Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Bayar Jasa Dokter Kini Lebih Praktis, Pasien Bisa Pakai QRIS BRI

  2. Mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya Amati Langsung Proses Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

  3. Pegawai DLH Pamekasan Ikuti Pelatihan Pengambilan Sampel Air di PPSDM Migas

  4. Ketika Kursi Lawan Kosong: Potret Sidang Perceraian di Pengadilan Agama Surabaya

  5. Strategi Mengatasi Mismatch Pengelolaan Aset untuk Menjaga Stabilitas Keuangan

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pertanian Bukan Sektor Kuno: Masa Depan SDM Indonesia Ada di Tangan Pekerja Terampil

Pertanian Bukan Sektor Kuno: Masa Depan SDM Indonesia Ada di Tangan Pekerja Terampil

W
Penulis: Wisnu Mauludin
30 September 2026, 20.00 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
6 menit baca
Pertanian Bukan Sektor Kuno
Ilustrasi petani memanfaatkan teknologi digital dan drone dalam aktivitas pertanian modern. Peningkatan keterampilan dan penguasaan teknologi menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia pertanian yang produktif dan adaptif. Foto: Ilustrasi/JurnalPost

JurnalPost.com - Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki wilayah pertanian yang luas dan sebagian masyarakat masih bekerja serta menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian.

Namun, di balik besarnya potensi tersebut, terdapat persoalan yang sering luput dari perhatian, yakni kualitas sumber daya manusia yang bekerja di sektor pertanian.

IKLAN

Ketika berbicara mengenai pembangunan ekonomi, perhatian publik sering kali lebih tertuju pada sektor industri, manufaktur, teknologi digital, maupun jasa modern. Sementara itu, pertanian masih kerap dipandang sebagai pekerjaan tradisional yang identik dengan tenaga fisik, pendapatan rendah, dan minim penggunaan teknologi.

Pandangan tersebut sudah seharusnya berubah. Pertanian saat ini justru membutuhkan sumber daya manusia yang semakin berkualitas dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Perubahan iklim, perkembangan teknologi, perubahan pola konsumsi masyarakat, digitalisasi pasar, hingga persaingan global membuat pekerjaan di bidang pertanian tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan pengalaman.

Masalahnya Bukan Kekurangan Tenaga Kerja, tetapi Kualitas dan Regenerasi

Salah satu persoalan penting yang perlu diperhatikan dalam sektor pertanian adalah regenerasi tenaga kerja.

Banyak generasi muda masih memandang pekerjaan di sektor pertanian sebagai profesi yang kurang menjanjikan dibandingkan bekerja di sektor industri, perdagangan, maupun bidang berbasis teknologi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sumber daya manusia dalam sektor pertanian bukan hanya mengenai jumlah orang yang bekerja, melainkan juga bagaimana meningkatkan kualitas, produktivitas, dan kesejahteraan mereka.

Apabila sektor strategis seperti pertanian terus dianggap sebagai pilihan pekerjaan kelas dua, Indonesia berpotensi menghadapi persoalan regenerasi tenaga kerja dalam jangka panjang.

Ketika generasi muda tidak tertarik memasuki sektor pertanian, besarnya sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak serta-merta mampu menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Petani Masa Kini Harus Menjadi SDM yang Adaptif

Perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi pekerja sektor pertanian. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi berbagai risiko dalam proses produksi.

Petani masa kini tidak cukup hanya memahami bagaimana cara menanam dan memanen. Mereka juga perlu memahami kondisi tanah, perubahan cuaca, penggunaan teknologi pertanian, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, hingga kebutuhan pasar.

Artinya, konsep sumber daya manusia dalam sektor pertanian harus bergeser dari sekadar tenaga kerja menjadi tenaga kerja yang memiliki kompetensi.

Perubahan tersebut menjadi penting karena tingkat produktivitas sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia.

Pekerja yang memiliki pendidikan, keterampilan, akses terhadap teknologi, serta kemampuan beradaptasi akan mempunyai peluang lebih besar untuk menciptakan nilai tambah dari hasil pertanian yang dikelolanya.

Jangan Hanya Mendorong Produksi, tetapi Tingkatkan Nilai Tambah

Selama ini, petani sering kali hanya berada pada tahapan awal rantai produksi. Padahal, keuntungan yang lebih besar justru dapat diperoleh melalui proses pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Hasil pertanian, misalnya, tidak harus selalu dijual dalam bentuk bahan mentah. Berbagai komoditas dapat dikembangkan menjadi produk makanan, minuman, produk kesehatan, maupun produk olahan lainnya yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

Di sinilah peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi sangat penting.

