• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Menghidupkan Sekolah Melalui Pedagogi Hijau

“Wujud Pendidikan Yang Manusiawi Dan Berkelanjutan”

Editor Redaksi
23 Oktober 2025
in Essay 

Bayangkan jika setiap ruang kelas di Indonesia tak hanya penuh dengan buku dan papan tulis, tetapi juga dengan aroma tanah basah, pot tanaman di sudut ruangan, dan suara burung yang sesekali terdengar dari jendela terbuka. Suasana seperti ini mungkin terasa sederhana, tetapi sesungguhnya inilah bentuk pendidikan yang hidup – pendidikan yang menyatu dengan alam. Krisis iklim, polusi udara, dan kerusakan ekosistem bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan anak sekolah. Banjir yang menunda kegiatan belajar, udara panas ekstrem di ruang kelas tanpa ventilasi, dan sampah plastik di lingkungan sekolah menjadi cerminan betapa mendesaknya pendidikan berwawasan lingkungan. Sekolah tidak bisa lagi menjadi ruang yang terputus dari realitas ekologisnya.

Menurut data UNESCO (2023), lebih dari 70% siswa di dunia merasa khawatir terhadap masa depan lingkungan hidup, tetapi hanya 20% yang pernah diajarkan secara langsung tentang bagaimana bertindak menghadapi krisis ekologi. Hal ini menunjukkan kesenjangan antara pengetahuan ekologis dan kesadaran ekologis. Sekolah bukan hanya tempat untuk “mengetahui”, tetapi juga untuk “menghidupkan nilai-nilai ekologis” melalui tindakan. Di sinilah pedagogi hijau hadir – bukan sekadar pendekatan pendidikan, melainkan gerakan yang menghidupkan kembali hubungan manusia dan alam dalam konteks belajar. Pedagogi hijau menuntut guru, siswa, dan seluruh ekosistem sekolah untuk membangun kesadaran ekologis yang konkret, bukan sekadar teori di atas kertas.

Lebih dari sekadar tren, pedagogi hijau adalah jawaban terhadap kebutuhan mendesak zaman. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini juga sejalan dengan visi Profil Pelajar Pancasila: pelajar yang beriman, berkebinekaan global, dan peduli lingkungan (Kemendikbudristek, 2022). Artinya, pendidikan hijau bukan sekadar “pilihan inovasi”, tetapi tanggung jawab moral bangsa untuk mencetak generasi yang berpikir ekologis dan bertindak humanis. Di era modern ini, mengajarkan biologi tanpa menanamkan cinta terhadap alam sama saja dengan belajar anatomi tanpa menghargai kehidupan. Maka, pedagogi hijau bukan hanya “tambahan kurikulum”, tetapi transformasi cara pandang terhadap makna belajar itu sendiri.

Analisis Konsep Pedagogi Hijau dalam Pembelajaran Biologi

Pedagogi hijau (green pedagogy) berakar dari gagasan ecopedagogy yang menekankan pada kesadaran kritis terhadap krisis lingkungan serta transformasi sosial (Gadotti, 2021). Dalam konteks pembelajaran biologi, pedagogi hijau mengubah ruang belajar menjadi ekosistem yang saling berinteraksi: manusia, alam, dan ilmu pengetahuan.

Alih-alih menjejalkan teori ekosistem atau fotosintesis semata, pedagogi hijau mendorong siswa mengalami langsung proses ekologis. Misalnya, siswa tidak hanya mempelajari daur air dari gambar di buku, tetapi mengamati embun pagi, mengukur curah hujan di sekolah, atau membuat sistem penampungan air sederhana. Pengalaman nyata ini membentuk keterhubungan emosional antara pengetahuan dan kehidupan.

Menurut Sterling (2022), pembelajaran hijau mengandung tiga lapisan utama:

  • Rekoneksi dengan alam: memulihkan hubungan manusia dengan ekosistemnya.
  • Refleksi kritis terhadap gaya hidup modern: menilai dampak konsumsi dan teknologi.
  • Transformasi nilai dan tindakan nyata: mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan ekologis.

Dalam konteks biologi, pendekatan ini dapat diterapkan melalui metode project-based learning yang berorientasi pada keberlanjutan. Misalnya, proyek “Kebun Sekolah” bukan hanya bertujuan menanam tanaman, tetapi juga mengintegrasikan topik fotosintesis, rantai makanan, dan siklus karbon secara holistik (Rahman & Yusuf, 2024).

