
JurnalPost.com – Moderasi dalam beragama memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan yang penuh rukun, damai, dan harmonis. Ajaran agama mengajarkan kita untuk mencintai sesama manusia sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Tidak mungkin di suatu tempat tidak ada perbedaan, agar perbedaan tidak menjadi koflik salah satunya kita harus bersikap toleransi. Apalagi jika perbedaannya tentang keyakinan. menerapkan moderasi beragama dalam kehidupan terealisasi disala hsatu desa di kabupaten pekalongan tepatnya Di Desa Jolotigo, Dukuh Purbo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan.
Di kampung ini muslim dan kristen berdampingan begitu dekat , saat para pemeluk agama dibanyak tempat mempermasalahkan keberadaan umat lain serta melarang simbol dan kunjungan ke komunitas agama lain, Di desa tersebut memiliki keragaman dalam keyakinan agama yang dianut tetapi tidak menimbulkan konflik, justru hal tersebut menjadi perekat dalam masyarakat. Warga Desa Jolotigo senantiasa menerapkan toleransi agar perbedaan agama yang ada tidak menjadi sumber konflik, dengan saling menghormati dan meyakini bahwa setiap agama memiliki nilai positif.
Desa Jolotigo adalah desa yang memberikan contoh nyata bahwa semangat toleransi dan gotong royong dapat menyatukan masyarakat dalam kerangka keberagaman agama dan dapat memupuk toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Warga non-Muslim di sana bahkan membangun mushola di daerah persawahan untuk memudahkan petani Muslim dalam beribadah, menunjukkan solidaritas dalam praktik agama mereka. Hubungan persaudaraan antara Islam dan Kristen di Desa Jolotigo tidak hanya terbatas pada pembangunan rumah ibadah, tetapi juga terlihat saat perayaan Natal, di mana warga Muslim berpartisipasi dalam menjaga keamanan di gereja, begitu juga saat perayaan Islam, warga non-Muslim meramaikannya dengan ikut serta dalam adat dan saling memaafkan.
Cerita Desa Jolotigo Dukuh Purbo memberikan pelajaran tentang pentingnya dua hal dalam membangun basis toleransidan perdamaian lintas agama. Tujuan moderasi beragama ini untuk memoderatkan pemikiran masyarakat dalam menjalankan kehidupan beragama yang saling menghargai perbedaan namun tidak mencampuradukan akidah dan ibadah dengan agama lain. Masyarakat Desa Jolotigo dukuh Purbo berharap moderasi dalam beragama serta pemahaman yang benar dapat menjadi tameng tersendiri dalam menghalau hal hal negatif dari globalisasi serta moderenisasi yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama dan bermasyarakatan, Moderasi beragama bukan hanya suasa rukun antar pemeluk agama, tetapi juga memberikan pendidikan dan bimbingan kepada Masyarakat agar kerukunan tertanam dalam kesadaran Masyarakat sehingga terciptanya sikap kerukunan bertoleransi yang tampak memang benar benar tumbuh dari kesadaran masing masing individu, bukan sekedar karena ada aturan dari pemerintah atau hanya formalitas belaka.
.
Di bidang pendidikan, Desa Jolotigo Dukuh Purbo mengajarkan anak-anak sejak dini tentang perbedaan agama dan pentingnya toleransi. Mereka sudah diberi arahan terbentuknya kampung moderasi karena adanya kehidupan Masyarakat yang beragam yang saling menghargai satu sama lain. Sejak dini mereka sudah menerapkan dan mempraktikan keberagaman tersebut, Bahkan dalam permainan mereka, anak-anak Muslim menghadiri sekolah agama (TPQ) setiap sore, dan anak-anak non-Muslim seakan faham merekapun menghormati dan mengingatkan kegiatan tersebut. Masyarakat Desa Jolotigo dengan bangga mempertahankan budaya toleransi ini, yang telah menjadi bagian dari warisan budaya lokal mereka, dan mereka mewariskannya kepada generasi muda. Model kerukunan antaragama di Desa ini tidak hanya menekankan pentingnya setiap umat beragama, tetapi juga menjaga keharmonisan antarumat keberagaman dalam kehidupan bersama dalam bentuk perbedaan.




