JurnalPost.com – Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang sering kali terkait dengan gaya hidup dan stres. Hipertensi sendiri merupakan penyakit degenaratif yang biasanya diderita oleh lansia namun, tidak menutup kemungkinan usia muda tidak dapat mengalami hipertensi. Penyakit ini sering juga disebut sebagai silent disease, karena terkadang pasiennya tidak sadar dirinya mengalami hipertensi. Terapi farmakologisnya biasanya pasien selalu rutin meminum obat penurun tekanan darah, akan tetapi pemakaian obat secara terus menerus akan menimbulkan efek kimia dalam tubuh, nah maka dari itu pengobatan dapat ditempuh melalui terapi non farmakologi yaitu, Yoga. sebagai salah satu bentuk latihan fisik dan mental yang telah menarik perhatian sebagai potensi intervensi untuk mengurangi tekanan darah .
Apa itu hipertensi ?
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastoliknya lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Menurut World Health Organization (2014) penyakit kardiovaskular merupakan pembunuh nomor satu dunia untuk usia diatas 45 tahun dan akan diperkirakan 12 juta orang meninggal setiap tahunnya. Hipertensi secara global menyebabkan 7,6 juta kematian atau sekitar 12,8% dari total seluruh kematian.Hipertensi menyebabkan stroke, retinopati kebutaan, penyakit jantung koroner untuk gagal jantung, gagal ginjal kronis, gagal ginjal terminal dan masih banyak lagi. Apabila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai penyakit ini dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur maupun kelompok sosial ekonomi.
Penyebab Hipertensi
Hipertensi sendiri dibedakan menjadi dua jenis :
1. Hipertensi primer
Jenis hipertensi ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Walau demikian, ada beberapa faktor pemicu dari hipertensi primer, seperti riwayat keluarga atau genetik, gaya hidup tidak sehat, obesitas, dan lain-lain.
2. Hipertensi sekunder
Penyebab hipertensi sekunder diakibatkan oleh kondisi medis tertentu. Salah satu penyakit yang cukup berkaitan dengan hipertensi sekunder yaitu penyakit ginjal. Selain itu, hipertensi sekunder juga bisa disebabkan beberapa kondisi lain, di antaranya:
– Sindrom Conn’s atau produksi hormon aldosteron berlebih.
– Sindrom cushing atau produksi hormon kortisol berlebih.
– Tumor kelenjar adrenal.
– Obstructive sleep apnea.
– Koarktasio aorta.
– Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti pil KB, dekongestan, dan lain sebagainya.
Pengobatan pada hipertensi.
Hipertensi dapat diobat dengan cara mengkonsumsi obat-obatan penurun tekanan darah, pengaturan pola makan, olahraga, mengurangi stress, menghindari alcohol, dan tidak merokok . Hipertensi juga dapat diobati menggunakan terapi yang berbentuk meditasi berupa yoga.
Meditasi didalamnya mengandung unsur penerangan diri yang dapat menstabilkan tekanan darah sehingga meditasi dianggap sebagai metode penyembuhan yang sangat efektif bagi penderita Hipertensi. Yoga merupakan terapi yang mengkombinasikan antara teknik bernapas, relaksasi dan meditasi serta Latihan peregangan.
Manfaat yoga secara umum yaitu.
1. meningkatkan kekuatan
2. meningkatkan kelenturan
3. melatih keseimbangan
4. mengurangi nyeri
5. melatih pernapasan
6. melancarkan fungsi organ
7. ketenangan batin
8. meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan.
Nah, mengapa yoga ? berikut penjelasannya.
Yoga adalah keterampilan spiritual mengolah fisik dan jiwa karena gerakannya dapat menyeimbangkan energi dan memberi kenyamanan tubuh bahkan dapat juga meremajakan sel- sel kulit mati. Yoga sendiri juga dapat mengkombinasikan antara teknik bernapas, relaksasi, meditasi serta latihan peregangan . Olahraga tersebut juga merupakan alat modifikasi gaya hidup terbaik untuk pencegahan penyakit kardiovaskular karena mengandung unsur meditasi, dapat juga digunakan sebagai terapi tambahan yang efektif untuk pencegahan hipertensi karena dapat merubah gaya hidup menjadi positif . Yoga sendiri juga merupakan kombinasi dari latihan fisik terstruktur, teknik pernapasan, meditasi, dan terbukti secara positif mempengaruhi fungsi otonom jantung. Telah terbukti mengurangi gejala depresi dan kecemasan serta menghasilkan peningkatan kualitas hidup (Field, 2016).
Olahraga seperti ini mampu mendorong jantung bekerja secara optimal, dimana gerakannya mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ tubuh, dimana akibatnya dapat meningkatkan aliran balik vena sehingga menyebabkan volume sekuncup yang akan langsung meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri meningkat, setelah tekanan darah arteri meningkat akan terlebih dahulu, dampak dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan otot rangka yang menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun, setelah itu akan menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup menurun, vasodilatasi arteriol vena, akibat penurunan ini mengakibatkan turunnya curah jantung dan penurunan resistensi perifer total, sehingga terjadilah penurunan tekanan darah . Senam yoga juga menstimulasi pengeluaran hormon endorfin.
Endorfin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relaks/tenang. Endofrn dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak dan dapat melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorfin dalamtubuh untuk mengurangi tekanan darah tinggi. Olahraga ini terbukti dapat meningkatkan kadar endorfin empat sampai lima kali dalam darah. Sehingga, semakin banyak melakukan olahraga maka akan semakin tinggi pula kadar b-endorfin. Ketika seseorang melakukan senam, maka b-endorfin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi. Peningkatan b-endorfin terbukti berhubungan erat dengan proses penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan, maka dari itu yoga efektif untuk pasien yang menderita hipertensi ringan.
Oleh: Anja Salsabila Amaliana
FK UIN Jakarta