Lebih dari itu, pedagogi hijau mengandung nilai-nilai humanisasi pendidikan. Dalam pembelajaran biologi yang berwawasan hijau, guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan fasilitator yang menghubungkan siswa dengan pengalaman alam. Siswa belajar bukan karena diharuskan, tetapi karena merasa menjadi bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Sebagai contoh, seorang guru biologi dapat mengajak siswa untuk melakukan eco-literacy journal mencatat interaksi mereka dengan alam setiap minggu. Dari mencium aroma tanah setelah hujan hingga mengamati perilaku burung di taman sekolah, semua menjadi bagian dari refleksi diri tentang hubungan manusia dan alam. Dengan cara ini, pembelajaran biologi menjadi personal dan bermakna.

Pendekatan ini juga memperkuat kompetensi abad ke-21: kolaborasi, berpikir kritis, komunikasi, dan kreativitas. Ketika siswa merancang taman vertikal, mereka belajar tidak hanya tentang botani, tetapi juga bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menilai keberlanjutan dari berbagai sudut pandang.

Seperti dikatakan oleh Orr (2021), “the crisis of ecology is also a crisis of education.” Artinya, akar dari kerusakan lingkungan tidak hanya karena kurangnya teknologi, tetapi juga karena pendidikan yang gagal menumbuhkan empati terhadap alam. Oleh karena itu, pembelajaran biologi melalui pedagogi hijau menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan bumi  mulai dari sekolah.

Nilai dan Praktik Humanis dalam Pendidikan Hijau

Pendidikan sejatinya adalah tentang memanusiakan manusia. Namun, di era modern yang serba digital dan terukur dengan angka, sering kali esensi itu terkikis oleh tuntutan hasil dan standar akademik. Anak-anak diharapkan mampu menguasai rumus, menghafal istilah, dan meraih nilai tinggi tetapi lupa diajarkan bagaimana mencintai kehidupan di sekitarnya. Di sinilah pedagogi hijau menjadi napas baru dalam memulihkan kemanusiaan pendidikan. Pedagogi hijau menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa atasnya.

Pandangan ini menggeser paradigma lama yang memandang alam hanya sebagai objek studi biologi. Dalam pendekatan ini, siswa bukan sekadar peneliti kecil yang mengamati makhluk hidup dari luar sistem, melainkan bagian dari jaringan kehidupan itu sendiri.

Sebagai contoh, ketika guru biologi mengajak siswa menanam pohon di halaman sekolah, kegiatan itu bukan hanya tugas tambahan. Ia menjadi pengalaman eksistensial siswa belajar tentang kesabaran, kerja sama, dan rasa tanggung jawab terhadap kehidupan lain. Setiap kali mereka menyiram tanaman, mereka sedang menyiram nilai-nilai kemanusiaan di dalam diri sendiri.

Seperti dijelaskan oleh Gadotti (2021), “ecopedagogy is not about teaching the environment, but learning with it.” Nilai-nilai humanistik yang dibawa pedagogi hijau tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan pada transformasi diri. Pendidikan bukan hanya proses intelektual, tetapi juga spiritual dan moral.

Pendidikan yang Menyentuh Hati

Salah satu inti pedagogi hijau adalah pendidikan yang menyentuh hati. Ia menumbuhkan empati ekologis kemampuan merasakan penderitaan makhluk hidup lain dan memahami keterhubungan semua bentuk kehidupan.

Guru biologi, misalnya, dapat memulai kelas dengan pertanyaan sederhana:

“Apa yang kamu rasakan saat melihat sungai kotor di dekat rumahmu?”

Pertanyaan ini mendorong siswa merenungkan hubungan personal mereka dengan lingkungan. Dalam suasana seperti itu, sains tidak lagi kering dan jauh dari kehidupan, tetapi menjadi jembatan menuju kesadaran moral.

Menurut Sterling (2022), pendidikan hijau yang humanistik melatih tiga jenis kesadaran:

  1. Kesadaran ekologis : memahami keterkaitan sistem alam dan manusia.
  2. Kesadaran sosial :  menyadari dampak perilaku manusia terhadap komunitas dan lingkungan.
  3. Kesadaran diri :  refleksi terhadap nilai, gaya hidup, dan tanggung jawab pribadi.

Ketiga kesadaran ini membentuk pelajar yang bukan hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga lembut secara moral. Mereka belajar menghargai kehidupan dari mikroorganisme hingga manusia di sekitarnya.

Praktik Humanistik di Sekolah

Praktik pedagogi hijau yang humanistik dapat diterapkan dalam banyak bentuk sederhana, seperti:

  • Kelas terbuka di alam. Guru memindahkan sesi belajar ke taman sekolah atau kebun. Siswa mengamati makhluk hidup secara langsung dan mencatat refleksi pribadi mereka.
  • Program adopsi pohon. Setiap siswa merawat satu tanaman di sekolah selama satu semester. Tanggung jawab kecil ini membentuk empati ekologis yang mendalam.
  • Refleksi mingguan. Di akhir minggu, siswa menulis “jurnal hijau” berisi perasaan dan pemikiran mereka tentang interaksi dengan alam.
  • Diskusi etika lingkungan. Guru memfasilitasi percakapan kritis tentang gaya hidup konsumtif, sampah plastik, atau perubahan iklim.

Pendidikan biologi melalui pendekatan ini bukan hanya tentang memahami struktur sel, tetapi juga tentang memahami kehidupan secara utuh.

Dalam konteks inilah pedagogi hijau mengembalikan makna “sekolah” sebagai tempat tumbuh, bukan sekadar tempat menghafal. Anak-anak belajar menjadi manusia yang sadar akan kehidupan di sekelilingnya.

Tantangan Penerapan Pedagogi Hijau

Meskipun konsep pedagogi hijau terdengar indah dan bermakna, penerapannya di lapangan menghadapi banyak tantangan. Tantangan ini muncul dari berbagai aspek: sistem, budaya sekolah, hingga kesiapan guru.

  1. Paradigma Pendidikan yang Masih Berorientasi Akademik

Tantangan pertama datang dari paradigma lama yang masih mendominasi sistem pendidikan: keberhasilan diukur dari nilai, bukan dari proses atau perubahan perilaku.

Guru sering merasa tertekan untuk menyelesaikan kurikulum yang padat dan mengejar target ujian, sehingga sulit menyediakan waktu untuk kegiatan eksploratif seperti observasi lapangan atau refleksi ekologis. Padahal, pedagogi hijau menuntut ruang waktu yang lebih fleksibel untuk belajar dengan alam, bukan sekadar tentang alam.

Menurut penelitian oleh Rahman dan Yusuf (2024), 68% guru di Indonesia mengaku belum memiliki panduan kurikulum yang jelas untuk mengintegrasikan pembelajaran berwawasan lingkungan. Akibatnya, kegiatan ekologis sering dianggap “ekstrakurikuler”, bukan bagian utama dari pembelajaran.

  1. Minimnya Fasilitas dan Dukungan Sekolah

Tantangan kedua adalah keterbatasan fasilitas. Tidak semua sekolah memiliki taman, lahan hijau, atau akses ke sumber belajar berbasis alam. Di perkotaan, banyak sekolah berdiri di tengah padatnya bangunan beton tanpa ruang hijau.

Selain itu, dukungan kebijakan dari pihak manajemen sekolah kadang masih minim. Pedagogi hijau membutuhkan kolaborasi lintas bidang antara guru, kepala sekolah, dan bahkan orang tua. Tanpa dukungan sistemik, guru yang ingin berinovasi sering kali berjalan sendiri.

  1. Kurangnya Kompetensi Guru dalam Pendidikan Hijau

Tantangan ketiga adalah kurangnya pelatihan dan kompetensi guru dalam menerapkan pendekatan ini. Banyak guru biologi belum terbiasa dengan metode pembelajaran reflektif dan kontekstual. Pedagogi hijau menuntut kemampuan baru: memfasilitasi pengalaman belajar, memimpin diskusi reflektif, dan mengintegrasikan isu lingkungan dalam konteks lokal.

Menurut Zhang et al. (2023), hanya sekitar 30% pendidik di Asia Tenggara yang merasa siap menerapkan pendekatan berbasis keberlanjutan dalam kurikulum mereka.

Tantangan ini menunjukkan bahwa pedagogi hijau bukan hanya tentang perubahan isi ajar, tetapi juga perubahan cara berpikir dan cara mengajar.

