
JurnalPost.com – (Ngablak, 5/8/23) Sampah merupakan salah satu masalah yang dialami oleh hampir semua daerah di Indonesia. Permasalahan sampah ini menjadi PR bagi pemerintah setiap tahunnya, karena volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia terhitung sangat tinggi. Di Kabupaten Boyolali sendiri sampah yang dihasilkan mencapai 40-50 ton perhari. Dan akan meningkat ketika memasuki masa libur lebaran. Sampah-sampah itu akan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong untuk kemudian dikelola dengan sistem controlled landfill atau sistem pengerukan sampah terpusat.
Tidak semua sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Boyolali akan dikelola di TPA Winong. Masih banyak masyarakat yang memilih untuk membuang sampah di sungai, atau membakar sampah mereka. Terutama di daerah pedesaan yang kurang terjamah oleh pemerintah. Misalnya di Desa Ngablak, Kecamatan Wonosamodro, mayoritas masyarakat Desa Ngablak masih menerapkan pembakaran sampah daripada membayar petugas untuk mengambil sampah atau menjual ke loakan sampah. Hal ini tentunya dapat berdampak ke lingkungan sekitar, seperti polusi udara dan berisiko kebakaran ketika memasuki musim kemarau.

Berangkat dari permasalahan sampah di Desa Ngablak, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro merencanakan pengadaan bank sampah tingkat Desa Ngablak. Bank sampah ini diberi nama “Basanga” dan diresmikan pada tanggal 5 Agustus 2023 di Balai Desa Ngablak. Latar belakang berdirinya bank sampah ini adalah tidak adanya pengoordinasian terkait pembuangan sampah secara sistematis yang menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk membakar sampah rumah tangga mereka.
Mahasiswa KKN Undip membantu pengurusan Surat Keputusan pengadaan bank sampah Desa Ngablak ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali. Sedangkan untuk kepengurusan bank sampah akan dikelola oleh PKK Desa Ngablak dengaan arahan dari Mahasiswa KKN Undip. Pada saat peresmian dilakukan demonstrasi alur pelayanan bank sampah sebagai bekal pengurus dalam melayani masyarakat yang akan menjual sampahnya ke “Basanga”. Sistem yang diterapkan di bank sampah adalah sistem tabungan, maksudnya setiap masyarakat akan menjual sampahnya ke “Basanga” dan uang hasil penjualan ditabung oleh pengurus.

“Terima kasih kepada Mbak-Mas KKN Undip yang telah mengadakan Bank Sampah Desa Ngablak ini, semoga dapat bermanfaat untuk ibu-ibu PKK. Semoga juga ibu-ibu PKK semangat terus dalam menjalankan bank sampah ini.” Ujar Ibu Sri Wahyuni, Ketua Bank Sampah Ngablak “Basanga”.
Harapannya, bank sampah ini dapat menjadi program yang berkelanjutan di bawah naungan PKK. Selain itu juga diharapkan dapat mengatasi masalah sampah dan lingkungan yang terjadi di Desa Ngablak dan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.




