Penulis: Maulida Hikmaranti
Daun sawit yang terkena embun jelaga Lokasi Desa Argomulyo, Kabupaten Penajam Paser Utara
JurnalPost.com - Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang ada di Indonesia. Tanaman ini menjadi bahan baku utama dalam pembuatan minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO). Meningkatnya kebutuhan sawit baik di Indonesia maupun di luar negeri, menjadikan sawit menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat Indonesia, termasuk di Provinsi Kalimantan Timur, yakni Kabupaten Penajam Utara. Kabupaten ini merupakan salah satu wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara. Berdasarkan Data Dinas Pertanian setempat (2025), saat ini rata rata produksi sawit yang ada di Kabupaten Penajam Paser Utara adalah sekitar 15, 872.44 kg/ha.
Sawit dapat mulai berbuah pada umur 3-4 tahun, dan dapat berproduksi optimal sekitar umur 5-10 tahun, yakni memproduksi Crude Palm Oil (CPO). Namun, seiring dengan pertumbuhannya, tanaman ini tidak luput dari gangguan hama dan penyakit. Salah satu penyakit yang sering menjumpai tanaman kelapa sawit adalah adanya embun jelaga yang disebabkan cendawan Capnodium sp.
Penyakit ini ditandai dengan berubahnya warna lapisan daun paling luar menjadi menjadi kehitaman akibat adanya cendawan yang tumbuh pada cairan manis (honeydew) sebagai hasil ekskresi serangga penghisap seperti kutu daun. Daun yang semakin lama berubah warna ini dapat menyebabkan terhambatnya proses fotosintesis tanaman sawit. Hal ini sedikit banyak dapat mempengaruhi kualitas buah yang dihasilkan, karena daun kesulitan untuk menyerap cahaya matahari. Penyakit embun jelaga seringkali menyerang permukaan daun bagian bawah sawit. Penyakit ini dapat menyerang tanaman sawit yang masih muda (1-3 tahun) hingga tanaman yang sudah tua.
Daun sawit yang terkena hama Oryctes rhinoceros Lokasi Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara
Embun jelaga akan lebih mudah menyerang tanaman yang disekitarnya terdapat banyak pelepah daun, keadaan tanah yang lembab serta pemupukkan yang tidak tepat. Pengendalian untuk mencegah embun jelaga yang menyerang tanaman sawit bisa dilakukan dengan pemantauan keadaan sekitar tanaman, seperti sanitasi lahan dengan pembersihan pelepah daun, pruning, pemupukkan dan pengairan yang tepat, serta memperhatikan jarak tanaman antara satu dengan yang lainnya. Selain itu, pengendalian hayati pada sawit yang terkena embun jelaga bisa diberikan Trichoderma sp.
Selain penyakit embun jelaga, tanaman kelapa sawit juga seringkali mengalami serangan hama oleh kumbang tanduk atau biasa dikenal dengan sebutan kumbang nyiur (Oryctes rhinoceros). Sawit yang terkena serangan kumbang tanduk akan menyerang bagian pucuk dan daun muda. Adanya serangan ditandai dengan pucuk dan daun muda yang terlihat sobek dan berbentuk seperti kipas. Pencegahan tanaman sawit agar tidak terserang hama ini salah satunya dengan tidak membersihkan gulma atau vegetasi tertentu yang tumbuh pada batang sawit.
Hal ini karena gulma tersebut dapat memperlambat kumbang untuk menyerang daun. Kumbang akan memakan gulma pada batang terlebih dahulu sebelum menyerang daun. Selain itu, penting juga dilakukan sanitasi lahan di sekitar tanaman, seperti pembersihan batang dan pelepah tanaman. Pengendalian fisik hama ini bisa dilakukan dengan membuat perangkat feromon atau feromon trap untuk menangkap kumbang dewasa, untuk menekan serangan hama dan meminimalisir kerusakan tanaman.
Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman kelapa sawit sangat dibutuhkan untuk menunjang produksi dan kualitas sawit yang baik. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian hama terpadu berkelanjutan dengan pemantauan dimulai dari saat pembibitan, tanaman muda hingga tanaman menghasilkan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda