JurnalPost.com - Bencana dapat berakhir dalam hitungan menit atau jam, tetapi dampaknya terhadap kondisi psikologis seseorang bisa bertahan jauh lebih lama. Gempa mungkin telah berhenti dan banjir telah surut, namun rasa aman belum tentu segera kembali.
Bagi penyintas, kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, harta benda, maupun rutinitas sehari-hari dapat memunculkan berbagai reaksi psikologis, seperti rasa takut, sedih, cemas, hingga kesulitan tidur. Setiap orang dapat memberikan respons yang berbeda terhadap pengalaman tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa tekanan psikologis setelah situasi darurat pada banyak orang dapat berkurang secara bertahap seiring berjalannya waktu. Meski demikian, sebagian penyintas dapat membutuhkan dukungan lanjutan untuk membantu proses pemulihan.
Kondisi tersebut menjadi penting diperhatikan di Indonesia yang memiliki risiko terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, hingga tanah longsor. Penanganan bencana karena itu tidak hanya berkaitan dengan proses evakuasi, pemenuhan kebutuhan pangan, maupun pembangunan kembali infrastruktur.
Pemulihan kondisi psikologis penyintas juga menjadi bagian penting dari proses setelah bencana. Persoalannya bukan hanya bagaimana seseorang dapat selamat dari kejadian tersebut, tetapi juga bagaimana mereka mampu membangun kembali rasa aman dan melanjutkan kehidupannya.
Dari Stres hingga Pemulihan Jangka Panjang
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam buku “Psikologi Bencana: Memahami Jiwa di Tengah Krisis” karya Dr. Anjarie Dharmastuti, Dr. Tutut Chusniyah, dan Ikhwanul Ihsan Armalid.
Melalui 16 bab, buku ini membahas beragam aspek psikologi dalam situasi bencana, mulai dari teori stres, coping atau cara individu menghadapi tekanan, pertolongan pertama psikologis, asesmen trauma, hingga berbagai strategi yang dapat digunakan dalam proses pemulihan jangka panjang.
Pembahasan teoritis tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah peristiwa bencana besar di Indonesia, seperti Tsunami Aceh 2004, Gempa Yogyakarta 2006, serta bencana yang melanda Palu pada 2018.
Penggunaan contoh dari berbagai peristiwa di Indonesia membuat pembahasan psikologi bencana menjadi lebih dekat dengan pengalaman masyarakat. Pembaca dapat melihat bagaimana teori psikologi diterapkan dalam kondisi nyata ketika individu maupun komunitas menghadapi situasi krisis.
Mengenal Pertolongan Pertama Psikologis
Salah satu topik yang mendapat perhatian dalam buku ini adalah Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.
WHO menggambarkan PFA sebagai bentuk bantuan awal yang manusiawi, suportif, dan praktis kepada seseorang yang sedang mengalami situasi krisis. Pendekatan tersebut tetap memperhatikan martabat, budaya, serta kemampuan individu dalam menghadapi kondisi yang dialaminya.
Dalam praktiknya, pertolongan pertama psikologis tidak selalu berbentuk intervensi yang rumit. Dukungan dapat dimulai dengan mendengarkan penyintas tanpa memaksanya untuk menceritakan pengalaman traumatis, membantu mengenali kebutuhan yang paling mendesak, hingga menghubungkan orang tersebut dengan keluarga, komunitas, maupun layanan yang tersedia.
Pemahaman mengenai PFA menjadi penting bukan hanya bagi tenaga profesional, tetapi juga bagi relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan bencana.
Dukungan awal yang diberikan secara tepat dan sensitif dapat membantu penyintas merasa lebih aman dan memperoleh bantuan yang dibutuhkan. Sementara itu, individu yang mengalami kesulitan psikologis berat atau berkepanjangan perlu mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan mental yang sesuai.
Konteks Lokal dalam Proses Pemulihan
Selain membahas teori dan praktik psikologi bencana, buku ini turut menyoroti pentingnya nilai-nilai lokal dalam mendukung proses pemulihan.
Gotong royong, hubungan keluarga, dukungan komunitas, hingga spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang setelah mengalami bencana. Kehadiran orang-orang terdekat sering kali membantu penyintas mengembalikan rasa aman dan membangun kembali kehidupan sosialnya.
Namun, setiap bentuk dukungan tetap perlu diberikan dengan menghargai kebutuhan, kondisi, serta pilihan masing-masing individu. Tidak semua penyintas membutuhkan bentuk bantuan yang sama karena pengalaman dan kemampuan menghadapi krisis juga berbeda.
Dengan cakupan tersebut, “Psikologi Bencana: Memahami Jiwa di Tengah Krisis” dapat menjadi referensi bagi psikolog, tenaga kesehatan, relawan kebencanaan, akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami sisi psikologis dari sebuah bencana.
Buku ini sekaligus mengingatkan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika rumah kembali dibangun atau kebutuhan dasar telah terpenuhi. Pemulihan juga menyangkut upaya mengembalikan rasa aman, memperkuat hubungan sosial, serta memberikan ruang bagi kesehatan jiwa para penyintas.

Informasi Buku
Judul: Psikologi Bencana: Memahami Jiwa di Tengah Krisis
Penulis: Dr. Anjarie Dharmastuti, Dr. Tutut Chusniyah, Ikhwanul Ihsan Armalid
Penerbit: PT Ganesha Kreasi Semesta
ISBN: 978-634-7403-63-6
Cetakan: Oktober 2025
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda