
Penulis : Nur Rohman
JurnalPost.com – Kebutuhan masyarakat terhadap produk kebutuhan pokok makanan, bahan bakar, maupun listrik menjadi hal yang tidak bisa di hindari atas dasar kebutuhan pokok manusia yang bersifat terus-menerus dan meningkat seiring dengan peningkatan populasi maupun gaya hidup masyarakat. Akumulasi dari kebutuhan ini menjadikan permintaan tas barang dan jasa untuk produk pokok ini menjadikan penyedia jasa perlu meningkatkan berbagai elemen produksi guna meningkatkan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Peningkatan ini menjadikan biaya produksi menjadi tinggi namun tidak diimbangi dengan kondisi sumber daya yang mendukung. Sehingga butuh peningkatan sumber daya yang berimplikasi pada peningkatan harga.
Di negara berkembang, upah yang bergantung pada tingkat pendidikan, keterampilan pekerja, kebijakan pemerintah, hingga kondisi makro ekonomi. Hal berimplikasi pada upaya masyarakat untuk memaksimalkan upahnya dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka. Upah yang tidak dapat berubah menyesuaikan dengan peningkatan harga produk yang meningkat menyebabkan daya beli masyarakat menjadi kurang dan menjadikan masyarakat menyesuaikan perilaku konsumtifnya. Kondisi ini sering dipahami sebagai bentuk dampak dari inflasi.
Dalam memenuhi kebutuhan pokok, masyarakat akan menyesuaikan pengeluarannya untuk dapat membeli produk kebutuhan mereka. Mereka menjadi selektif terhadap produk yang akan di beli. Perilaku selektif yang dapat diwujudkan seperti pilihan untuk memasak di rumah dengan memilih bahan makanan yang terjangkau bagi mereka. Sehingga biaya untuk pangan menjadi lebih kecil dan terkontrol dibanding makan di luar. Selain itu, bagi masyarakat yang memiliki kendaraan akan memilih jenis bahan bakar yang lebih murah seperti memilih Pertalite dibanding Pertamax.
Selain itu, masyarakat memprioritaskan produk-produk yang menjadi kebutuhan pokok yang tidak dapat disubstitusikan untuk menjadi prioritas dalam upaya pembelian produk. Hal ini dapat terlihat pada kebutuhan listrik, yang mana kenaikan listrik tidak dapat dielakkan untuk dianggarkan karena menjadi kebutuhan esensial dan tidak dapat digantikan. Jikalau pun digantikan, akan ada harga tambahan yang akan menjadikan biaya listrik menjadi makin mahal seperti substitusi penggunaan jasa PLN dengan panel surya ataupun diesel.
Dibalik upaya-upaya penghematan akibat ketakutan masyarakat terhadap ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok di masa inflasi tersebut, masyarakat akan cenderung untuk berpikir antisipatif terhadap masa depan. Masyarakat akan berpikir untuk membeli produk dalam jumlah banyak dengan asumsi di masa depan akan ada lonjakan harga yang jauh signifikan dan masyarakat menjadi tidak mampu untuk membeli produk tersebut.
Respons masyarakat dalam menghadapi inflasi turut dipengaruhi oleh besaran pendapatan yang diperoleh masyarakat. Masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah akan lebih merasakan dampak inflasi dikarenakan daya beli yang cukup rendah. Hal ini akan berbeda dengan masyarakat berpenghasilan tinggi yang tidak akan merasakan dampak yang signifikan sehingga perubahan perilaku konsumtif menjadi tidak signifikan berubah.
Penyesuaian yang dilakukan oleh masyarakat ini akan memberikan efek yang beragam tergantung pada lamanya inflasi berlangsung. Jika inflasi berlangsung dalam jangka panjang, perilaku yang telah kita bahas di atas akan menjadi bagian dari gaya hidup. Masyarakat akan memilih pilihan produk yang lebih murah namun akan memilih untuk menyimpan uang lebih untuk berjaga-jaga jika inflasi terjadi lagi. Masyarakat cenderung akan menyimpan cadangan makanan maupun bahan bakar untuk menghindari kepanikan saat harga barang meningkat secara mendadak.
Dalam hal ini, masyarakat perlu memahami dan teredukasi dengan baik dalam mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan pokoknya agar dampak inflasi tidak begitu besar memberikan pengaruh pada kehidupan mereka. Masyarakat perlu memahami penyebab inflasi dan mengelola dorongan kepentingan diri sendiri yang menjadikan efek konsumtif yang berlebihan akibat kekhawatiran terhadap situasi perekonomian yang sedang tidak dalam kondisi stabil. Masyarakat juga perlu mempersiapkan diri dengan pilihan-pilihan yang akan di pilih jika nantinya sumber daya yang mereka miliki tidak dapat menjaga mereka untuk tetap dalam kondisi ekonomi yang stabil.




