Oleh : Muhammad Ramdhan Ilhami, Azira Firdha, Mira Khoirunnisa, Eli Kasih Harefa
JurnalPost.com - Bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional, telah menjadi bagian penting dalam dinamika globalisasi, termasuk di Indonesia. Dari ruang kelas hingga laman media sosial, dari buku teks hingga komentar YouTube, bahasa ini hadir dalam berbagai bentuk dan fungsi. Namun, bentuk dan cara penggunaannya tidaklah tunggal. Ada perbedaan mendasar antara bahasa Inggris yang digunakan di dunia pendidikan yang bersifat formal dan bahasa Inggris yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang cenderung informal. Perbedaan ini bukan sekadar soal pilihan kata, tetapi juga menyentuh aspek budaya, tujuan komunikasi, serta identitas sosial penggunanya.
Penggunaan bahasa Inggris di dunia pendidikan menekankan pada struktur dan ketepatan tata bahasa. Mahasiswa atau pelajar dituntut untuk menggunakan struktur kalimat yang akurat, kosa kata akademis, serta mengikuti kaidah penulisan yang sudah distandardisasi. Seperti dijelaskan oleh Hyland (2006), tulisan akademik memiliki karakteristik yang bersifat objektif, formal, dan berfokus pada argumentasi logis. Oleh karena itu, frasa seperti “moreover”, “therefore”, dan “in contrast” lebih disukai dibandingkan ekspresi santai seperti “plus” atau “but then”.
Penggunaan passive voice dan kalimat kompleks juga lazim ditemukan. Misalnya, dalam sebuah laporan ilmiah, kalimat seperti “It was concluded that the experiment yielded inconclusive results” dianggap lebih tepat dibandingkan“We figured out that the experiment didn’t work.” Hal ini sejalan dengan pandangan Swales & Feak (2012) yang menyatakan bahwa bahasa akademik cenderung menghindari sudut pandang personal agar terdengar lebih netral dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, pendekatan ini sering menciptakan jarak antara pelajar dan penggunaan bahasa Inggris dalam konteks nyata. Banyak siswa yang mampu menyusun esai dengan struktur kompleks, namun kesulitan saat berbicara dalam situasi informal karena takut melakukan kesalahan.
Sebaliknya, bahasa Inggris informal lebih mengedepankan ekspresi personal dan efektivitas komunikasi, ketimbang ketepatan tata bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan digital dan sosial, frasa seperti “Wanna grab some coffee?”, “LOL, that’s so weird!”, atau “I’m gonna crash now.” sangat umum digunakan—dan semuanya akan dianggap tidak tepat dalam konteks akademik.
Seperti diungkapkan oleh Crystal (2011), bahasabahasa informal berkembang pesat di era digital karena media sosial mendorong gaya komunikasi yang ringkas, cepat, dan personal. Kata-kata slang seperti “ghosting”, “vibe”, atau singkatan seperti “brb”, “tbh”, bahkan emoji, memperkaya nuansa ekspresi tetapi sering kali membingungkan bagi pelajar yang hanya belajar bahasa Inggris dari buku teks konvensional.
Lebih jauh, penggunaan bahasa ini tidak hanya mencerminkan pilihan gaya bicara, tetapi juga membangun identitas sosial. Sebuah studi oleh Androutsopoulos (2006) menunjukkan bahwa gaya bahasa yang digunakan di media sosial mencerminkan afiliasi kelompok, generasi, bahkan aspirasi budaya dari penggunanya.
Di era digital yang cair ini, batas antara formal dan informal mulai kabur. Banyak email profesional yang diawali dengan sapaan “Hope you’re doing well”, dan tidak jarang dosen pun mulai menyisipkan humor atau gaya yang lebih santai dalam pembelajaran daring untuk menjaga kedekatan dengan mahasiswa.
Fenomena ini memperkuat pentingnya kompetensi register switching, yaitu kemampuan untuk beralih antara bahasa formal dan informal sesuai dengan konteks komunikasi. Seperti ditegaskan oleh Biber et al. (1999), keberhasilan komunikasi dalam bahasa Inggris sangat bergantung pada kesesuaian gaya bahasa dengan tujuan dan situasi. Seseorang yang hanya mahir dalam satu gaya bahasa akan mengalami hambatan dalam berbagai konteks, baik akademik, sosial, maupun profesional.
Akhirnya, perlu disadari bahwa bahasa adalah alat komunikasi, bukan sekadar ujian tata bahasa. Dalam ruang kelas, kita membutuhkan struktur dan ketepatan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kehangatan dan keluwesan berbahasa lebih diutamakan. Menguasai keduanya adalah bentuk literasi bahasa yang ideal.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah jika di pagi hari Anda menulis esai berjudul “An Analytical Review on Postcolonial Discourse in Modern Literature”, lalu sorenya mengirim pesan ke teman dengan isi “idk what’s going on tbh lol”. Dunia akademik dan dunia gaul masing-masing punya panggungnya. Dan menjadi mahir di keduanya, itulah keahlian berbahasa yang sebenarnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda