• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kaitan Postmemory dengan Novel The Memory Police Karya Yoko Ogawa

Editor Redaksi
25 Juni 2025
in Essay 

1. Pendahuluan
Ingatan kolektif merupakan komponen penting dalam pembentukan identitas individu dan masyarakat. Namun, ketika ingatan dikontrol, dihapus, atau dilenyapkan, muncul suatu kekosongan yang tidak hanya merusak sejarah, tetapi juga mengganggu kesinambungan generasi. Dalam konteks ini, teori “postmemory” yang dikembangkan oleh Marianne Hirsch menjadi relevan untuk memahami dampak trauma masa lalu yang tidak dialami secara langsung, tetapi diwariskan melalui narasi, gambar, dan kebudayaan. Novel The Memory Police karya Yoko Ogawa menghadirkan dunia distopia di mana ingatan secara sistematis dihilangkan oleh kekuasaan otoriter. Melalui tokoh-tokohnya, Ogawa memperlihatkan bagaimana trauma dan kehilangan kolektif membentuk cara generasi berikutnya merespon dunia.

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara teori postmemory dan narasi dalam novel The Memory Police, dengan menyoroti bagaimana kehilangan ingatan kolektif memengaruhi hubungan antar generasi, identitas pribadi, dan resistensi terhadap kekuasaan yang represif.

Latar Belakang Teori Postmemory

Teori postmemory dikembangkan oleh Marianne Hirsch untuk menjelaskan bagaimana anak-anak dari generasi yang mengalami trauma (seperti Holocaust) dapat “mewarisi” ingatan dan penderitaan tersebut, meskipun mereka tidak mengalaminya secara langsung. Hirsch (1997) mendefinisikan postmemory sebagai “ingatan generasi kedua yang dibentuk oleh narasi, gambar, dan praktik budaya yang diturunkan oleh generasi sebelumnya.” Meskipun bersifat tidak langsung, postmemory memiliki daya emosional yang kuat dan mampu membentuk identitas serta pengalaman hidup generasi penerus.

Dalam konteks postmemory, trauma kolektif tidak berhenti pada generasi yang mengalaminya. Narasi-narasi yang diturunkan (secara lisan, tulisan, maupun simbolik) menanamkan rasa kehilangan, duka, atau keterasingan yang menjadi bagian dari identitas generasi berikutnya. Teori ini sangat relevan untuk memahami masyarakat yang mengalami represi, perang, atau penghapusan sejarah.

3. Analisis Novel The Memory Police Melalui Lensa Postmemory

The Memory Police menggambarkan masyarakat di sebuah pulau fiksi di mana objek, konsep, dan kenangan secara berkala “menghilang” dari kesadaran kolektif masyarakat. Penghilangan ini difasilitasi oleh otoritas represif bernama Memory Police. Ketika sesuatu menghilang, tidak hanya objek fisiknya yang hilang, tetapi juga semua kenangan dan keterkaitan emosional terhadapnya. Proses ini melibatkan paksaan untuk melupakan dan penghancuran bukti fisik.

Tokoh utama dalam novel, seorang penulis perempuan tanpa nama, mengalami dan menyaksikan proses pelupaan ini seumur hidupnya. Ia menyadari bahwa meski sebagian besar masyarakat menyerah pada penghapusan tersebut, ada sebagian kecil individu (seperti ibunya dan teman bernama R) yang masih mampu mengingat hal-hal yang sudah “dihapus”. Keberadaan mereka menjadi semacam perwujudan “postmemory” dalam dunia yang dikosongkan dari masa lalu.

a, Representasi Postmemory Melalui Tokoh Penulis

Sang penulis tidak bisa mengingat banyak hal yang telah dihapus, tetapi ia tetap menuliskannya. Tulisan menjadi bentuk resistensi terhadap proses pelupaan. Ia menulis cerita tentang seorang gadis yang kehilangan suaranya, lalu kehilangan identitas, lalu dilupakan. Cerita ini mencerminkan proses kehilangan yang dialami oleh masyarakat pulau tersebut.

Narasi penulis adalah manifestasi dari postmemory: ia tidak mengingat secara penuh, tetapi tetap menyampaikan rasa kehilangan, kehampaan, dan trauma yang diturunkan. Ia mewarisi trauma dari ibunya yang dahulu menyimpan benda-benda yang telah dilarang, seperti burung, parfum, dan foto masa kecil. Ibunya menjadi simbol generasi sebelumnya yang masih menyimpan ingatan dan berusaha menurunkannya kepada anaknya melalui benda-benda.

b. Ingatan sebagai Warisan dan Beban
Ingatan dalam novel ini ditampilkan sebagai sesuatu yang berbahaya. Orang yang masih mengingat (seperti R) harus disembunyikan, karena ingatannya mengancam kontrol negara. Ini menunjukkan bahwa dalam sistem represif, ingatan bukan hanya warisan, tetapi juga beban politik. Orang yang memiliki ingatan menjadi ancaman karena mampu menghubungkan masa kini dengan masa lalu.

Dalam konteks postmemory, ini menunjukkan bagaimana generasi penerus bisa merasa terbebani oleh ingatan kolektif yang diwariskan, dan bahkan merasa bersalah karena tidak mampu mengingat secara utuh. Namun, meski tanpa ingatan penuh, perasaan kehilangan dan kehampaan tetap hadir, menciptakan ruang bagi postmemory bekerja.

c. Kekosongan Identitas dan Postmemory
Karena banyak hal telah dilupakan, identitas masyarakat menjadi kabur. Tidak ada lagi referensi budaya, sejarah, atau kenangan bersama. Ini mencerminkan kondisi generasi postmemory yang hidup dalam bayang-bayang kehilangan. Mereka tidak bisa mengakses pengalaman masa lalu secara langsung, tetapi mengalami kekosongan yang diwariskan.

Tokoh R—yang masih memiliki ingatan—menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini. Ia menyimpan naskah tulisan sang penulis dan bersembunyi agar tidak ditangkap. Hubungan antara R dan tokoh utama memperlihatkan ketegangan antara mereka yang memiliki ingatan dan yang tidak. Namun, meski tokoh utama tidak mampu mengingat, ia tetap merasa bahwa sesuatu telah hilang. Inilah esensi dari postmemory: kesadaran akan hilangnya sesuatu yang penting meski tidak bisa diakses secara langsung.

4. Kesimpulan
Melalui novel The Memory Police, Yoko Ogawa menyajikan narasi yang kaya akan simbol kehilangan dan penghapusan ingatan, yang sangat sejalan dengan teori postmemory. Masyarakat dalam novel hidup dalam kekosongan memori, tetapi tetap menyisakan jejak trauma yang diwariskan secara simbolik dan emosional. Tokoh utama mewakili generasi yang tidak lagi mampu mengingat, tetapi tetap merasakan kehilangan sebagai bagian dari identitasnya.

Postmemory hadir dalam cara sang penulis menulis, dalam kenangan samar tentang ibunya, dan dalam hubungannya dengan R. Teori Hirsch tentang postmemory membantu kita memahami bahwa kehilangan kolektif bukan hanya soal apa yang tidak kita ingat, tetapi juga tentang bagaimana trauma dan kehampaan itu membentuk kehidupan generasi setelahnya.

Dalam konteks kontemporer, novel ini menjadi refleksi penting terhadap ancaman hilangnya sejarah, represi politik, dan pentingnya menjaga ingatan kolektif agar generasi mendatang tetap terhubung dengan akar kemanusiaannya.

Penulis : Siti Nur Aisyah
Program Studi Sastra Jepang
Universitas Andalas

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF
Sebelumnya

Sistem Pendidikan Inklusif yang Diimplementasikan oleh Kepala Sekolah Kobayashi dalam Novel Madogiwa no Totto-chan

Berikutnya

Berdebat dengan Akal, Bukan Emosi: Etika dalam Menyampaikan Argumen

Baca Juga

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Menakar Kecerdasan Emosional Netizen dalam Menanggapi Pernikahan Selebgram Kadam Sidik

Editor Redaksi
9 Agustus 2026
0

Oleh: Lutfiani Dewi - Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com - Pernikahan seorang publik figur terutama pendakwah dan konten kreator, selalu...

Anemia

Anemia yang Sering Dihiraukan Remaja

Editor Redaksi
19 Mei 2026
0

Oleh: Amaylia Agri Kayla Saptanti JurnalPost.com - Banyak remaja sering merasa lelah, pusing, atau kurang semangat saat beraktivitas. Biasanya hal...

Kontaminasi Pangan

Kontaminasi Pangan Masih Jadi Ancaman, Cold Plasma Hadir sebagai Teknologi Sterilisasi Tanpa Panas

Editor Redaksi
18 Mei 2026
0

Teknologi cold plasma sebagai metode sterilisasi pangan non-termal (Sumber: Forward Fooding) Penulis: Najwati Fadiah Mahasiswa Prodi Ilmu Pangan, IPB University...

Wearable Device

Wearable Device dalam Membaca Bahasa Tubuh Berbasis Sains Data

Editor Redaksi
11 April 2026
0

Oleh: Arini Mayang Fauni Program Studi Sains Data, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta JurnalPost.com - Komunikasi...

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Self-Care: Berani Berkata “Tidak” Itu Sehat

Editor Redaksi
10 April 2026
1

Sumber: Polina Tankilevitch/Pexels.com, 2020 Oleh: Alysa Nurul Mufida & Niken Widi Astuti Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara JurnalPost.com - Di era...

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.