JurnalPost.com - Ketahanan pangan dan kesiapsiagaan bencana merupakan dua isu strategis yang saling berkaitan dalam pembangunan desa berkelanjutan. Di wilayah pedesaan dengan topografi berbukit seperti Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, ancaman tanah longsor saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau menjadi tantangan nyata bagi kehidupan masyarakat. Ketergantungan masyarakat pada sektor pertanian menjadikan stabilitas lahan serta ketersediaan air sebagai faktor penting dalam menjaga produktivitas pangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penguatan ketahanan pangan perlu diiringi dengan langkah konservasi lingkungan yang tepat. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi bencana berbasis vegetasi menjadi salah satu strategi yang relevan untuk diterapkan di wilayah pedesaan.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap permasalahan tersebut, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 113 Universitas Sebelas Maret (UNS) di bawah bimbingan DPL Dr. Rokhmaniyah, M.Pd., mengusung tema “Ketahanan Pangan Mandiri dan Pengembangan Desa Siaga Bencana” melalui Program Pohon Serbaguna untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Program ini diwujudkan dalam kegiatan sosialisasi pentingnya penanaman Multipurpose Tree Species (MPTS). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026. Sosialisasi bertempat di Balai Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penanaman pohon serbaguna.
Kegiatan sosialisasi ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dr. Mafut Munajat, S.Hut., M.IL., selaku Kepala Seksi Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA). Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa MPTS merupakan jenis pohon serbaguna yang dapat menghasilkan produk pangan sekaligus memberikan manfaat ekologis. Pohon-pohon tersebut mampu membantu menjaga stabilitas tanah serta tata air di lingkungan sekitar. Tanaman seperti alpukat dan nangka madu dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang baik serta kandungan gizi yang tinggi. Selain itu, sistem perakaran kedua tanaman tersebut dinilai mampu memperkuat struktur tanah. Pada konteks Desa Clapar, keberadaan pohon MPTS dinilai sangat relevan sebagai solusi jangka panjang. Minimnya tutupan vegetasi permanen di beberapa titik lahan meningkatkan risiko erosi dan longsor. Penanaman pohon dengan sistem perakaran yang kuat dapat membantu menahan partikel tanah dan mengurangi limpasan air hujan. Selain itu, keberadaan pohon juga mampu meningkatkan proses infiltrasi air ke dalam tanah. Dengan demikian, MPTS dapat berfungsi sebagai benteng alami dalam mitigasi bencana. Di sisi lain, pohon tersebut juga dapat menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat.
Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pada poin 2 (Tanpa Kelaparan), penanaman MPTS mendukung terciptanya sistem pangan lokal yang beragam, bergizi, dan berkelanjutan. Pohon buah yang ditanam di pekarangan rumah dapat menjadi sumber pangan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar. Pada poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), penanaman pohon berkontribusi dalam penyerapan karbon dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung poin 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya rehabilitasi lahan serta pencegahan degradasi tanah. Secara tidak langsung, program ini juga berkontribusi pada poin 1 (Tanpa Kemiskinan) dan poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Sebagai bentuk implementasi nyata, kegiatan ini tidak hanya berupa pemaparan materi tetapi juga aksi simbolis penanaman pohon alpukat di sekitar Balai Desa Clapar. Penanaman simbolis tersebut menjadi representasi komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dan membangun ketahanan pangan mandiri. Selain itu, warga yang hadir memperoleh dua bibit tanaman, yaitu bibit alpukat dan bibit nangka madu. Masyarakat juga menerima pupuk untuk mendukung pertumbuhan awal tanaman tersebut. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi. Masyarakat juga menunjukkan komitmen untuk menanam dan merawat bibit yang telah dibagikan.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Penanaman MPTS bukan sekadar kegiatan penghijauan semata. Kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan desa. Integrasi antara nilai konservasi, ketahanan pangan, dan kesiapsiagaan bencana menjadi fokus utama program tersebut. Dengan langkah tersebut, Desa Clapar diharapkan dapat berkembang menjadi desa yang lebih tangguh dan mandiri. Selain itu, desa juga diharapkan mampu memiliki daya saing yang lebih baik di masa depan.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Sebelas Maret atas dukungan pelaksanaan KKN. Apresiasi juga diberikan kepada Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII atas sinergi dan kontribusi keilmuan yang diberikan. Terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Clapar serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif. Partisipasi berbagai pihak tersebut menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program ini. Besar harapan bahwa kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang. Program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun ketahanan pangan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Penulis: Rachmadani Fitri Suciati / KKN 113 UNS
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda