
Oleh: Alysa Nurul Mufida & Niken Widi Astuti
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Di era modern saat ini, kesehatan mental merupakan hal utama yang sangat diperhatikan, terutama di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks. Menjaga kesehatan mental bukan hanya tentang bertahan dalam suatu tekanan, melainkan juga mengetahui kapan harus melindungi diri dan berhenti.
Menurut World Health Organization (WHO) yang tertera pada ITJEN KEMENDIKBUD, kesehatan mental merupakan keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari kemampuan dirinya, mampu mengelola stres, beradaptasi dengan baik, bekerja secara produktif, serta berkontribusi positif kepada lingkungan sekitar. Kesehatan mental dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Bukhor, (2006 dalam Putri, 2025), faktor internal berasal dari dalam diri seseorang seperti sifat, bakat, dan keturunan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang seperti lingkungan, keluarga, sosial budaya, dan agama.
Salah satu cara agar kesehatan mental tetap stabil adalah dengan berani berkata “tidak” untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun terdengar sederhana, kebiasaan ini memiliki dampak yang cukup besar terhadap kesehatan mental dan dapat mengurangi stres. Stres adalah fenomena universal yang dialami oleh setiap individu dalam berbagai tahap kehidupan. Dalam perspektif psikologi, stres dipandang sebagai interaksi kompleks antara faktor lingkungan, kondisi psikologis, dan respon biologis tubuh (Lazarus & Folkman, 1984, dalam Nursadrina et al., 2025).
Banyak orang merasa sulit untuk berkata “tidak” dan menolak permintaan orang lain hanya karena takut mengecewakan, takut dipandang buruk oleh orang lain, khawatir kehilangan hubungan dengan orang lain dan sering kali merasa bersalah jika tidak melakukannya. Tanpa disadari, sulit berkata “tidak” dapat membuat kita lelah secara mental, maka berani berkata “tidak” sebenarnya bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk self-care yang dibutuhkan untuk menjaga batasan diri agar tetap seimbang.
Self-care merupakan upaya yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhan dirinya secara emosional, fisik, maupun spiritual. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan self-care atau perawatan diri sebagai suatu aktivitas yang dilakukan individu, keluarga, dan komunitas dengan tujuan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, membatasi penyakit, serta memulihkan kesehatan.
Self-care bukan hanya tentang merawat diri saja, melainkan juga suatu kegiatan untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental, Contohnya adalah berani berkata “tidak”. Berani berkata “tidak” adalah tanda bahwa kita sadar akan nilai pada diri dan sebagai bukti bahwa kita peduli dengan kesejahteraan mental itu sendiri.
Lingkungan yang terus menerus menuntut kita untuk menjadi serba bisa dengan berbagai hal akan membuat kita tidak punya pilihan selain menuruti apa yang orang lain inginkan. Hal ini bukan hanya mengganggu kesehatan mental saja, melainkan secara perlahan akan membuat batasan diri semakin berkurang. Akibatnya, seseorang lebih memilih memaksakan diri demi menjaga perasaan orang lain dan membuat hidup yang dijalani seolah hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain saja.
Maka dari itu, dengan melakukan self-care dapat membantu kita belajar untuk menghargai diri sendiri dan memahami pentingnya keseimbangan antara kewajiban dan kebutuhan pribadi (Putri, 2025). Dengan self-care kita akan mampu memberikan yang terbaik kepada orang sekitar dan lingkungan. Lingkungan yang sehat, akan membuat kita merasa lebih baik dengan menghargai batasan yang ada. Batasan ini penting agar kita tidak kehabisan energi, waktu, dan tetap memiliki kesehatan mental yang stabil. Berani berkata “tidak” akan membuat kita lebih percaya diri pada pilihan yang ada dan memahami apa yang kita butuhkan.
Bagaimana cara berkata “Tidak”?
Pertama, menetapkan batasan diri, yaitu dengan mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang tidak menjadi kebutuhan atau pilihan. Batasan ini dapat menjaga keseimbangan diri dan memberi tahu orang lain seberapa jauh mereka harus menempatkan diri.
Kedua, mulailah bersikap tegas mengatakan apa yang kita inginkan. Setelah mengatakannya pada orang lain, kita bisa menyakinkan diri bahwa hal itu wajar dan tidak berprasangka negatif terhadap pandangan orang lain setelah kita mengatakan “tidak” atau memberi penolakan.
Ketiga, bersikap konsisten dan tidak plin-plan, artinya jika kita sudah menetapkan suatu keputusan, kita tidak akan mengubah suatu keputusan yang sudah dibuat. Bersikap konsisten akan membuat orang lain percaya pada batasan yang sudah kita tetapkan.
Jika menerapkan hal-hal tersebut, artinya kita telah menetapkan batasan yang sehat pada diri sendiri. Mulailah peduli dengan diri sendiri dari hal-hal kecil, karena menjaga batasan diri adalah bentuk cinta paling nyata untuk diri sendiri. Saat kita berani menetapkan batasan pada diri dan mengenali kebutuhan diri, itu berarti kita belajar memprioritaskan kesehatan mental kita. Bukan menjadi egois, tetapi mengerti apa yang kita butuhkan dan memberi ruang agar kondisi emosional kita tetap stabil dan mengajarkan lingkungan agar lebih peduli dengan batasan yang ada serta menghargai keputusan kita.
Referensi
Ningrum, D.K., & Ismawardi, A.M. (2025). Efektivitas algoritma kecerdasan buatan dalam implementasi kesehatan mental: Systematic literature review. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 9(1), 689-698. https://www.ejournal.itn.ac.id/jati/article/view/12457
Nursadrina, C., Rahmayanti, K., Sofia, M., Herawati, H., Asyura, S., & Pardi, P. (2025). Pengaruh stres terhadap kesehatan mental dan fisik: Tinjauan psikologi klinis. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 11(1), 701-705.
https://jurnal.uui.ac.id/index.php/JHTM/article/viewFile/5288/2597
Prasetiyo, W. (2023). Mengapa kita perlu berkata tidak & memberi batasan dalam hidup kita?: Sebuah cara menjadi bijaksana dalam memutuskan banyak hal. Anak Hebat Indonesia. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=AvTcEAAAQBAJ
Putri, A. I. E. (2025). Self care: Not just a trend, but a necessity for mental health. International Journal of Multidisciplinary Research, 1(3), 115-124.
https://ojssulthan.com/ijmr/article/view/405
Tankilevitch, P. (2020). Ilustrasi berkata tidak [Photograph]. Pexels. https://www.pexels.com/id-id/foto/ditulis-tangan-wanita-perempuan-kaum-wanita-4830653/





artikelnyaaa bermanfaat banget dan relate buat generasi sekarangg