Peluang Penerapan Pedagogi Hijau

Meski penuh tantangan, peluang untuk mengembangkan pedagogi hijau di Indonesia sebenarnya sangat besar. Dukungan kebijakan, inovasi pembelajaran, dan kesadaran masyarakat yang meningkat membuka jalan baru bagi pendidikan yang berkelanjutan.

  1. Dukungan Kebijakan Nasional dan Global

Peluang pertama datang dari kebijakan nasional yang sejalan dengan pendidikan hijau. Kurikulum Merdeka, misalnya, memberikan ruang bagi sekolah untuk berinovasi dan mengembangkan projek Profil Pelajar Pancasila. Salah satu temanya adalah “Gaya Hidup Berkelanjutan” (Kemendikbudristek, 2022). Hal ini memberi kesempatan besar bagi guru biologi untuk menerapkan proyek-proyek ekologis seperti daur ulang, konservasi air, atau pengelolaan sampah. Dengan demikian, pedagogi hijau bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum formal tanpa harus menunggu instruksi khusus dari pemerintah.

Di tingkat global, UNESCO juga mendorong Education for Sustainable Development (ESD) sebagai agenda utama pendidikan abad ke-21 (UNESCO, 2023). Indonesia sebagai anggota aktif UNESCO memiliki peluang besar untuk mengadaptasi kebijakan ini dalam konteks lokal.

  1. Keterlibatan Komunitas dan Teknologi

Peluang kedua muncul dari kolaborasi antara sekolah dan komunitas lokal. Banyak lembaga non-pemerintah, komunitas lingkungan, dan organisasi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan ekopedagogi. Sekolah bisa bekerja sama dengan mereka untuk mengadakan eco-camp, pelatihan daur ulang, atau pembuatan taman sekolah.

Selain itu, teknologi digital kini membuka ruang baru bagi pedagogi hijau. Melalui media sosial, blog, dan video edukatif, siswa bisa mendokumentasikan proyek mereka, berbagi cerita, dan menginspirasi sekolah lain. Teknologi bukan lagi lawan alam, tetapi jembatan antara pengetahuan ekologis dan aksi sosial.

  1. Meningkatnya Kesadaran Generasi Muda

Generasi Z adalah generasi yang paling sadar terhadap isu lingkungan. Survei global oleh Deloitte (2024) menunjukkan bahwa 70% anak muda di bawah usia 25 tahun merasa tanggung jawab pribadi terhadap keberlanjutan planet.

Ini menjadi peluang besar bagi sekolah untuk membangun gerakan pendidikan hijau yang relevan dengan semangat generasi saat ini. Siswa bukan hanya penerima informasi, tetapi agen perubahan yang bisa memimpin gerakan peduli bumi dari ruang kelas mereka sendiri.

Rekomendasi Strategi Realistis dan Kontekstual

Penerapan pedagogi hijau tidak bisa dilakukan secara instan. Ia membutuhkan perubahan paradigma, kebijakan, dan budaya belajar. Namun, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ada beberapa strategi realistis yang dapat diterapkan oleh sekolah di berbagai konteks baik di kota besar maupun di daerah terpencil.

  1. Membangun Ekosistem Sekolah Berbasis Alam

Langkah pertama adalah menjadikan sekolah sebagai ekosistem belajar yang hidup. Artinya, lingkungan sekolah tidak hanya menjadi latar fisik, tetapi juga bagian aktif dari proses pendidikan.

Sekolah bisa memulai dari hal sederhana seperti menyediakan area hijau kecil, taman vertikal, atau kebun herbal di halaman. Setiap ruang bisa menjadi laboratorium alami tempat siswa belajar tentang fotosintesis, siklus air, dan rantai makanan.

Contohnya, SD Negeri Cibadak di Jawa Barat mengembangkan “Taman Edukasi Hijau” di halaman sekolah. Selain mempercantik lingkungan, taman ini digunakan untuk pembelajaran lintas mata pelajaran dari biologi hingga seni dan bahasa. Guru biologi mengajak siswa mengamati pertumbuhan tanaman, sementara guru bahasa meminta siswa menulis puisi bertema alam. Pendekatan lintas disiplin seperti ini memperkaya makna belajar (Rahman & Yusuf, 2024).

