JurnalPost.com – Program studi Etnomusikologi ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta kembali menggelar pertunjukan musik. Pertunjukan kali ini menawarkan pengalaman pertunjukkan yang berbeda. Pertunjukan bertajuk ‘Senandung Timang Kasih Sayang’, mencoba merawat melestarikan serta menjaga eksistensi kebudayaan serta kesenian, khususnya pada unsur bunyi-bunyian daerah sebagai “gemuruh lokalitas” yang ada tersebar di wilayah Indonesia.
Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang rutin mengadakan gelaran sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. Gelaran pertunjukan ‘Gemuruh Lokalitas’ yang ke-6 ini berlangsung dan bertempat di Gedung Mini Concert Hall Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta pada Rabu malam (15/11/2023).
Sajian Utama Musik Etnis
Peragaan pentas teater bertempat di sudut lorong pintu masuk Jurusan Etnomusikologi, dan muzak atau musik latar dari Instrumen Gendér Jawa menjadi menu sajian kesenian pengantar bagi para penonton yang akan memasuki venue gedung tempat acara berlangsung.
Acara utama gelaran malam itu adalah pertunjukan musik yang dimeriahkan dengan pementasan karya musik etnis dari 5 daerah di Indonesia, antara lain dari Sulawesi (Fuang Sompa), Melayu (Buai Anak), Minang (Nan Babuai), Kalimantan (Jejak Timangan) dan Jawa (Tilemipun Putra Pangeran).
Setiap kelompok musik mementaskan karya musik etnis dengan ekspresi gaya musikal dari daerah etnis mereka masing-masing yang mana ide musikal yang muncul merupakan interpretasi dari tema acara “Senandung Timang Kasih Sayang”.
Selain itu, dari beberapa grup musik yang melakukan pementasan, beberapa personil diantaranya merupakan ‘pemilik kebudayaan etnik’, sebagai penutur asli kesenian daerah.
Dengan tajuk “Senandung Timang Kasih Sayang”, acara ini dimaksudkan untuk melestarikan, merawat dan menjaga kebudayaan bunyi daerah yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, lagu pengantar tidur yang diperuntukkan kepada anak-anak menjadi perhatian khusus.
Menurut Yofan, ketua pelaksana acara, gelaran ini terinspirasi dari situasi kondisi terkini di tanah air, yang jarang ditemui lagu lagu daerah di Indonesia menjadi tembang penimang anak, pengantar tidur anak-anak.
“Itu berangkat dari keresahan kami dimana pada zaman sekarang ini sudah jarang ditemukan orang-orang tua yang menimang anaknya dengan lagu penghantar tidur dari daerahnya masing-masing” papar Yofan.
Kebebasan untuk berkarya menjadi pemantik dan stimulus bagi mahasiswa yang nantinya diharapkan dapat menjaga, merawat, dan menjaga bunyi-bunyian lokalitas yang ada di Indonesia tanpa menghilangkan unsur dari kebudayaan. “Dengan tema senandung timang ini, kami memberikan suatu wadah mahasiswa untuk berkarya”, papar Yofan.
Menurut Yofan, para penampil antusias menyambut gelaran. “Bahkan ada juga penampil yang membuat komposisi karya lagu penghantar tidur sendiri yang terinspirasi dari lagu tidur yang kerap dinyanyikan neneknya” ungkap Yofan.
Wadah Berekspresi
Selain wadah berekspresi, ‘Gemuruh Lokalitas’ sendiri juga dapat menjadi ajang mahasiswa baru untuk mengasah keterampilan bagaimana mengelola acara dengan baik, yang dalam hal ini adalah produksi pertunjukan.
Dengan adanya gelaran pertunjukan ‘Gemuruh Lokalitas’ yang ke-6 ini, diharapkan kedepannya generasi muda, khususnya Gen Z terinspirasi untuk ikut merawat, melestarikan, dan menjaga kebudayaan bunyi-bunyi lokalitas yang tersebar di Indonesia. Bunyi bunyian lokal yang merupakan bagian dari kekayaan intelektual serta cerminan identitas dari keragaman bangsa di Indonesia.
Penulis Kontributor: Raihan Jelang Ramadhan, Mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta




