
Oleh: Febi Febrianur, Universitas pamulang
JurnalPost.com – Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terletak di antara dua benua, yaitu benua Asia dan Benua Australia serta diapit oleh dua samudra, yaitu samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Selain itu, Indonesia adalah negara kepulauan tropis, yang memiliki iklim panas dan lembab karena dilalui oleh garis khatulistiwa.
Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu di Indonesia rata-rata sekitar 28°C di wilayah pesisir, 26°C di daerah pedalaman, dan sekitar 23°C untuk wilayah dataran yang lebih tinggi.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir Indonesia menghadapi perubahan iklim yang meningkatkan suhu dan kondisi cuaca. Suhu di beberapa wilayah Indonesia hampir mencapai 40°C. Penyebabnya adalah menguatnya fenomena El Nino yang mempercepat perubahan iklim di Indonesia.

El Nino adalah fenomena alam yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, yang ditandai dengan pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normal. Fenomena ini dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik, mengurangi curah hujan di Indonesia, dan menyebabkan kondisi kekeringan serta cuaca panas di sebagian wilayah Indonesia.
El Nino memiliki dampak yang signifikan terhadap Indonesia, di antaranya:
1. Mengurangi pembentukan awan dan curah hujan di wilayah Indonesia, sehingga dapat menyebabkan kekeringan dan kekurangan air bersih.
2. Mengurangi produktivitas pertanian dan menyebabkan gagal panen.
3. Meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
4. Mempengaruhi kesehatan manusia melalui penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah dan malaria.
5. Memperburuk kondisi polusi udara dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Dalam menghadapi El Nino, perlu dilakukan tindakan kolektif dan kebijakan yang bijak. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya mitigasi, untuk meminimalkan dampak El Nino terhadap Indonesia di antaranya:
1. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla): Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mempersiapkan langkah-langkah pencegahan karhutla dan kekeringan, termasuk pelaksanaan apel kesiapsiagaan dan kunjungan daerah, dukungan operasi darat berupa logistik dan perlengkapan.
2. Pemetaan persoalan secara komprehensif: Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk melakukan pemetaan secara komprehensif persoalan yang terkait dengan dampak fenomena El Nino di tanah air, mulai dari kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan.
3. Fokus pada strategi tersedianya air: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengidentifikasi sumber-sumber air untuk menyuplai air terutama untuk lahan pertanian.
4. Peningkatan infrastruktur perawatan kesehatan: Dalam menghadapi dampak El Nino terhadap kesehatan manusia, perlu dilakukan peningkatan infrastruktur perawatan kesehatan yang tahan terhadap dampak El Nino dan peristiwa terkait iklim lainnya.
Selain itu, masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dalam menghadapi El Nino dengan melakukan langkah-langkah mitigasi diantaranya sebagai berikut:
1. Menghemat penggunaan air
2. Menjaga kebersihan lingkungan
3. Menjaga kesehatan serta memperbanyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi
4. Mengikuti himbauan pemerintah
5. Menjaga kelestarian lingkungan dengan cara menanam pohon dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil
6. Mengikuti pelatihan mitigasi bencana terkait El Nino
Perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang akan terjadi di masa depan; itu sedang terjadi sekarang, dan Indonesia merasakannya dengan cepat. Penting bagi semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan ini. Memanas dengan cepat adalah kenyataan yang harus dihadapi, dan tindakan tegas diperlukan untuk mengurangi dampaknya.
Oleh: Febi Febrianur, Universitas pamulang




