
JurnalPost.com – Beberapa pernyataan dari Benjamin Franklin (Negarawan dari Amerika Serikat):
- Jagalah toko Anda, maka toko itu akan menjagamu;
- Pergunakan waktumu dengan baik, jika ingin mendapatkan banyak waktu luang;
- Selalu malu saat mendapati dirimu menganggur;
- Yakinlah bahwa kerja keras yang jujur akan selalu menghasilkan kemakmuran;
- Jika sesuatu dilakukan dengan terburu-buru, maka hasilnya tidak akan memuaskan;
- Tidur lebih cepat dan bangun lebih awal membuat orang sehat, kaya dan bijaksana.
“Saya sendiri baru tersadarkan bahwa sebenarnya banyak sekali yang bisa dilakukan dalam sehari 24 jam, selama ini telah banyak waktu yang telah saya buang sia-sia”
Pencerahan saya ini bermula setelah lulus kuliah Master. Menarik bagi saya untuk mendalami lebih jauh, kenapa pertanyaan reflektif tersebut tiba-tiba muncul setelah lulus kuliah pascasarjana master? Mungkin juga ada kaitannya dengan proses mengerjakan penelitian tesis yang cukup menguras pikiran, tenaga dan waktu. Umumnya seorang mahasiswa yang selama mengerjakan tesis akan menempatkan “revisi tesis” sebagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Hal itu juga akan menyita konsentrasi karena harus menguasai bidang penelitian dan menjawab pertanyaan dosen dengan baik.
Disisi lain selama kuliah S2 mahasiswa dibiasakan untuk mengerjakan banyak tugas dengan deadline singkat. Hal tersebut juga akan merubah kebiasaan mahasiswa untuk mengatur ulang waktu dan mengerjakan tugas diluar waktu normalnya. Kadang dikerjakan sampai begadang larut malam, saat bangun subuh, disela-sela waktu pekerjaan, dan lainnya.
Dari survey sederhana saya kepada teman-teman yang telah lulus Master, sebagian besar dari mereka pun merasakan hal demikian. Mereka telah menyadari begitu banyak waktu yang ada dan sudah terbuang tanpa produktivitas, dan begitu terasa sesaat setelah menempuh perkuliahan master. Dari hal ini, dapat saya simpulkan bahwa metode perkuliahan master telah mengubah pola pikir lulusannya menjadi lebih disiplin, efektif, efisien dan berorientasi detail.
Hal lain yang turut menjadi faktor ialah kebanyakan lulusan master ialah individu yang telah bekerja, berkeluarga, dan mencapai usia matang (umumnya sudah berusia diatas 30 tahun). Hal tersebut merupakan faktor tambahan bagi seseorang untuk tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, ikut memikirkan kepentingan orang lain termasuk kepentingan yang lebih luas seperti urusan bangsa dan negara. Dari sudut pandang ini kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak hanya bagi lulusan studi master, tetapi ketika seseorang telah memenuhi ketiga faktor diatas, ia pun mulai dibebani pikiran yang sedikit banyak akan memaksa dirinya untuk berorientasi “effective time-management”.
Menyadari pentingnya waktu 24 jam sebenarnya banyak yang bisa dilakukan dan selama ini telah banyak yang telah terbuang sia-sia, karena jumlah sumber daya waktu yang diberikan ke kita semua adalah sama dan terbatas, tetapi setiap orang dapat menghasilkan produktivitas yang berbeda-beda (tergantung prioritasnya masing-masing). Ada yang prioritasnya seimbang antara kerja-keluarga-istirahat, ada pula yang memaksimalkan waktu yang ada untuk kerja terus. Seharusnya produktivitas yang baik adalah yang sejalan dengan prinsip ekonomi, yaitu bahwa menggunakan sumber daya yang sesedikit mungkin untuk hasil yang semaksimal mungkin.
Di suatu waktu saya melihat video tentang Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani sedang berpidato di sebuah universitas tentang pengelolaan aset negara. Salah satu yang menarik dari pidato tersebut yaitu kata beliau tentang apa yang membedakan antara negara maju dan negara berkembang.
Kenapa orang di negara maju bisa kerja lebih santai tapi lebih makmur, sedangkan orang di negara berkembang bekerja lebih keras tapi hasilnya lebih sedikit? Padahal masyarakat di negara maju atau berkembang, punya keseharian yang mirip. Jawaban yang membedakan adalah cara mereka mengatur ekonomi: Orang di negara maju memastikan bahwa seluruh aset yang mereka miliki bekerja keras untuk mereka, alias tidak ada aset yang menganggur.
Ini kenapa mereka bisa menghasilkan banyak dengan waktu kerja yang lebih santai. Sedangkan, orang di negara berkembang terus bekerja keras, namun aset-asetnya banyak yang tidur alias tidak digunakan. Ini kenapa meski kerja lebih banyak, tapi hasilnya lebih sedikit. Jadi kuncinya adalah apakah aset yang dimiliki dikelola dengan baik.
Analogi investasi dari Ibu Menkeu diatas adalah salah satu contoh yang baik dalam menjelaskan pentingnya mengelola waktu dan produktivitas. Pengelolaan waktu dan investasi yang baik ialah dengan membiarkan uang dan waktu yang bekerja keras untuk kesejahteraan kita. Investasi waktu dan uang di masa muda bila ingin hidup lebih nyaman di masa depan. Tidak ada kata untuk terlambat, jika seseorang ingin berubah. Tidak ada kata terlalu tua untuk seseorang ingin belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik ialah dengan bergabung ke dalam lingkungan kondusif, sadar akan kemampuan diri. Bandingkan prestasi diri saat ini dengan pencapaian masa lalu dan bukan dengan dengan pencapaian orang lain.
Penutup
Seseorang untuk dapat tumbuh dan mengikuti persaingan di masa modern ini, perlu untuk selalu meningkatkan produktivitasnya dalam waktu yang terbatas. Baik itu produktivitas yang tidak kelihatan (investasi, skill) maupun yang terlihat oleh orang lain (materi, jumlah circle pertemanan, follower, dan seterusnya).
Penulis: Amadeus Sanda Layuk




