Oleh: Afifah zahratun nissa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
JurnalPost.com - Ekosistem adalah sistem ekologi yang terdiri dari hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara lingkungan dan organisme hidup. Lingkungan alam juga dapat dipengaruhi oleh kerusakan atau ketidakseimbangan ekosistem, seperti dalam kasus bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Bencana tersebut dapat berupa banjir, tsunami, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya.
Kerusakan lingkungan mangrove merupakan salah satu ketidakseimbangan ekosistem yang perlu mendapat perhatian. Sekitar 1,7 juta hektar atau 44,73 persen hutan mangrove rusak di kawasan hutan, sedangkan 4,2 juta hektar atau 87,50 persen rusak di luar hutan. Hutan bakau hilang seluas 513.670 ha, atau 46.697 ha per tahun, antara tahun 1982 dan 1993. Hutan bakau biasanya ditemukan di kawasan pesisir yang terlindung di daerah tropika dan subtropika.
Padahal hutan mangrove merupakan ekosistem esensial yang menyangga kehidupan makhluk hidup lainnya. Hutan mangrove sangat berperan penting di lingkungan pesisir. Seperti berperan sebagai penahan gangguan seperti angin, ombak, penyaring bahan pencemar, pengendali banjir, peredam gelombang, menjernihkan air, mencegah abrasi dan erosi, pencegah intrusi aur laut ke daratan dan banyak fungsi lainnya
Hutan mangrove merupakan tipe ekosistem yang khusus dan berbeda. Mereka sangat berharga secara ekonomi dan ekologis, tetapi mereka juga cukup rentan terhadap kehancuran jika manajemen tidak memperhatikan pelestariannya.
Baik pengaruh alam maupun manusia berpotensi merusak ekosistem mangrove secara keseluruhan. Mangrove akan rusak oleh kekuatan alam seperti pengikisan gelombang laut, kerusakan biota laut, erosi, dan laju sedimentasi yang lebih tinggi.
Faktor manusia adalah faktor utama dari rusaknya ekosistem mangrove. Pemanfaatan sumber daya mangrove yang hanya mementingkan sisi ekonominya saja tanpa memperhatikan ekologisnya dapat menyebabkan keruskan mangrove. Peningkatan pertumbuhan penduduk sejalan pula dengan pengalihfungsian wilayah hutan mangrove menjadi wilayah pemukiman, pertanian , perkebunan, bangunan dermaga, penambangan, dan berbagai wilayah lainnya untuk menunjang kehidupan manusia.
Kegiatan manusia tersebut memberi pengaruh signifikan terhadap berkurangnya luas areal hutan mangrove di Indonesia baik secara langsung seperti penngalihfungsian lahan maupun secara tidak langsung seperti pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik.
Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, secara otomatis akan menyebabkan meningkatnya jumlah sampah baik sampah rumah tangga maupun sampah industri yang dibuang ke kawasan perairan pesisir.
Penebangan hutan secara berlebihan juga mejadi salah satu faktor rusaknya ekosistem mangrove, pohon mangrove tersebut ditebang untuk diambil kayu bakarnya, baik hanya untuk sekedar kebutuhan rumah tangga ataupun untuk dijual lagi.
Ekologi dan biota laut di sekitarnya dapat musnah jika mangrove rusak. Salah satu dampak perusakan ekosistem mangrove adalah erosi dan abrasi, karena hutan mangrove sendiri berperan sebagai pencegah erosi dan abrasi. Sebagian besar kegiatan pertanian laut dan payau tidak akan berlangsung akibat rusaknya ekosistem mangrove karena tidak tersedianya bibit yang banyak untuk ditanam. Hutan mangrove yang telah rusak juga akan mengganggu habitat laut. Pohon bakau, habitat plankton dan spesies ikan lainnya, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang rapuh. Berkurangnya ruang hijau untuk daerah resapan air dan pariwisata merupakan dampak lain yang dapat ditimbulkan.
Melihat realitas yang ada, harus ada pergerakan untuk memulihkan wilayah hutan mangrove agar ekosistem tetap dapat berjalan seimbang. Upaya untuk melindungi dan memelihara hutan mangrove tidak hanya dilaksanakan oleh satu pihak saja, melainkan semua pihak yang ada seperti masyarakat, pemerintah, swasta harus turut serta dalam berperan untuk melindungi dan memelihara hutan mangrove.
Presiden Jokowi Dodo pada puncak Penanaman Hutan Mangrove Nasional Serenta, oleh TNI di seluruh Indonesia tahun 2023 di TWA (Taman Wisata Alam) Angka Kapuk, Jakarta pada hari Senin 15 Mei 2023. (sumber : humas setkab/Agung)
Dalam hal ini, Presiden Republik Indonesia menghimbau seluruh masyarakat untuk merawat dan melestarikan hutan mangrove di seluruh Indonesia. Hal itu disampaikannya di depan awak media saat mendatangi acara yang diadakan oleh TNI di seluruh Indonesia tahun 2023 di TWA (Taman Wisata Alam) Angke Kapuk, Jakarta pada hari Senin, 15 Mei 2023 yaitu acara puncak Penanaman Mangrove Nasional Serentak.
“seperti yang kita ketahu, kita punya hutan mangrove terluas di dunia, yaitu 3,3 juta ha hutan mangrove. Itu yang mesti kita jaga, jika terdapat tempat yang terancam, kita tanam kembali agar tidak ada hutan mangrove rusak,” kata Presiden.
Presiden manyatakan bahwa hutan mangrove penting dalam memulihkan habitat alami bagi flora dan fauna. Oleh karena itu, Presiden Jokowi menegaskan proses reboisasi hutan mangrove akan terus dilakukan karena selain memulihkan habitat, mangrove berperan penting dalam menjaga kawasan pesisir. “Saya kira proses reboisasi hutan mangrove bukan hanya sampai di sini tapi lagi, lagi, dan lagi, ” kata Presiden.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memelihara dan melindungi hutan mangrove merupakan langkah awal yang dapat digunakan. Pemberian edukasi tentang pentingnya hutan mangrove haruslah dilakukan secara menyeluruh melalui pemberian training maupun pembelajaran di sekolah, kita dapat menjelaskan fungsi dan manfaat hutan ini serta dampak ketika hutan ini rusak. Selanjutnya adalah melibatkan masyarakat terhadap setiap kegiatan pengelolaan hutan, dengan begitu masyarakat akan merasa bertanggung jawab terhadap pemelihaaraan dan pelindungan hutan.
Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan kelompok masyarakat lokal. Masyarakat lokal memainkan peran yang sangat penting dalam konservasi mangrove. Mereka memiliki pengetahuan lokal yang berharga tentang ekosistem mangrove, termasuk pola pasang-surut, spesies yang hidup di dalamnya, dan praktik tradisional berkelanjutan dalam memanfaatkan sumber daya mangrove. Pengetahuan ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan yang berkelanjutan terkait penggunaan dan pelestarian mangrove.
Selain itu, masyarakat local memiliki ikatan emosional dan budaya yang kuat dengan mangrove. Kehidupan sehari-hari mereka terkait dengan ekosistem mangrove, dan mereka memahami betapa pentingnya mejaga kelestarian mengrove bagi mata pencaharian, keamanan pangan, dan identitas budaya mereka. Dorongan intrinsic ini sering kali menjadi motivasi yang kuat untuk terlibat dalam upaya konservasi mangrove.
Upaya lainnya adalah dengan memperbaiki penataan ruang, dengan diaturnya kembali wilayah pemukiman dan vegetasi, nantinya hutan mangrove tersebut dapat dijadikan sebagai wisata pantai. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan yang datang adalah menanam pohon bakau di pesisir pantai. Dengan begitu, hutan bakau akan tubuh subur serta dapat meningkatkan sisi ekonomi masyakat sekitar pesisir.
Hal ini dimaksudkan agar dengan melaksanakan upaya-upaya tersebut di atas, maka konservasi menjadi jelas sebagai landasan untuk menjaga hutan mangrove. Selain itu, dapat merancang rencana pengelolaan dan rehabilitasi yang sukses untuk melindungi hutan bakau Indonesia. Hutan mangrove memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pusat ekonomi utama bagi masyarakat pesisir. Selain itu, inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola hutan mangrove dengan tetap mempertimbangkan kelestarian.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda