
Oleh: Candrika Nur Rasuli
JurnalPost.com – Komunikasi merupakan sebuah proses pengiriman pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan) untuk mencapai makna pesan yang sama. Menurut Carl Hovland, Janis & Kelley Komunikasi adalah suatu proses melalui seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita,bahkan kapan pun dan dimana pun termasuk dalam lingkungan keluarga pasti membutuhkan komunikasi atau yang biasa disebut komunikasi keluarga.
Komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi tentunya dalam sebuah keluarga yang meliputi bagaimana cara anggota keluarga itu berinteraksi dengan anggota lainnya seperti orangtua dengan anak, kakak dengan adik dan begitu pula sebaliknya. Dan bagaimana cara sebuah keluarga itu berinteraksi kita dapat melihat tingkat keharmonisan keluarga tersebut yang dimana keharmonisan ini juga menentukan kesehatan mental dan juga kesejahteraan pada anak.
Pada beberapa tahun kebelakang ini kesehatan mental sering menjadi isu serius di kalangan anak terutama pada usia remaja. Isu stres, depresi bahkan saat ini sebutan bipolar makin sering terdengar datang dari anak remaja tersebut. Tak jarang beberapa remaja menjadi rentan bunuh diri karena orang tua atau bahkan keluarganya tidak mengenali kesehatan mental tersebut sejak awal. Sebagai orangtua perlu mengetahui persoalan kesehatan mental. Orangtua juga perlu memperhatikan beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan psikologis anak, seperti bagaimana orangtua atau sebuah keluarga menyampaikan atau mengkomunikasikan rasa kasih sayang, bagaimana Keluarga peduli akan satu dengan yang lainnya terhadap kondisi atau persoalan yang sedang di hadapi dan lain sebagainya.
Peran keluarga terutama orangtua, menjadi amat penting bagi terjaganya kesehatan mental pada anak. Pengertian peran sendiri menurut Soerjono Soekanto, yaitu peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksankan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan. Dalam kamus bahasa Indonesia juga dijelaskan bahwa peran adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Dan pada persoalan mengenai kesehatan mental pada anak, orangtua lah yang lebih banyak mengambil peran walaupun sebenarnya tidak hanya orangtua saja tetapi anggota keluarga lainnya pun sangat berperan. Dan peran orangtua dalam menjaga kesehatan mental pada anak dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. Hindari komentar sarkas pada anak
Ketika anak sedang mengalami kegagalan baik itu dalam pelajaran atau perlombaan orangtua bisa untuk menghindari komentar-komentar sarkas yang menyebabkan anak menjadi sakit hati karna ucapan tersebut.
2. Memberikan pujian pada anak
Memberikan pujian terkait kemampuan anak yang dapat membantunya mengembangkan keinginan untuk mengeksplorasi hal baru. Hal tersebut juga membuat anak merasa dihargai atas sebuah usaha yang telah dilakukan juga anak akan merasa dicintai oleh keluarga.
3. Mendekatkan diri dengan anak
Hal ini bisa dengan melakukan aktivitas bersama seperti bermain bahkan menjadi pendengar yang baik ketika anak sedang mengalami persoalan yang menurutnya cukup rumit. Membangun hubungan yang baik pada anak bisa membangun rasa percaya anak terhadap orangtua yang dimana anak merasa memiliki tempat bersandar.
Kurangnya komunikasi yang terjadi dalam keluarga menimbulkan beberapa dampak negative pada anak terutama pada usia remaja. Menurut WHO (World Health Organization) Beberapa remaja mempunyai risiko lebih besar terhadap kondisi kesehatan mental karena kondisi kehidupan mereka, stigma, diskriminasi atau pengucilan, atau kurangnya akses terhadap dukungan dan layanan berkualitas.
Terdapat pula mengenai Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres pada masa remaja seperti paparan terhadap kesulitan, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman, faktor lingkungan baik lingkungan keluarga ataupun limgkungan pertemanan, pergaulan, perlakuan dan juga pola asuh orangtua dan lain sebagainya.
Namun sebenarnya anak yang mengalami gangguan kesehatan mental itu dapat dilihat melalui ciri-ciri dibawah ini:
1. Merasa sedih yang berkepanjangan bahkan tanpa sebab yang jelas
2. Sering marah berlebihan dan menjadi sangat sensitive
3. Merasa sulit untuk berkonsentrasi
4. Cenderung menarik diri dari lingkungan sosial
5. Memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri
Kita dapat mengurangi resiko gangguan kesehatan mental pada anak dengan melakukan komunikasi yang baik. Dengan kita melakukan komunikasi yang terbuka bersama keluarga, kita juga bisa menjadikan keluarga sebagai teman baik atau sahabat untuk bisa saling curhat dan bercerita dan terciptanya rasa saling percaya selain itu, kita juga dapat menyelesaikan persoalan dengan lebih baik dengan adanya komunikasi yang sehat, anggota keluarga juga dapat mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan secara terbuka dan hal itu dapat mengurangi stres hingga ketegangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental pada anak. Dan dengan komunikasi keluarga yang baik pula kita bisa mencegah rasa kesepian dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Wiratri A, 2018. Menilik Ulang Arti Keluarga Dalam Masyarakat Indonesia, Pusat Penelitian Sumber Daya Regional – LIPI
Sambuaga P, et all, tahun 2014. PERANAN KOMUNIKASI KELUARGA DALAM
Mencegah Perkelahian Antar Warga (Studi Kasus Di Kelurahan Mahakeret Barat)
World Health Organization (WHO), Tahun 2021. Kesehatan Mental Remaja , https://g.co/kgs/BPNiQXa




