Oleh : Dewi Sunira
Email : [email protected]
JurnalPost.com – Sereh (Cymbopogon citratus) telah lama menjadi bagian penting dalam kuliner dan pengobatan tradisional Indonesia. Saat tren minuman kesehatan meningkat, sereh tampil sebagai bahan utama minuman fungsional karena kekayaan senyawa bioaktifnya, terutama citral, yang memberikan aroma lemon segar sekaligus manfaat kesehatan. Citral merupakan senyawa aldehida monoterpena yang tersusun atas dua isomer, yaitu geranial (citral A) dan neral (citral B). Kandungannya dapat mencapai 70-85% dari total minyak atsiri sereh, menjadikannya komponen volatil dominan dengan aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi (Gutiérrez-Pacheco et al., 2023). Khasiat inilah yang membuat minuman berbasis sereh memiliki nilai fungsional yang tinggi. Namun, citral memiliki satu kelemahan: tidak stabil. Senyawa ini mudah mengalami oksidasi, isomerisasi, dan degradasi ketika terpapar panas, cahaya, oksigen, atau ketika berinteraksi dengan komponen pangan seperti protein (Guo et al., 2022). Kondisi asam bahkan dapat mempercepat pembentukan senyawa turunan seperti citronellal dan geranic acid, yang menyebabkan aroma sereh melemah.
Tantangan ini membuat formulasi minuman sereh membutuhkan pendekatan teknologi pangan yang tepat. Untuk menjaga kualitas citral, teknologi seperti mikroenkapsulasi digunakan untuk melindungi citral dari panas dan oksidasi. Penelitian menunjukkan bahwa mikroenkapsulasi minyak sereh mampu mempertahankan stabilitas kimia citral sekaligus aktivitas antioksidannya jauh lebih baik daripada bentuk bebas (Melo et al., 2022). Teknik lain seperti nanoemulsi dan penggunaan fosfolipid terhidrogenasi juga terbukti menekan degradasi citral dalam kondisi pengolahan yang keras (Feng et al., 2024). Dari sisi keamanan konsumsi, citral dinilai aman dengan Acceptable Daily Intake (ADI) sebesar 0-0,5 mg/kg berat badan per hari menurut JECFA (FAO/WHO, 2004). BPOM RI juga mengizinkan citral sebagai flavouring agent selama digunakan sesuai prinsip GMP (BPOM RI, 2019). Sebagai rempah lokal yang kaya manfaat dan memiliki aroma khas, sereh menawarkan peluang besar bagi pengembangan minuman fungsional modern. Dengan dukungan teknologi pangan, citral dapat dipertahankan stabil sehingga produk minuman berbasis sereh tidak hanya lezat dan aromatik, tetapi juga fungsional dan berpotensi bersaing di pasar global.
Sumber kutipan:
Gutiérrez-Pacheco MM, Rangel-Méndez JR, López-Montesinos I, Hernández-Ochoa L, Paredes-López O, Calderón-Santoyo M. 2023. Mechanisms and applications of citral’s antimicrobial properties in food preservation and pharmaceutical formulations. Antibiotics. 12(11): 1608. DOI: 10.3390/antibiotics12111608
Guo J, Xu J, Chen J. 2022. Study on the interaction mechanism between soybean protein isolates and lemon flavor: isomerization and degradation of citral. Frontiers in Nutrition. 9: 929023. DOI: 10.3389/fnut.2022.929023
Melo AMD, da Silva MG, Soares T, Ferreira SO, Guimarães AG. 2022. Effect of microencapsulation on chemical composition and antimicrobial, antioxidant and cytotoxic properties of lemongrass essential oil. Food Technology and Biotechnology. 60(3): 386–395. DOI: 10.17113/ftb.60.03.22.7339
Feng Y, Zhang T, Liu X, Li M, Huang Q. 2024. Influence of hydrogenated phospholipids on the stability of citral under acidic conditions. Food Chemistry. 437: 137834. DOI: 10.1016/j.foodchem.2023.137834
FAO/WHO. 2004. JECFA evaluation of citral (FL-no: 05.017). Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives. Rome: FAO/WHO. (Tanpa DOI)
BPOM RI. 2019. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: BPOM RI.