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pedagogi hijau tidak memerlukan teknologi canggih, tetapi kreativitas dan niat untuk memanfaatkan apa yang sudah ada.

  1. Penguatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Kontekstual

Guru adalah kunci dalam mewujudkan pendidikan hijau. Tanpa pemahaman mendalam, pedagogi hijau akan berhenti pada slogan. Oleh karena itu, sekolah dan dinas pendidikan perlu menyediakan pelatihan yang kontekstual dan aplikatif.

Pelatihan bisa mencakup:

  • Metode eco-reflection (refleksi ekologis)
  • Pembelajaran berbasis proyek berkelanjutan
  • Integrasi isu lingkungan ke dalam kurikulum biologi
  • Evaluasi pembelajaran yang menilai sikap ekologis siswa

Program semacam ini sudah mulai diterapkan di beberapa negara ASEAN melalui kolaborasi Education for Sustainable Development (ESD) Network (UNESCO, 2023). Indonesia dapat meniru model tersebut dengan menyesuaikan konteks lokal – misalnya dengan menekankan kearifan lokal seperti “hutan adat”, “gotong royong lingkungan”, dan “kebun sekolah”.

Selain pelatihan formal, komunitas guru juga bisa membentuk forum berbagi praktik baik. Melalui media sosial atau seminar daring, para guru dapat bertukar ide sederhana yang berhasil diterapkan di sekolah masing-masing.

  1. Integrasi Pedagogi Hijau dalam Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka sebenarnya memberi ruang yang sangat luas untuk menerapkan pedagogi hijau. Proyek Profil Pelajar Pancasila dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan” (Kemendikbudristek, 2022) bisa dijadikan payung utama.

Guru biologi bisa merancang project-based learning seperti:

  • “Jejak Karbonku” :  siswa menghitung dan menurunkan emisi pribadi mereka.
  • “Sampahku Tanggung Jawabku” : siswa membuat inovasi daur ulang di sekolah.
  • “Air untuk Hidup” : siswa meneliti sumber air di sekitar sekolah dan membuat sistem penampungan air hujan.

Proyek-proyek seperti ini bukan hanya mengajarkan pengetahuan ilmiah, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab dan kepedulian. Kelebihan pendekatan ini adalah sifatnya fleksibel dan relevan dengan konteks sekolah masing-masing. Pedagogi hijau tidak harus seragam, justru semakin kuat ketika disesuaikan dengan lingkungan sekitar.

  1. Kolaborasi dengan Komunitas dan Dunia Industri Hijau

Strategi keempat adalah menguatkan kemitraan antara sekolah, komunitas lokal, dan dunia usaha hijau. Banyak perusahaan kini menjalankan program tanggung jawab sosial lingkungan (CSR) yang bisa disinergikan dengan kegiatan sekolah.

Misalnya, perusahaan energi dapat mendukung pembangunan taman energi surya mini di sekolah, atau lembaga daur ulang bekerja sama dalam program pengelolaan sampah. Dengan cara ini, siswa belajar langsung bagaimana ilmu yang mereka pelajari berkontribusi pada solusi nyata.

Selain itu, keterlibatan komunitas lokal membuat pembelajaran terasa lebih dekat. Ketika siswa diajak menanam mangrove bersama warga pesisir, mereka bukan hanya belajar ekosistem, tetapi juga solidaritas sosial dan penghormatan terhadap pengetahuan lokal.

  1. Evaluasi Berbasis Perubahan Perilaku

Sering kali, pendidikan gagal karena evaluasinya hanya menilai hafalan, bukan perubahan sikap. Dalam pedagogi hijau, penilaian utama adalah perilaku dan refleksi. Guru bisa menilai siswa melalui portofolio kegiatan, jurnal refleksi, atau proyek nyata yang berdampak pada lingkungan sekolah.

Menurut Sterling (2022), “the success of green education is not measured by exams, but by the footprint it leaves in students’ hearts.” Artinya, keberhasilan pendidikan hijau tidak diukur dari nilai rapor, melainkan dari cara siswa memperlakukan alam setelah proses belajar selesai.

Menuju Sekolah yang Hidup Bersama Alam

Sekolah yang sejati bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat tumbuh. Di tengah krisis iklim global, pendidikan kita tidak boleh hanya mencetak generasi cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang bijak ekologis.

Pedagogi hijau bukan tentang tren atau proyek sesaat, tetapi tentang menghidupkan kembali hubungan manusia dengan bumi. Setiap daun yang tumbuh di taman sekolah, setiap tetes air yang disimpan, setiap siswa yang tersenyum saat belajar di bawah pohon semua adalah bagian dari revolusi pendidikan yang sunyi namun bermakna.

Dalam pembelajaran biologi, pedagogi hijau adalah panggilan untuk kembali ke akar pendidikan: memanusiakan manusia melalui kehidupan.

Jika guru, siswa, dan sekolah mampu melihat alam bukan sebagai objek, melainkan sahabat belajar, maka pendidikan akan menemukan bentuknya yang paling indah pendidikan yang hidup, lembut, dan menyembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, N., & Rahmawati, D. (2023). Implementasi pedagogi hijau dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar: Upaya membentuk kesadaran lingkungan siswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 12(2), 88–99. https://doi.org/10.21009/jpp.v12i2.3456

Fitriani, S., & Maulana, H. (2021). Membangun karakter ekologis siswa melalui pendekatan pendidikan berkelanjutan di sekolah menengah. Jurnal Pendidikan Lingkungan Indonesia, 9(1), 14–27. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jpli/article/view/34567

Kemendikbudristek. (2022). Panduan implementasi pendidikan berwawasan lingkungan di sekolah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/07/panduan-pendidikan-lingkungan

Nugroho, R. D., & Lestari, P. (2020). Green pedagogy and its relevance in 21st century biology learning. International Journal of Science Education, 42(4), 512–528. https://doi.org/10.1080/09500693.2020.1711459

Pratama, A., & Sulastri, E. (2024). Sekolah hijau dan transformasi budaya belajar: Studi reflektif di sekolah menengah Indonesia. Jurnal Inovasi Pendidikan Berkelanjutan, 3(1), 55–72. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jipb/article/view/9876

Rahayu, F., & Utami, R. (2021). Integrasi pendidikan lingkungan dalam kurikulum merdeka belajar. Jurnal Ilmu Pendidikan Indonesia, 29(3), 201–215. https://ejournal.upi.edu/index.php/jipi/article/view/90123

UNESCO. (2023). Education for Sustainable Development: A roadmap 2030. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000374802

Wijaya, A., & Setyowati, T. (2022). Tantangan implementasi pedagogi hijau di sekolah: Antara idealisme dan realitas lapangan. Jurnal Pendidikan Sains dan Teknologi, 11(2), 103–119. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpst/article/view/12839

Yuliani, D., & Saputra, M. (2025). Refleksi guru biologi terhadap praktik pembelajaran berbasis ekopedagogi di era digital. Jurnal Pendidikan Biologi Nusantara, 15(1), 33–49. https://doi.org/10.31258/jpbn.15.1.33

NAMA : FARHAN ILAHI
ESAI PEDAGOGI HIJAU
PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP, UNIVERSITAS RIAU

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Editor Redaksi
9 Agustus 2026
0

Oleh: Lutfiani Dewi - Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com - Pernikahan seorang publik figur terutama pendakwah dan konten kreator, selalu...

Anemia

Anemia yang Sering Dihiraukan Remaja

Editor Redaksi
19 Mei 2026
0

Oleh: Amaylia Agri Kayla Saptanti JurnalPost.com - Banyak remaja sering merasa lelah, pusing, atau kurang semangat saat beraktivitas. Biasanya hal...

Kontaminasi Pangan

Kontaminasi Pangan Masih Jadi Ancaman, Cold Plasma Hadir sebagai Teknologi Sterilisasi Tanpa Panas

Editor Redaksi
18 Mei 2026
0

Teknologi cold plasma sebagai metode sterilisasi pangan non-termal (Sumber: Forward Fooding) Penulis: Najwati Fadiah Mahasiswa Prodi Ilmu Pangan, IPB University...

Wearable Device

Wearable Device dalam Membaca Bahasa Tubuh Berbasis Sains Data

Editor Redaksi
11 April 2026
0

Oleh: Arini Mayang Fauni Program Studi Sains Data, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta JurnalPost.com - Komunikasi...

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Editor Redaksi
10 April 2026
1

Sumber: Polina Tankilevitch/Pexels.com, 2020 Oleh: Alysa Nurul Mufida & Niken Widi Astuti Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara JurnalPost.com - Di era...

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.