Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Waktu pada Pembelajaran Tematik di SD

Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Waktu pada Pembelajaran Tematik di SD

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
13 Juni 2025, 17.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Kesulitan Siswa dalam Memahami Konsep Waktu pada Pembelajaran Tematik di SD

Agrian Reonaldo (246910004), Fernanda Revina Putri (246910426), Muhammad Fadhila Warman (246910612), Sherin Adlia (246910276), Yundra Susanti (246910120), Zaskia Rahmi (246910244)

Dosen Pengampu: Dr. Dea Mustika, S.Pd., M.Pd Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan / Pendidikan Guru Sekolah Dasar

IKLAN

JurnalPost.com - Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kesulitan yang dialami oleh siswa Sekolah Dasar dalam memahami konsep waktu pada pembelajaran tematik berbasis Kurikulum Merdeka. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui bentuk-bentuk kesulitan yang muncul dalam proses pembelajaran, menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab dari kesulitan tersebut, serta memberikan rekomendasi strategi pembelajaran yang dapat membantu guru dalam menyampaikan konsep waktu secara lebih kontekstual dan sesuai dengan tahap perkembangan siswa.

BPDD Jakarta
Baca Juga

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembelajaran tematik merupakan pendekatan yang masih relevan dalam pendidikan dasar, terutama di kelas-kelas awal Sekolah Dasar (SD). Dalam Kurikulum Merdeka, pendekatan pembelajaran lebih berpusat pada siswa dengan memberikan ruang bagi mereka untuk mengalami pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan bermakna. Kurikulum ini menekankan pentingnya pengembangan kompetensi dan profil pelajar Pancasila, yang di antaranya mencakup kemampuan bernalar kritis, kreatif, serta memahami dan mengelola diri dalam berbagai konteks kehidupan nyata—termasuk dalam memahami konsep waktu.

Salah satu tema yang muncul dalam pembelajaran di fase fondasi (kelas I–II) maupun fase A (kelas III–IV) adalah tentang kegiatan sehari-hari, peristiwa dalam kehidupan, atau rutinitas, yang menuntut siswa untuk memahami konsep waktu. Pemahaman ini meliputi pengurutan kejadian, mengenali waktu (seperti pagi, siang, sore), hingga membaca jam. Namun dalam praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep waktu, baik secara abstrak maupun konkret. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pembelajaran tematik dalam Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran kontekstual dan berbasis pengalaman.

Kesulitan siswa dalam memahami konsep waktu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kemampuan berpikir anak usia dini masih berkembang dan cenderung berpikir konkret, sehingga mereka kesulitan memaknai hal-hal yang bersifat abstrak seperti urutan waktu atau durasi. Kedua, pendekatan pembelajaran yang digunakan guru kadang masih bersifat konvensional dan kurang melibatkan pengalaman nyata atau media visual yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ketiga, tidak semua guru memiliki pemahaman yang utuh dalam menerapkan prinsip diferensiasi dan pembelajaran berbasis proyek, seperti yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya kajian lebih lanjut terkait kesulitan siswa dalam memahami konsep waktu pada pembelajaran tematik di SD, khususnya dalam konteks penerapan Kurikulum Merdeka. Dengan memahami akar permasalahan dan karakteristik kesulitan yang dihadapi siswa, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih adaptif, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Hal ini juga sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas dalam proses belajar, serta pentingnya pengembangan potensi siswa secara holistik.

Riverbank Environmental Inspection
Baca Juga

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

PEMBAHASAN A. Konteks Pembelajaran Tematik dalam Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran, dengan menekankan pentingnya pengalaman belajar yang menyenangkan, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pada fase fondasi (kelas I–II) dan fase A (kelas III), pendekatan tematik terintegrasi tetap digunakan untuk mempermudah pemahaman konsep- konsep dasar yang berasal dari berbagai mata pelajaran.

Salah satu kompetensi yang diajarkan dalam pembelajaran tematik adalah pemahaman konsep waktu, yang muncul dalam tema-tema seperti Kegiatanku, Kegemaranku, atau Kegiatan Sehari- hari. Konsep waktu yang dimaksud tidak hanya terbatas pada mengenal urutan waktu (pagi, siang, sore, malam), tetapi juga mencakup kemampuan mengurutkan peristiwa, mengukur durasi waktu, serta menghubungkan aktivitas dengan waktu kejadian. Sayangnya, berdasarkan hasil observasi dan studi literatur, ditemukan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai konsep ini.

B. Bentuk-Bentuk Kesulitan yang Dialami Siswa 1. Kesulitan Mengenal Urutan Waktu Sehari-hari Banyak siswa belum mampu membedakan secara tepat antara pagi, siang, sore, dan malam. Mereka sering kali memberikan jawaban yang tidak konsisten ketika diminta menyebutkan kapan mereka melakukan kegiatan tertentu, misalnya ―makan siang‖ dikatakan terjadi di malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman waktu mereka masih belum stabil, terutama jika tidak dikaitkan langsung dengan rutinitas yang dialami sehari-hari.

2. Kesulitan Mengurutkan Peristiwa Dalam kegiatan menceritakan kembali kegiatan sehari-hari atau menyusun gambar berseri, beberapa siswa masih kesulitan mengurutkan peristiwa secara kronologis. Mereka cenderung menyebutkan kegiatan secara acak tanpa memperhatikan urutan logis.

Pengendara menggunakan ponsel saat berhenti di lampu merah, ilustrasi pelanggaran lalu lintas.
Baca Juga

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman konsep ―sebelum‖ dan ―sesudah‖ masih belum berkembang dengan baik.

IKLAN

3. Kesulitan Memahami Durasi Waktu Aspek lain yang cukup sulit dipahami siswa adalah estimasi atau pengukuran durasi suatu aktivitas. Misalnya, ketika ditanya ―berapa lama kamu menonton TV?‖, siswa sulit memberikan jawaban yang masuk akal. Ini menunjukkan bahwa durasi sebagai satuan waktu masih bersifat abstrak bagi mereka, terlebih jika belum diajarkan secara konkret dengan bantuan media seperti jam analog mainan atau simulasi waktu kegiatan.

C. Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Kesulitan-kesulitan di atas tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal:

1. Perkembangan Kognitif Anak Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, siswa usia SD kelas awal masih berada pada tahap operasional konkret. Mereka memahami dunia melalui pengalaman nyata dan benda konkret, sehingga konsep waktu yang bersifat abstrak cenderung sulit dipahami jika tidak disampaikan melalui media konkret atau aktivitas langsung. Hal ini sesuai dengan temuan di lapangan bahwa siswa lebih cepat memahami waktu ketika disertai gambar, jam tiruan, atau simulasi kegiatan harian.

2. Strategi dan Metode Pembelajaran yang Kurang Variatif Banyak guru yang masih mengandalkan metode ceramah dan LKS (lembar kerja siswa) yang cenderung kurang kontekstual dan tidak menyentuh pengalaman siswa secara langsung. Kurangnya penggunaan alat bantu visual, permainan edukatif, atau kegiatan berbasis proyek menyebabkan siswa tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka.

3. Kurangnya Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pembelajaran berdiferensiasi, di mana guru harus memperhatikan kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa. Namun kenyataannya, tidak semua guru mampu atau terbiasa menerapkan pendekatan ini. Akibatnya, siswa dengan gaya belajar visual, kinestetik, atau dengan kebutuhan khusus tidak terfasilitasi secara optimal, terutama dalam memahami konsep yang kompleks seperti waktu.

4. Keterbatasan Media dan Sumber Belajar Di beberapa sekolah dasar, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas lengkap, media pembelajaran yang mendukung pemahaman waktu seperti jam dinding interaktif, video kegiatan harian, atau aplikasi belajar digital belum tersedia. Hal ini membatasi kreativitas guru dalam menyampaikan materi secara konkret.

D. Implikasi terhadap Proses Pembelajaran Permasalahan dalam pemahaman konsep waktu tidak boleh dianggap sepele, karena kemampuan ini merupakan fondasi penting bagi pembelajaran lanjutan, seperti membaca waktu, membuat jadwal harian, serta memahami kronologi dalam pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, guru perlu merancang strategi pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain:

• Menggunakan media konkret seperti jam dinding mainan, kalender aktivitas, atau kartu kegiatan harian; • Menerapkan pendekatan berbasis proyek sederhana, misalnya siswa membuat buku harian bergambar tentang kegiatan selama seminggu; • Memanfaatkan permainan edukatif seperti "Tebak Jam", "Susun Kegiatan", atau "Roda Waktu"; • Memberikan pengalaman langsung melalui simulasi aktivitas (misalnya bermain peran‗sehari di rumah‘).

Melakukan pembelajaran reflektif dan diskusi terbimbing untuk mengaitkan waktu dengan pengalaman nyata siswa.

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kesulitan siswa dalam memahami konsep waktu pada pembelajaran tematik di Sekolah Dasar dalam konteks Kurikulum Merdeka, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep waktu masih menjadi tantangan bagi sebagian besar siswa, khususnya pada jenjang kelas awal. Kesulitan yang dialami siswa mencakup ketidakmampuan dalam membedakan urutan waktu (pagi, siang, sore, malam), ketidaktepatan dalam mengurutkan peristiwa secara kronologis, serta keterbatasan dalam memahami dan memperkirakan durasi suatu aktivitas.

Kesulitan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama, dari aspek perkembangan kognitif, siswa usia dini masih berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan media dan pengalaman nyata untuk memahami konsep yang bersifat abstrak seperti waktu. Kedua, strategi pembelajaran yang digunakan guru masih kurang bervariasi dan belum sepenuhnya kontekstual sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Ketiga, minimnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan keterbatasan media pembelajaran juga menjadi faktor penghambat dalam penyampaian materi konsep waktu secara efektif.

Dengan demikian, pemahaman siswa terhadap konsep waktu akan lebih optimal apabila guru dapat menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih konkret, kontekstual, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa. Upaya perbaikan perlu difokuskan pada pengembangan media pembelajaran yang relevan, pelatihan guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka secara maksimal, serta peningkatan pemahaman guru tentang pentingnya pembelajaran berdiferensiasi untuk mendukung perkembangan kognitif siswa secara holistik.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kesulitan-siswa-dalam-memahami-konsep-waktu-pada-pembelajaran-tematik-di-sd/82218/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.33 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Komentar untuk artikel ini ditutup.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali
  2. 2

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. 3

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  4. 4

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  5. 5

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.