Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pertarungan Ruang Hidup di Era Perubahan Iklim dan Eksploitasi Sumber Daya

Pertarungan Ruang Hidup di Era Perubahan Iklim dan Eksploitasi Sumber Daya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
03 Januari 2024, 19.06 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Eksploitasi Sumber Daya
Sumber foto: Pixabay.com

JurnalPost.com - Baru-baru ini viral sebuah video pendek di sosial media memperlihatkan dua orang membawa tombak ke arah perekam video. Dilansir dalam akun Survival Internasional mengatakan bahwa dua orang tersebut berasal dari suku Hongana Manyawa, penduduk pedalaman asli di Halmahera. Mereka tampak ragu dan takut menyebrang sungai, berjalan ke arah perekam sembari mengangkat tombak. Tampak disana juga ada suara mesin berat yang diduga adalah buldoser. Saat mesin buldoser dinyalakan, mereka takut dan lari menjauh.

Menyaksikan video ini cukup memprihatinkan bagi saya. Survival Internasional mengatakan bahwa suku Hongana Manyawa belum pernah tersentuh oleh manusia luar. Saat raksasa datang ke ruang hidup mereka, muncul ketakutan dan keterancaman. Karena merasa takut dan terancam, mereka lari menghindari raksasa. Saya menggunakan istilah raksasa untuk menggambarkan teknologi-teknologi modern yang digunakan untuk menakut-nakuti mereka.

IKLAN

Suku Hongana Manyawa tampak tidak tahu apa alat berat yang menyerupai raksasa itu, yang mereka tahu adalah ada raksasa yang akan mengancam ruang hidupnya. Alat-alat berat dihadirkan untuk mengeruk nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Penggunaan mobil listrik sedang digencarkan oleh pemerintah karena dianggap lebih ramah lingkungan. Emisi CO2 disinyalir lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, sehingga dapat mengurangi polusi udara. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mendorong daya beli masyarakat terhadap mobil listrik.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Dalam konsep ketidakadilan iklim (Crate&Nuttal, 2016), masyarakat yang paling banyak diuntungkan dari kebijakan tersebut ialah mereka yang tinggal di perkotaan karena dapat menikmati udara yang sedikit lebih jernih. Namun bagaimana dengan masyarakat yang hidup di sekitar corong-corong pabrik hasil pembakaran batu bara? Mereka akan semakin banyak menghirup asap hasil dari pembakaran batu bara. Film dokumenter sexy killer memperlihatkan bahwa batubara merupakan energi kotor. Hasil pembakaran batubara membuat masyarakat mengalami gangguan pernafasan, lebih parahnya lagi dapat menyebabkan kanker paru – paru hingga kematian.

Penggunaan mobil listrik secara masif di perkotaan akan semakin meningkatkan pemanasan global, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU. Masyarakat perkotaan menikmati manfaat langsung dari mobil listrik, sedangkan masyarakat di sekitar pabrik harus menerima risiko terpapar berbagai penyakit. Selain itu, biaya kerugian yang dibayarkan secara materi tidak sebanding dengan kerugian ancaman kesehatan yang mereka dapat. Tampaknya istilah “siapa yang berbuat, siapa yang bertanggung jawab” tepat untuk menggambarkan kondisi ketidakadilan iklim tersebut.

IKLAN

Ketidakadilan serupa juga tampak dalam kasus penambangan nikel. Kebutuhan nikel sebagai bahan baterai untuk melancarkan bisnis mobil listrik telah mengorbankan ruang hidup suku Hongana Manyawa. Mereka dirugikan karena ruang hidup yang selama ini mereka jaga diganggu oleh kepentingan pertambangan nikel. Pembabatan hutan dilakukan untuk melancarkan kepentingan kaum bermodal, di sisi lain juga mengorbankan kaum marginal. Habisnya hutan sama dengan berkurangnya sumber daya alam. Pihak yang paling terdampak dalam situasi seperti ini ialah masyarakat yang menjadikan hutan sebagai rumah untuk hidup. Suku Hongana Manyawa adalah salah satu contohnya.

Apakah kasus pada suku Hongana Manyawa adalah kejadian pertama di Indonesia? Tentu tidak. Secara historis, hal serupa juga dialami oleh suku Anak Dalam di Jambi. Mereka mengalami perubahan ruang hidup karena ekspansi kapitalis dalam bentuk perkebunan sawit dan perubahan status kawasan hutan. Mereka dipaksa keluar dari produksi tanaman pangan tradisional supaya tunduk pada bisnis sawit yang menjanjikan kesejahteraan. Janji kesejahteraan yang diiming-imingkan nyatanya hanyalah sekedar janji. Banyak masalah mulai dari tumpang tindih penguasaan tanah hingga peminggiran dan penggusuran.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Selama ini kita tahu bahwa salah satu kekayaan milik Indonesia ialah keberagaman suku. Tentu hal ini merupakan sebuah hal yang patut disyukuri. Namun di lain sisi, permasalahannya adalah bagaimana kondisi suku-suku ini? apakah mereka sudah hidup sejahtera berdampingan dengan alam yang mereka punya? Ada beberapa suku yang telah diakui dan dilindungi wilayah adatnya oleh negara, seperti hutan adat Baduy, Nias, dan Toraja. Perlindungan wilayah adat sama dengan melindungi ruang hidup dan eksistensi suku-suku tersebut. Bagaimanapun juga suku-suku ini sejatinya merupakan garda terdepan dalam menjaga alam. Hidup dengan teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Mereka menganggap alam adalah sumber kehidupan, sehingga perlu dilestarikan. Hilang alam hilang pula identitas budaya. Dalam hal ini kebudayaan dimaknai sebagai bentuk respon terhadap kondisi lingkungan (Steward, 1968). Oleh karena itu, mengambil ruang hidup sama saja dengan mencabut mereka dari akarnya. Menghilangkan kebudayaan yang selama ini digunakan sebagai strategi bertahan hidup.

Solusi pembebasan lahan dengan memindahkan sekelompok suku ke ruang hidup lain bukanlah tanpa risiko. Pemindahan sama dengan mengubah budaya sebagai identitas diri. Mereka dituntut untuk masuk ke dalam budaya asing. Hal ini sama saja dengan upaya asimilasi yang mengarah pada dekulturisasi. Tidak ada seorangpun yang suka dipaksa untuk meninggalkan kebiasaan yang sudah dirawat sejak lama. Apalagi dipaksa untuk langsung menerima kebudayan yang asing dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, berbagai upaya pengakuan hak adat sangat diperlukan oleh suku-suku marginal yang ada di Indonesia. Pengakuan tersebut dapat melindungi mereka dari ketidakpastian hidup di masa yang akan datang.

Referensi: Crate, S.A. & Nuttal, M. (2016). Anthropology and Climate Change. New York: Routledge Steward, J.H. (1968). Cultural Ecology. International Encyclopedia of the Social Sciences Vol. 4 https://www.instagram.com/ reel/CzBtOKtMbBT/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=ZWQ3ODFjY2VlOQ== https://youtu.be/ qlB7vg4I-To?si=_I9kDUQhjcB0jihP

Profil penulis: Nama : Isna Maulida Ahmad Instansi : Mahasiswi Antropologi, Universitas Gadjah Mada

Asap Negara
Baca Juga

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pertarungan-ruang-hidup-di-era-perubahan-iklim-dan-eksploitasi-sumber-daya/63647/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 05.42 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.