JurnalPost.com, Batu — Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) bersama Southeast Asia Neighbourhood Network (SEANNET) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “City Diplomacy dari Akar Rumput: Photovoice sebagai Diplomasi Visual dalam Memperjuangkan Ruang Urban Berkelanjutan” di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan yang diketuai Dian Mutmainah, S.IP., M.A. tersebut melibatkan 13 perempuan muda berusia 16 hingga 25 tahun dari Malang. Para peserta diajak menggunakan metode Photovoice untuk merekam sekaligus menceritakan pengalaman mereka mengenai ruang yang dianggap aman maupun tidak aman di kawasan perkotaan Kota Batu.
Hasil dokumentasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi photostory individu maupun kelompok yang menggambarkan perspektif perempuan muda terhadap ruang kota.
Kegiatan ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana pengalaman perempuan muda hidup dan beraktivitas di tengah perkembangan kota yang terus berlangsung.
Pertumbuhan kawasan perkotaan memang menghadirkan berbagai peluang, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan tantangan dalam menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan dapat diakses oleh seluruh kelompok masyarakat, termasuk perempuan muda.
Selama ini, konsep city diplomacy atau diplomasi kota lebih sering dipahami sebagai aktivitas yang melibatkan pemerintah daerah maupun elite lokal. Padahal, masyarakat juga memiliki pengalaman dan pandangan yang dapat menjadi bagian penting dalam membangun kota yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, perempuan muda ditempatkan sebagai subjek yang memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman, pandangan, serta aspirasi mereka mengenai ruang kota.
Pendekatan itu juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan, serta SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Photovoice sebagai Media Diplomasi Visual
Photovoice merupakan metode partisipatif yang menggunakan fotografi sebagai sarana untuk mendokumentasikan sekaligus mengomunikasikan berbagai persoalan yang dianggap penting oleh peserta.
Dengan memanfaatkan kamera atau ponsel, peserta tidak hanya menjadi objek penelitian atau kegiatan, tetapi berperan aktif dalam merekam realitas di sekitarnya berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Dalam pelaksanaannya, peserta diarahkan melalui tiga tahapan refleksi, yakni mengenali, memaknai, dan membayangkan.

Peserta terlebih dahulu diajak mengenali ruang kota yang selama ini mereka lewati dalam aktivitas sehari-hari. Selanjutnya, mereka mencoba memahami faktor yang membuat sebuah ruang terasa aman maupun menimbulkan rasa tidak nyaman.
Pada tahap berikutnya, peserta diajak membayangkan seperti apa ruang perkotaan yang lebih ramah dan aman bagi perempuan muda.
Pelatihan Photovoice diawali dengan pengenalan konsep fotografi sebagai alat diplomasi visual. Para peserta diperkenalkan pada kemampuan foto dan narasi dalam membangun persepsi publik sekaligus menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Puspitaningtyas Sulistyowati atau yang akrab disapa Mba Tyas dari Yayasan Arkom Indonesia sebagai narasumber.
ARKOM Indonesia merupakan organisasi berbasis di Yogyakarta yang bergerak dalam transformasi perkotaan dan penguatan komunitas melalui isu perumahan serta kawasan permukiman dengan visi mewujudkan kota ekologis dan inklusif.
Usai memperoleh pembekalan, peserta menyusuri sejumlah kawasan di pusat Kota Batu, mulai dari Alun-Alun Kota Batu hingga kawasan Balai Kota.
Sepanjang perjalanan tersebut, peserta mengamati kondisi lingkungan dan menentukan ruang-ruang yang menarik perhatian mereka.
Lokasi yang dipotret tidak hanya berkaitan dengan ruang yang dianggap nyaman dan aman, tetapi juga tempat-tempat yang dinilai dapat menghadirkan rasa tidak aman maupun kerentanan bagi perempuan muda.
Peserta kemudian mengabadikan ruang-ruang tersebut menggunakan ponsel masing-masing. Pemilihan objek foto dilakukan berdasarkan pengalaman, pengamatan, serta perasaan personal peserta terhadap ruang kota yang mereka lewati.
Foto dan Narasi Dirangkai Menjadi Photostory
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan workshop penyusunan photostory yang dipandu langsung oleh Dian Mutmainah, S.IP., M.A. selaku ketua tim pengabdian.
Dalam sesi tersebut, peserta menyeleksi sejumlah foto yang telah mereka ambil selama kegiatan lapangan. Setiap foto kemudian dilengkapi dengan narasi yang menjelaskan kondisi yang tergambar, alasan ruang tersebut dianggap aman atau tidak aman, hingga pesan yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat maupun pembuat kebijakan.

Foto dan cerita tersebut selanjutnya dirangkai menjadi photostory yang berfungsi sebagai kesaksian visual mengenai pengalaman perempuan muda dalam berinteraksi dengan ruang perkotaan.
Melalui pendekatan tersebut, pengalaman sehari-hari yang sebelumnya mungkin hanya dirasakan secara personal dapat diterjemahkan menjadi narasi visual yang lebih mudah dipahami publik.
Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya bersama SEANNET berharap kegiatan ini dapat membantu perempuan muda semakin peka terhadap kondisi ruang di sekitar mereka, mengenali berbagai bentuk kerentanan, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan pandangan mengenai kebutuhan ruang kota yang aman dan inklusif.
Photostory yang dihasilkan juga diharapkan dapat berkembang menjadi media komunikasi dan advokasi yang mampu menyampaikan aspirasi perempuan muda kepada publik dan pemangku kepentingan.
Dengan demikian, diplomasi kota tidak hanya berlangsung melalui hubungan antarpemerintah atau institusi formal, tetapi juga dapat tumbuh dari pengalaman warga di tingkat akar rumput melalui foto, cerita, dan suara mereka sendiri.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa fotografi dapat menjadi lebih dari sekadar dokumentasi. Melalui Photovoice, visual dapat menjadi sarana membangun kesadaran, solidaritas, serta mendorong terciptanya ruang perkotaan yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda