Malang, JurnalPost.com – Pada 31 Desember 2023, sekelompok mahasiswa dari jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang, yang terdiri dari Margaretha Syaharani Putri P., Athika Ramadhani Iswan, Meidisya Anindhia Tika, Vienzy Justicia Desta Prastya, Muhammad Ali Wafa, dengan Fadillah Ardani Putri Larasati sebagai ketua, memiliki melakukan penyuluhan di Desa Dalisodo untuk menggaungkan gaya hidup sehat bersama Farmasi Keluarga. Mereka memberikan penyuluhan khusus mengenai edukasi tentang kepatuhan terapi kepada lansia yang menderita hipertensi. Kegiatan ini dibimbing langsung dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang yang juga sekaligus merupakan Kepala Program Studi Farmasi di Universitas Muhammadiyah Malang, yaitu Ibu apt. Sendi Lia Yunita, M.Sc.
Kegiatan ini merupakan upaya mahasiswa untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ancaman serius yang disebut sebagai “silent killer.” Para mahasiswa menyadari sepenuhnya keberadaan bahaya ini, namun disayangkan, kesadaran ini tidak selalu diikuti dengan kepatuhan terapi yang diperlukan oleh lansia yang menderita penyakit ini.
Menurut World Health Organization (WHO) dan The International Society of Hypertension (ISH), angka penderita hipertensi di seluruh dunia mencapai 600 juta, dengan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahun. Banyak dari mereka yang meninggal secara mendadak karena tidak mengikuti pola makan yang sehat, tidak mencari pengobatan, atau tidak mematuhi terapi yang seharusnya mereka jalani.
“Di Desa Dalisodo ini, kebetulan banyak lansia yang telah dikelompokkan dengan diagnosis hipertensi. Kami, sebagai kader desa, telah aktif mengadakan berbagai kegiatan untuk kesehatan mereka. Setiap minggu, kami menggelar senam pagi, dan setiap bulan, tim dari puskesmas melakukan pengecekan kesehatan. Namun, realitanya, tidak semua lansia hadir dengan patuh. Beberapa di antaranya kadang datang, ada yang tidak datang sama sekali,” ujar Ibu Susi, yang merupakan Kader Desa Dalisodo.

Pada kegiatan 31 Desember lalu, persiapan dilakukan dengan matang oleh para mahasiswa. Mereka menyiapkan layar untuk presentasi materi, menyusun kursi-kursi untuk peserta lansia, membawa peralatan pemeriksaan hipertensi, membuat absensi, dan menyediakan konsumsi. Acara dimulai dengan pengecekan tensi dan penimbangan berat badan bagi para lansia. Selanjutnya, mahasiswa juga berinteraksi dengan mereka, bertanya tentang kapan terakhir kali mereka memeriksakan kesehatan dan seberapa rajin mereka dalam menjalani terapi. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa sebagian dari lansia mengakui kadang lupa mengonsumsi obat mereka. Ini menjadi perhatian bersama karena kesehatan mereka tentu menjadi prioritas bagi seluruh komunitas Desa Dalisodo.
Setelah menjalani pengecekan dan ditemukan bahwa terdapat 15-19 lansia yang hadir, para mahasiswa dengan antusias segera memulai sesi kegiatan yang dipimpin oleh ketua kelompok, yaitu Fadhilah. Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka tentang penyakit hipertensi. Suasana kegiatan berlangsung sangat tenang, dan terlihat bahwa beberapa lansia begitu antusias untuk mulai bertanya.
Fadhilah, sebagai ketua kelompok, membuka kegiatan dengan penuh semangat. Materi disampaikan melalui presentasi PowerPoint yang dirancang agar mudah dipahami oleh para lansia. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah agar tidak ada kendala bagi para lansia dalam memahami informasi yang disajikan. Selama sesi berlangsung, suasana kegiatan tetap menyenangkan dan interaktif, dengan para lansia aktif berpartisipasi dalam diskusi. Semua ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang penyakit hipertensi bagi para lansia yang hadir.
Setelah menyajikan semua informasi dengan penuh kejelasan, para mahasiswa membuka sesi tanya jawab yang sangat interaktif. Setelah menyelesaikan materi, mereka kemudian memberikan kesempatan kepada lansia untuk mengajukan pertanyaan. Salah satu peserta yang menonjol adalah ketua himpunan lansia yang aktif bertanya, ingin tahu mengapa ada larangan terhadap beberapa jenis makanan. Dengan penuh kebijaksanaan, para mahasiswa memberikan jawaban yang tidak hanya lugas tetapi juga mudah dimengerti. Setelah sesi tanya jawab selesai, dilanjutkan dengan melakukan post-test untuk memastikan bahwa peserta, termasuk ketua himpunan lansia, benar-benar memahami materi yang telah disampaikan.
Penguasaan materi ini menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, dan para mahasiswa yakin bahwa dengan pemahaman yang kuat, kontribusi mereka akan membawa manfaat signifikan bagi para lansia yang terlibat. Beberapa dari mereka ternyata sudah memahami dengan baik apa yang telah disampaikan, memberikan harapan bahwa kepatuhan mereka terhadap terapi akan meningkat.
Untuk meningkatkan keterlibatan para lansia, mahasiswa juga melaksanakan sesi pemberian reward berupa sembako kepada mereka yang aktif berpartisipasi dalam pertanyaan dan diskusi. Melalui kegiatan ini, kami berharap muncul program-program lebih profesional, termasuk pemberian pengobatan yang lebih mendalam. Namun demikian, mereka yakin bahwa upaya mereka memberi penyuluhan sudah cukup untuk memberikan wawasan tentang kepatuhan yang sangat penting, terutama dalam menghadapi penyakit yang seringkali menjadi ancaman tanpa gejala yang jelas.