Pekerja sektor pertanian perlu mendapatkan kesempatan meningkatkan keterampilan tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga dalam bidang kewirausahaan, pengolahan produk, penggunaan teknologi digital, serta pemasaran.

Dengan demikian, pembangunan ketenagakerjaan tidak boleh berhenti pada penciptaan lapangan pekerjaan.

IKLAN

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana menciptakan pekerjaan yang produktif, memberikan nilai tambah, serta mampu meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah Tidak Bisa Hanya Memberikan Bantuan

Kebijakan pemerintah terhadap sektor pertanian juga perlu terus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Bantuan berupa alat produksi, subsidi, maupun bantuan sosial memang dapat membantu masyarakat, khususnya dalam jangka pendek. Namun, bantuan tersebut belum cukup untuk membangun sumber daya manusia yang kuat dan berdaya saing.

Investasi yang tidak kalah penting justru terletak pada peningkatan kompetensi pekerja.

Pelatihan kepada petani perlu dilakukan secara praktis dan berkelanjutan. Petani perlu mendapatkan kemampuan dalam menggunakan teknologi, mengelola usaha, mengakses pembiayaan, memahami pasar, hingga meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

Akses terhadap teknologi dan informasi juga perlu diperluas.

Digitalisasi dapat membantu petani mengetahui perkembangan harga pasar, memperoleh informasi cuaca, mencari calon pembeli, melakukan transaksi, hingga memperluas jaringan pemasaran.

Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan pertanian seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak bantuan yang diberikan kepada masyarakat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana bantuan tersebut mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi yang mereka miliki secara mandiri.

Mengubah Pandangan Generasi Muda

Membangun sumber daya manusia di sektor pertanian juga berarti mengubah cara pandang masyarakat terhadap profesi di dalamnya.

Menjadi petani tidak selalu berarti bekerja secara tradisional di sawah. Seorang petani dapat berkembang menjadi pengusaha agribisnis, pengelola teknologi pertanian, produsen pangan, pengolah hasil pertanian, maupun pelaku pemasaran digital.

Penguatan kualitas sumber daya manusia semakin penting mengingat pertanian memiliki posisi strategis dalam perekonomian dan ketahanan pangan Indonesia.

Generasi muda perlu memahami bahwa pertanian bukanlah sektor kuno.

Sebaliknya, pertanian dapat menjadi salah satu sektor yang sangat potensial pada masa mendatang apabila dikelola menggunakan pengetahuan, teknologi, inovasi, dan model bisnis yang tepat.

Indonesia Membutuhkan SDM, Bukan Sekadar Tenaga Kerja

Pada akhirnya, kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diiringi kualitas sumber daya manusia yang memadai.

Lahan pertanian yang luas membutuhkan petani yang produktif, kompeten, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Karena itu, pembangunan sektor pertanian harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan ketenagakerjaan Indonesia.

Fokus pembangunan tidak cukup hanya pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga harus mencakup peningkatan keterampilan, produktivitas, pendapatan, perlindungan, serta kesejahteraan para pekerja.

Apabila Indonesia mampu menciptakan petani yang melek teknologi sekaligus mendorong generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan, maka pertanian tidak hanya berperan sebagai penopang kebutuhan pangan.

Sektor tersebut juga dapat berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas.

Indonesia tidak kekurangan potensi. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan manusia yang mengelola potensi tersebut mempunyai kemampuan untuk mengubahnya menjadi produktivitas dan kesejahteraan.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pertanian-bukan-sektor-kuno-masa-depan-sdm-indonesia-ada-di-tangan-pekerja-yang-terampil/97915/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 15.04 WITA

  • #Ekonomi Indonesia
  • #Ketahanan Pangan
  • #Ketenagakerjaan
  • #pertanian
  • #petani milenial
  • #sumber daya manusia
  • #teknologi pertanian

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Strategi Mengatasi Mismatch Pengelolaan Aset untuk Menjaga Stabilitas Keuangan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Urgensi Literasi Digital bagi Generasi Z

Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

Cegah Kanker Serviks, KESDM Gelar Vaksinasi HPV di PPSDM Migas Cepu, Diikuti 87 Peserta

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Beban Menjadi Pendapatan: Mengubah TPA Menjadi Aset Ekonomi Daerah
  2. 2

    Asap Tebal Tak Surutkan Semangat, Tim 15 Ekspedisi Patriot UI Bekali UMKM Pala Werianggi-Werabur Keterampilan Branding dan Fotografi Produk

  3. 3

    Inovasi Pendidikan UM: Dosen dan Mahasiswa Kembangkan “DIGESTA” STEAM-Workbook untuk Tingkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa SMP

  4. 4

    Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

  5. 5

    Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.