JurnalPost.com - Ribuan pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia bertemu di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Sabtu, 9 Mei 2026 lalu, membawa serta hafalan, suara, dan semangat dakwah masing-masing. Di tengah persaingan 24 grup peserta babak penyisihan, tim Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) dari Unit Pengembangan Tilawatil Quran (UPTQ) UIN Sunan Gunung Djati Bandung berhasil menembus babak final dan pulang membawa gelar juara pada Musabaqah Funuun Islamiyah (MUFI) XII Nasional 2026.
MUFI XII merupakan kompetisi seni dan dakwah Islam berskala nasional yang digelar oleh Unit Pengembangan dan Kegiatan Mahasiswa (UPKM) Jam'iyyatud Diba'il wa Fannil Islami (JDFI) UIN Malang. Ajang ini mempertandingkan berbagai cabang, mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), MSQ, Muballigh Kecil Da'i (MKD), Pop Solo Islami, hingga Festival Al-Banjari, dengan sistem hybrid: penyisihan berlangsung secara daring dan final digelar langsung di kampus. Dari 24 grup yang bersaing di penyisihan, hanya 10 grup yang berhasil lolos ke panggung final.
Muhammad Amirul Arifuqin (22), Ketua Harian UPKM JDFI UIN Malang, menegaskan bahwa ajang ini melampaui sekadar kompetisi. "MUFI hadir sebagai ruang silaturahmi, pengembangan bakat, serta penguatan nilai-nilai Qur'ani melalui seni dan dakwah di kalangan generasi muda," kata Amirul, Senin 9 Mei 2026.
Tema yang diusung tahun ini, "Ketika Cinta Menjadi Dakwah, dan Dakwah Menjadi Jalan Cinta," menjadi benang merah yang mengikat seluruh cabang lomba dalam satu semangat. Kemenangan tim MSQ UPTQ UIN Bandung bukan jatuh dari langit. Persiapan tim mulai berjalan sejak 31 Maret 2026, sekitar enam pekan sebelum hari perlombaan. Rahman Hidayat (21) Ketua Bidang Syarhil Quran 2026, menjelaskan strategi yang tim jalankan mencakup empat pilar utama.
"Penguasaan materi atau isi teks, retorika termasuk ekspresi, intonasi, penguasaan panggung, kemudian kekompakan sesama tim," papar Rahman.
Proses latihan tidak selalu berjalan mulus. Rahman mengakui timnya menghadapi dua hambatan utama yang menyedot energi lebih dari yang terbayangkan di awal. "Kendala kami adalah mencari dan mengubah isi materi yang tepat dengan data yang valid, serta penyesuaian waktu latihan dengan waktu kuliah masing-masing anggota tim," ungkap Rahman.
Di sinilah kedisiplinan dan komunikasi antar anggota tim teruji, karena jadwal kuliah yang berbeda-beda memaksa mereka menyusun ulang waktu latihan berkali-kali hingga menemukan ritme yang bisa semua pihak jalani.
Ketika nama UPTQ UIN Bandung keluar sebagai juara, Rifqi Maulana Ihsan (22)Ketua Umum UPTQ UIN Sunan Gunung Djati Bandung, langsung memaknai momen itu sebagai titik berangkat. "Kemenangan bukanlah tujuan utama, melainkan kebermanfaatan, pengalaman, serta proses perjuangan yang menjadi nilai paling berharga," tutur Rifqi.
Rifqi juga menyampaikan harapannya agar pencapaian ini menjadi bahan bakar, bukan sekadar piala yang berdiri di lemari. "Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi keluarga besar UPTQ UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk terus berkembang, melahirkan kader-kader Qur'ani yang unggul, serta semakin aktif menghadirkan dakwah Al-Qur'an melalui ruang-ruang akademik, seni, dan pengabdian masyarakat," lanjut Rifqi. Ia mengarahkan pandangan ke depan: event nasional berikutnya, bahkan yang berskala lebih luas, sudah masuk dalam cakrawala target tim.
Kemenangan ini berdiri di atas kerja banyak tangan, bukan hanya milik para peserta yang berdiri di panggung final. Rifqi secara khusus menyebut kontribusi pihak kampus, bidang kemahasiswaan, para pembina, alumni, pengurus, dan seluruh kader UPTQ yang mendampingi proses dari jauh maupun dekat.
"Semoga setiap ikhtiar yang dilakukan menjadi amal kebaikan, menghadirkan keberkahan, serta menguatkan komitmen UPTQ untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi kampus, masyarakat, dan syiar Al-Qur'an di masa yang akan datang," pungkas Rifqi.
Penulis: Rafi Taufiqurrahman | Jurnalis Lepas
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda