Penulis:
Nadia Fatimah Azzahrah (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Teguh Rizali Zahroni (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Zahrotul Isti’anah Marroh (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Syafi’i (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Abdul Rasyid Zarta (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Eva Nurmarini (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Ita Merni Patulak (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Muh. Akshar (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Muhammad Tahrir (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Ridwan (Dosen Program Studi Rekayasa Kayu – Politani Samarinda)
Penajam Paser Utara, JurnalPost.com – Program Studi Rekayasa Kayu Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani Samarinda) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemanfaatan Limbah Organik Perkayuan menjadi Briket Arang sebagai Energi Terbarukan di Wilayah Penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN)”.
Desa Suko Mulyo memiliki potensi limbah biomassa yang berasal dari kegiatan pertanian, perkebunan, pemangkasan tanaman, hingga pengolahan kayu. Limbah berupa ranting, potongan kayu, dan serbuk kayu selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.
Sebagian limbah masih ditumpuk atau dibakar secara terbuka. Padahal, material tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif berupa briket arang yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan sosialisasi dan praktik, tim Program Studi Rekayasa Kayu memperkenalkan proses pengolahan limbah perkayuan menjadi briket arang menggunakan teknologi sederhana yang memungkinkan untuk diterapkan di tingkat masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan dosen, tenaga pendukung, mahasiswa, perangkat Desa Suko Mulyo, serta warga setempat. Sejumlah staf perwakilan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) juga mengikuti jalannya kegiatan.
Tahapan kegiatan dimulai dengan mengidentifikasi potensi bahan baku yang tersedia serta kebutuhan masyarakat. Tim kemudian memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, hingga penerapan konsep ekonomi sirkular.
Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori. Peserta juga dilibatkan secara langsung dalam proses pembuatan briket arang agar memahami tahapan pengolahan dari bahan baku hingga menjadi produk yang dapat digunakan.
Warga Dikenalkan Alat Karbonisasi dan Pencetak Briket
Selain proses pembuatan briket, peserta mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan alat karbonisasi, alat pencetak briket, serta kompor yang menggunakan briket sebagai bahan bakar.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada cara mengoperasikan peralatan, tetapi juga mencakup urutan kerja, aspek keamanan, kebersihan proses produksi, hingga pemeriksaan mutu sederhana.
Pemahaman tersebut dinilai penting agar briket yang dihasilkan memiliki bentuk yang relatif seragam, cukup padat, dan memiliki daya tahan yang baik ketika digunakan.
Teknologi yang diperkenalkan dibuat sesederhana mungkin agar masyarakat dapat memahami prosesnya dan memiliki peluang untuk menerapkannya secara mandiri apabila program tersebut dikembangkan lebih lanjut.
Mahasiswa Terlibat dalam Pendampingan Masyarakat
Mahasiswa Politani Samarinda turut terlibat aktif selama kegiatan berlangsung. Mereka membantu menyiapkan alat dan bahan, mendokumentasikan kegiatan, mendampingi peserta dalam praktik pembuatan briket, serta membantu menjelaskan aspek teknis kepada masyarakat.
Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar lingkungan kampus. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana pengetahuan yang dipelajari dalam bidang rekayasa kayu diterapkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pemerintah Desa Suko Mulyo juga berperan dalam pelaksanaan kegiatan, antara lain dengan mengoordinasikan peserta, menyediakan lokasi, serta membantu komunikasi antara tim pelaksana dan warga.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, serta masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan.
Berpotensi Dikembangkan Menjadi Kegiatan Produktif
Pengolahan limbah perkayuan menjadi briket memperlihatkan bahwa bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat diubah menjadi produk energi alternatif yang memiliki nilai guna.
Selain membantu mengurangi limbah organik perkayuan, pemanfaatan briket juga membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan produktif masyarakat apabila proses produksinya dapat dilakukan secara konsisten dan memiliki pasar.
Namun, pengembangan briket arang di Desa Suko Mulyo masih membutuhkan sejumlah tahapan lanjutan. Beberapa di antaranya adalah penyusunan standar proses produksi, pengujian mutu produk, pencatatan biaya produksi, serta pembentukan kelompok masyarakat yang bertanggung jawab terhadap pengelolaannya.
Aspek kemasan dan pemasaran juga menjadi bagian yang perlu dikembangkan apabila briket nantinya diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Pendampingan secara berkelanjutan menjadi penting agar pemanfaatan teknologi tersebut tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Dengan pengelolaan yang konsisten, limbah kayu yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat dikembangkan menjadi sumber energi alternatif sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal di wilayah penyangga IKN.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda