• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Optimalisasi Penanganan Tomat untuk Menekan Food Loss di Pasar Tradisional

Editor Redaksi
25 November 2025
in Essay 

JurnalPost.com – Tomat (Solanum lycopersicum L.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tomat tidak hanya kaya akan likopen sebagai antioksidan alami, namun juga menjadi bahan pokok hampir setiap masakan Nusantara. Tomat memiliki tekstur yang lunak, kandungan air yang tinggi, dan laju respirasi yang cepat, sehingga menyebabkan buah ini mudah memar, pecah, dan cepat mengalami pembusukan jika tidak ditangani secara tepat. Buah klimaterik dengan sifat mudah rusak ini membuat tomat rentan mengalami kehilangan pascapanen (food loss) dalam jumlah yang besar, terutama dalam rantai pasok dari petani hingga konsumen di Pasar Tradisional.

Berbagai studi menunjukkan bahwa penanganan pada tahap panen dan transportasi adalah penyebab utama kerusakan mekanis, seperti memar dan retak yang memicu kerusakan mikrobiologis selama penyimpanan. Hal tersebut menjadi potensi yang mengakibatkan terjadinya food loss. Ketika proses distribusi dari petani ke pedagang, umumnya menggunakan keranjang kayu atau karung plastik tanpa perlindungan yang memadai terhadap guncangan dan benturan. Tumpukan tomat yang terlalu tinggi menyebabkan buah di bagian bawah mengalami tekanan berlebih hingga memar dan pecah. Pedagang pasar juga jarang melakukan sortasi atau pemisahan tomat berdasarkan tingkat kematangan dan kualitasnya. Tomat yang sudah busuk dibiarkan bercampur dengan tomat yang masih bagus, sehingga proses pembusukan menyebar dengan cepat. Hal ini terjadi karena buah yang membusuk melepaskan gas etilen dalam jumlah besar yang memicu pematangan dan pembusukan pada tomat lain di sekitarnya.

Food loss didefinisikan sebagai hilangnya produk pangan selama proses panen, penanganan pascapanen, dan distribusi sebelum mencapai tahap konsumsi. Food loss dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi para petani dan pedagang, selain itu juga berdampak pada aspek sosial, lingkungan, dan berimplikasi langsung terhadap keamanan pangan serta efisiensi sistem distribusi pangan secara keseluruhan. Saat ini, potensi food loss di Indonesia sangat besar dan terus bertambah seiring bertambahnya populasi. Data menunjukkan bahwa 20-30% tomat mengalami kerusakan sebelum sampai ketangan konsumen. Oleh karena itu, optimalisasi penanganan pascapanen yang efektif menjadi krusial untuk meminimalkan kerugian dan menjaga ketersediaan pangan di pasar tradisional.

Berikut 5 strategi yang dapat dilakukan dalam optimalisasi penanganan tomat untuk menekan food loss di pasar tradisional:

1. Penerapan Sistem Rantai Dingin Sederhana

Penggunaan cool box berbahan styrofoam dengan es batu dapat menurunkan suhu penyimpanan tomat hingga 10-15ºC. Selain itu, sistem pendinginan evaporatif yang memanfaatkan prinsip penguapan air dengan membuat rak penyimpanan yang dilapisi kain basah atau karung goni yang terus disiram air, dapat menurunkan suhu di sekitar tomat 5-10ºC. Teknologi ini sangat sederhana, murah, dan tidak memerlukan listrik, sehingga sangat cocok untuk pedagang tradisional.

2. Perbaikan Teknik Penanganan Fisik

Melakukan sortasi pada tomat untuk memisahkan tomat yang masih bagus dengan yang mulai lunak atau menunjukkan tanda-tanda kebusukan. Kemudian, penggunaan wadah plastik yang berlubang dengan alas kertas dapat mengurangi benturan dan luka mekanis yang dapat memicu kerusakan pada tomat.

3. Penerapan Teknologi Edible Coating

Edible coating merupakan salah satu teknologi sederhana yang dapat memperpanjang umur simpan tomat. Edible coating dapat dibuat dari bahan-bahan alami seperti pati singkong. Tomat cukup dicelupkan ke dalam larutan edible coating selama beberapa deting, kemudian ditiriskan dan dikeringkan. Lapisan ini akan menutup pori-pori kulit tomat sehingga mengurangi laju respirasi dan kehilangan air, sekaligus melindunginya dari pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.

4. Inovasi Sistem Pengemasan

Penggunaan tray atau nampan plastik berlubang memungkinkan sirkulasi udara tetap lancer sehingga menghambat pertumbuhan jamur. Kemasan aktif juga dapat diterapkan dengan menempatkan oxygen absorber yang dapat menyerap kelembapan berlebih dan mencegah kondensasi yang memicu terjadinya pembusukan. Pedagang juga dapat mengemas tomat dengan takaran tertentu untuk dapat langsung dibawa oleh konsumen. Kemasan ini tidak hanya melindungi tomat dari tumpukan-tumpukan namun juga memberikan kesan modern dan higienis yang disukai konsumen.

5. Optimalisasi Manajemen Stok

Pedagang perlu menerapkan sistem manajemen stok yang baik dengan prinsip First In First Out (FIFO) di mana tomat yang datang dahulu harus dijual terlebih dahulu. Pembelian tomat dari distributor sebaiknya disesuaikan dengan prediksi penjualan. Oleh karena itu, pedagang perlu memahami siklus pasokan dan permintaan untuk menghindari penumpukan stok yang berlebihan.

Optimalisasi penanganan tomat tidak hanya mengurangi food loss tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap keamanan pangan. Dengan penanganan yang baik, tomat tetap segar, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. Setiap bahan pangan yang diselamatkan dari pembusukan adalah kontribusi nyata terhadap keamanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan ekonomi. Saatnya kita semua, dari pedagang, konsumen, hingga pemerintah, bergerak Bersama mewujudkan sistem pangan yang lebih efisien, adil, dan berkelanjutan.

Penulis: Nayli Husni

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Editor Redaksi
9 Agustus 2026
0

Oleh: Lutfiani Dewi - Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com - Pernikahan seorang publik figur terutama pendakwah dan konten kreator, selalu...

Anemia

Anemia yang Sering Dihiraukan Remaja

Editor Redaksi
19 Mei 2026
0

Oleh: Amaylia Agri Kayla Saptanti JurnalPost.com - Banyak remaja sering merasa lelah, pusing, atau kurang semangat saat beraktivitas. Biasanya hal...

Kontaminasi Pangan

Kontaminasi Pangan Masih Jadi Ancaman, Cold Plasma Hadir sebagai Teknologi Sterilisasi Tanpa Panas

Editor Redaksi
18 Mei 2026
0

Teknologi cold plasma sebagai metode sterilisasi pangan non-termal (Sumber: Forward Fooding) Penulis: Najwati Fadiah Mahasiswa Prodi Ilmu Pangan, IPB University...

Wearable Device

Wearable Device dalam Membaca Bahasa Tubuh Berbasis Sains Data

Editor Redaksi
11 April 2026
0

Oleh: Arini Mayang Fauni Program Studi Sains Data, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta JurnalPost.com - Komunikasi...

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Editor Redaksi
10 April 2026
1

Sumber: Polina Tankilevitch/Pexels.com, 2020 Oleh: Alysa Nurul Mufida & Niken Widi Astuti Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara JurnalPost.com - Di era...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.