
Penulis:
Ikhwan Kunto Alfarisi
JurnalPost.com – Setiap manusia memiliki pelbagai permasalahan. Baik permasalahan pada dirinya sendiri maupun pada keluarga atau teman-temannya.
Begitulah ritme dinamika kehidupan manusia, sehari-harinya tak pernah kosong dari masalah. Selalu ada hal baru yang membutuhkan penyelesaian dan solusi pemecahan masalah.
Ketika terjadi permasalahan, kita sering mengalami kegelisahan atau kegundahan. Saat proses menghilangkan kegelisahan, manusia kerap kali mengalami dilematis kecerdasan emosi. Ada manusia yang memang sudah mahir dalam mengelola emosi, adapula yang masih menjadi awam. Dalam Islam, keterampilan ini sangat mungkin untuk kita latih.
Menurut penjelasan dari dr. Aisyah Dahlan, level emosi manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Nafsu-l-Lawwamah;
2) Nafsul Amarah;
3) Nafsul Muthmainnah.
Emosi yang ada pada bagian nafsu-l-lawwamah adalah apatis, sedih, dan takut. Kemudian, pada bagian nafsul amarah terdapat emosi berupa nafsu, marah, dan sombong. Sedangkan pada bagian nafsul muthmainnah, terdapat emosi positif yaitu semangat, menerima, damai, dan yang paling tertinggi adalah pencerahan.
Bagian pencerahan ini hanya bisa diperoleh pada saat manusia tekun untuk melakukan self healing dengan cara merutinkan ibadah seperti shalat, mengaji, tadabur al-Qur’an, puasa dan juga selalu mensupport diri di lingkungan yang mengkaji Islam untuk mempertebal keimanan. Manusia yang berada pada level nafsul muthmainnah, ia akan selalu mendapat ketenangan dalam mengambil keputusan dan bertindak. Hari-harinya selalu disinari oleh nur, cahaya keimanan yang membuatnya menjadi pribadi yang bersih dan cemerlang.
Rasulullah sebagai tauladan terbaik telah mewariskan pelajaran berharga bagi umatnya. Setiap insan yang merasa gelisah dan resah karena masalah, Beliau selalu menjadikan shalat dan sabar sebagai penolong. Kedua amalan ini mampu menjadi jembatan untuk melatih keseimbangan emosi dalam menghadapi masalah.
Selain itu, shalat dan sabar juga mampu memupuk rasa optimis serta aktivasi positif, Rasulullah sendiri sudah membuktikannya. Mengapa shalat dan mengapa harus sabar? Karena kedua hal ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan solusi dari Allah.
Shalat adalah puncak dari dari ibadah, sedangkan sabar dengan berpuasa dan menjauhkan diri dari maksiat juga merupakan bagian dari ikhtiar yang bisa menghadirkan ketenangan dan kemenangan. Setiap kalimat dzikir akan membuahkan ketenangan meskipun pada awalnya masalah yang dihadapi terlihat sangat rumit dan sulit, namun dengan terus menghidupkan hati melalui dzikir, ketenangan dalam mencari solusi akan jauh lebih mudah didapatkan.
Allah berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surat Al-Baqarah ayat 155)
Di dalam Adzan dan Iqamah disebutkan “…Hayya alassholah (mari kita mendirikan shalat) dan Hayya alal falah (mari kita mendapatkan kemenangan)..”
Dari lafaz Adzan dan Iqamah tersebut menegaskan bahwa umat Islam wajib mendirikan shalat dan mendapatkan kemenangan. Baik kemenangan urusan di dunia maupun di akhirat.
Apapun kegiatan kita, janganlah kita sampai lalai dalam mendirikan shalat (fardhu dan sunnah) dan juga kita menjadi pribadi yang mendapatkan kemenangan selagi kita berbuat profesional dan amanah tidak melanggar aturan hukum dalam aneka aktifitas kehidupan kita.
Penulis:
Ikhwan Kunto Alfarisi
(Jakarta, 1 Desember 2025)




