabiyyah, Zunaidah, dan Farla (2022), melalui penelitian pada PT Muara Dua Palembang, menemukan adanya pengaruh positif antara proses rekrutmen dan seleksi terhadap kinerja karyawan. Penelitian tersebut juga menyarankan penggunaan tes psikologi sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam proses seleksi.
Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa penerapan metode seleksi tertentu secara otomatis akan menghasilkan karyawan dengan kinerja tinggi.
Kinerja seseorang setelah diterima bekerja tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti lingkungan kerja, kepemimpinan, pembagian tugas, budaya organisasi, sistem penghargaan, hingga proses pembinaan setelah karyawan bergabung.
Karena itu, seleksi yang baik bukanlah jaminan mutlak terhadap hasil akhir. Seleksi lebih tepat dipahami sebagai salah satu upaya perusahaan untuk memperbesar peluang terciptanya kesesuaian antara kandidat dan pekerjaan.
Ketepatan Lebih Penting daripada Sekadar Kecepatan
Kembali pada gambaran manajer HRD di Jumat sore tadi.
Kandidat yang tampak paling meyakinkan bisa saja memang menjadi pilihan yang tepat. Namun, keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan seharusnya tidak hanya didasarkan pada kesan pertama.
Perusahaan perlu menanyakan beberapa hal mendasar. Apakah pekerjaan yang akan diisi sudah dipahami dengan jelas? Apakah kriteria kandidat benar-benar berasal dari kebutuhan jabatan? Apakah seluruh pelamar dinilai menggunakan ukuran yang sama?
Perusahaan tentu boleh mengejar proses rekrutmen yang cepat. Dalam kondisi tertentu, kecepatan bahkan menjadi kebutuhan bisnis.
Namun, kecepatan tidak seharusnya mengorbankan ketepatan.
Mutu keputusan seleksi sebenarnya tidak baru ditentukan ketika nama kandidat diumumkan. Keputusan tersebut sudah mulai terbentuk sejak perusahaan menentukan apa yang dicari, bagaimana kandidat akan dinilai, hingga seberapa konsisten kriteria diterapkan kepada seluruh pelamar.
Pada akhirnya, seleksi yang tepat bukan sekadar tentang menemukan kandidat yang paling meyakinkan ketika wawancara.
Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa orang yang dipilih memang memiliki kesesuaian dengan pekerjaan dan bahwa keputusan tersebut dapat dijelaskan berdasarkan proses yang jelas, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda