
JurnalPost.com – Siapa yang tak kenal branding Kota Kediri, pastinya kalian sudah banyak yang kenal kan. Brand Kota Kediri ialah “Harmoni Kediri, The Service City”, yang dikenalkan oleh Walikota Kediri, Abdulah Abu Bakar sejak bulan maret tahun 2016. Menggantikan brand kota Kediri sebelumnya “Kediri Bersemi”, kepanjangan dari bersih, sehat, menarik dan indah.
Namun apakah pergantian brand ini sudah tepat dan berdampak baik bagi Kota Kediri?
City branding diyakini memiliki kekuatan untuk merubah persepsi sesorang terhadap suatu kota, bertujuan untuk melihat perbedaan potensi suatu kota dengan kota lainnya. Penilaian keberhasilan implementasi branding Kota Kediri dapat dinilai dengan model penilaian tiga dimensional branding kota dari (Lucarelli, 2012: 240). Pertama brand identity, merupakan representasi dari berbagai hal yang membuat suatu kota menjadi unik. Kedua brand Image, yakni persepsi yang dipikirkan oleh setiap individu mengenai kota tersebut. Ketiga brand positioning, merupakan identifikasi segmen pasar yang menonjol dari suatu kota.
Nah, bagaimana hasil implementasi branding Kota Kediri yang dinilai menggunakan model penilaian tiga dimensional branding kota. Hasilnya akan saya jabarkan dalam penjelasan dibawah ini.
Brand identity dari Kota Kediri yang membuatnya unik adalah taman kota. Ada 3 taman kota yang menjadi ikon bagi Kota kediri, yaitu Taman Sekartaji, Taman Hutan Joyoboyo dan Taman Harmoni. Selain itu konsistensi Kota Kediri dalam membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin nyata dengan “Program satu kelurahan satu RTH” yang dimana saat ini telah ada 26 RTH yang dibangun dari total 46 kelurahan. Brand identity taman kota ini dinilai berhasil dengan dibangunnya Taman Harmoni, yang merupakan taman terbesar di Kota Kediri dengan luas sekitar 5,5 hektar. Berlokasi di dekat Sungai Brantas, dimana sungai tersebut juga tergambar pada logo harmoni Kediri.
Brand image Kota Kediri yang dilihat oleh warga selama ini bercitra positif. Dengan berfokus pada bidang pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial dan jasa. Pada bidang jasa misalnya, Kota Kediri telah menghadirkan Mal Pelayanan Publik (MPP) yang menggabungkan 11 instansi pelayanan dalam satu gedung. Pada bidang sosial diluncurkan Kartu Harmoni Sejahtera (KHS), untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kemudian pada bidang pendidikan disediakan beasiswa, dan universal health coverage pada bidang kesehatan. Selain itu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan visi Kota Kediri sebagai The Service City telah selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo karena sistem pelayanan yang melayani.
Brand positioning kota jasa dan perdagangan sangat menempel erat dengan kota Kediri, dengan perluasan pasar grosir buah dan sayur Ngronggo. Diharapkan pasar grosir ini bisa memperluas perdagangannya sampai ke Indonesia timur. Kemudian ada Bandara Dhoho Kediri merupakan salah satu proyek bandara yang dibangun dengan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dimana dibangun olah PT Gudang Garam, melalui anak perusahaannya PT Surya Dhoho Investama. Pembangunan ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi pihak swasta yang lain. Serta capaian realisasi investasi Kota Kediri sebesar Rp 2,355 triliun. Jumlah ini berada di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yakni Rp 722 miliar dengan prosentase capaian sebesar 326,45 persen. Sehingga jelas brand positioning Kota Kediri sudah tercapai.
Penggantian branding Kota Kediri merupakan keputusan yang tepat jika dilihat dari tiga dimensi branding tersebut. Menjadikannya kota yang melayani dengan harmoni.

Oleh: Bayu Wicaksono Widodo (2020-179), Mahasiswa Akuntansi UMM.




