
Oleh: Firouz Kariim Wibisono Ruslan Adl
1708015212
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.
JurnalPost.com – Indahnya hidup kita jika kita berbuat dan menerima kesopanan dari orang lain karena tata kerama mereka yang baik serta kemampuan kita untuk menjaga sikap kita didepan mereka. Rasanya hidup terasa damai, tenteram dan sejuk. Meski susah dilakukan, menunjukan adab yang baik didepan orang yang tidak menunjukannya akan membuat kita merasa bangga terhadap diri sendiri yang dapat menahan emosi kita. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa tata kerama/adab merupakan komponen yang penting didalam hidup kita sebagai manusia yang menginginkan keteraturan dan juga kedamaian dalam hidup kita sehari-hari.
Berbicara mengenai adab mari kita mengupas dulu makna dari adab/tata kerama. Adab/tata kerama merupakan sebuah perilaku santun dan sopan yang ditargetkan kepada orang lain yang didasarkan ketulusan dan penghormatan. Sama saja jika kita melihat ada seseorang bersikap sopan kepada yang lain dalam setting yang terbilang professional atau yang non-professional. Seperti, disaat seorang bos dari sebuah perusahaan ternama memberikan prasmanan kepada pengunjungnya yang datang kepadanya karena adanya urusan kerja, merupakan contoh adab dalam setting Professional. Sedangkan seorang anak yang menarik kursi dari susunan kursi-meja di sebuah restoran dengan tujuan agar orang tuanya bisa duduk dengan mudah merupakan sebuah demonstrasi adab/tata kerama dari seorang anak kepada orang tua.
Memunculkan Adab yang baik kepada yang lain merupakan anjuran dari Al-Qur’an itu sendiri kepada umat manusia. Dimana di Al-Qur’an disebutkan “…dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Dari penyataan diatas kita bisa menyimpulkan bahwa keutamaan untuk beradab dengan baik bukanlah tuntutan dari kawasan sosial saja, tetapi juga dari kawasan religiusitas. Bukan hanya akan membuat dunia semakin damai, tetapi akan meningkatkan derajat kita dihadapan Sang Pencipta.
Dalam aliran Sufisme, keberadaban merupakan konsep yang sangat penting untuk ditegakan karena memang kedudukannya yang sangat tinggi dan juga merupakan konsep yang menyelimuti seluruh praktik serta teori Sufisme itu sendiri. “seluruh tasawuf adalah adab” merupakan sebuah pepatah yang dijadikan sebuah testamen akan kebenaran dari kalimat pertama dalam paragraf ini. Tetapi, ada sebuah hal yang harus diperhatikan dalam mempraktikan Adab kepada orang lain secara jasmaniah. Yaitu, memiliki sifat batiniah yang berdasarkan ketulusan disaat kita menunjukan tata Kerama yang baik kepada orang lain yang kita sedang layani.
Sikap tulus atau hormat kepada orang yang lain disaat kita memunculkan sikap yang sopan akan memberikan sebuah nyawa terhadap perilaku tersebut. Karena kesopanan yang tidak berbasis ketulusan atau penghormatan kepada orang lain tidak lain hanyalah formalitas yang sifatnya hampa. Ibaratnya, sama seperti mobil yang mewah tanpa ada mesinnya. Sebaliknya, jika kita memiliki hati yang tulus untuk melayani atau sebuah penghormatan serta rasa kasih sayang kepada yang kita ingin layani, maka hal tersebut akan tercerminkan dalam perilaku kita nantinya. Kita akan bisa lebih menjadi orang yang atentif dan sensitif terhadap kenyamanan orang lain di sekitar kita.
Contoh kesopanan batiniah yang dapat didapatkan dari sebuah cerita mengenai seorang darwis senior yang sedang makan di rumah seorang syekh bernama Syekh Muzaffer. Pada waktu makan siang, meja para tamu dipisahkan berdasarkan kedudukan mereka dalam grup tersebut yang merupakan pelajar atau pemeluk aliran Sufisme, seperti darwis junior serta senior. Di waktu itu, para pelayan sedang menyediakan makanan untuk para tamu dan penyediaan makanan didahului oleh mereka yang senior sedangkan yang junior diabaikan (untuk sementara). Salah satu darwis senior yang memiliki batin yang tulus dan menginginkan kenyamanan bagi orang-orang disekitar menunjukan sikap keberadabannya dengan memindahkan tempat duduknya dimeja para darwis Junior. Dengan begitu, para darwis junior bisa mendapatkan pelayanan mereka dengan cepat.
Sebuah lingkungan yang ditargetkan dari sikap Adab ala Sufisme ini adalah lingkungan dimana satu orang lebih mementingkan kenyamanan orang lain dibandingkan dirinya, ata lebih tepat lagi, sebuah lingkungan dimana semuanya saling membantu atau mengakomodasi kebutuhan sesama. Contoh dari cerita diatas sudah mencerminkan lingkungan ideal tersebut tetapi ada lagi sebuah contoh nyata yang lain seperti dimana seorang darwis menuangkan teh disaat cangkir darwis yang lain sudah kosong. Teh tersebut tertuang tanpa adanya sebuah permintaan dari pemilik cangkir untuk mengisinya, teh itu dituang karena sifat tulus atentif dari sang darwis yang menuangkannya. Adab tersebut merupakan hal yang telah dan yang harus dimiliki oleh para darwis agar dapat mengelola komunitas atau lingkungan yang dipenuhi oleh kepedulian antar sesama.
Karena tujuan utama untuk memunculkan adab/tata kerama untuk membantu atau menghormati orang lain, kompetisi berbuat baik dengan tujuan agar mendapatkan label sebagai orang baik merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Kebaikan hanya cukup dilakukan karena adanya keinginan untuk memberikan kenyamanan kepada yang lain saja dan bukan dari keinginan untuk memberikan sebuah rasa superior terhadap diri sendiri. Contoh dari konsep diatas bisa dijelaskan disaat seseorang pelajar A ingin meminjamkan pulpen kepada temannya pelajar B. Pelajar A lelet atau lama disaat ingin meminjamkan pulpen karena ada masalah teknis, tempat pensilnya jatuh. Teman-teman sekitarnya tidak menyelak barisan dan langsung meminjamkan pulpen kepada pelajar B tersebut selagi pelajar A membereskan pulpen, karena mereka tahu pelajar A ingin berperilaku baik dan hal tersebut akan memberikan kenyamanan kepada Pelajar A karena ia mendapatkan pulpen dan Pelajar B dimana ia merasa bangga atau enak karena telah membantu orang lain. Teman-teman sekitarnya tidak ingin mendapatkan label superior, mereka hanya ingin sang peminjam dan yang meminjamkan pulpen puas.
Dapat didapatkan dari penjelasan diatas bahwa seorang darwis berupaya untuk membuat lingkungan dimana orang-orangnya dapat memiliki batiniah yang tulus dan hormat kepada orang lain dengan mementingkan kenyamanan mereka. Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan sebuah pelayanan yang tulus dari darwis lain yang juga berniat untuk memberikan kenyamanan kepada mereka juga. Dalam budaya adab/tata kerama Sufisme ini, setiap orang akan terakomodasi kebutuhannya serta damai hatinya sehingga akan memunculkan hubungan yang harmonis diantara satu orang dengan yang lain dan akan menguatkan tali silaturahmi didalam dan diluar grup sosial mereka.
Referensi:
Robert Frager, Ph.D. (2014). Psikologi Sufi. Jakarta: Zaman.




