JurnalPost.com - Pendidikan merupakan sarana prasana dalam mewujudkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, pengetahuan, norma, dan moral yang nantinya akan diterapkan dikehidupan masyarakat. Pada dasarnya tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah pembentuk karakter seseorang. Di Indonesia sendiri menekankan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Satu hal yang menarik pada jiwa anak adalah mereka memang bukan pendengar yang baik tetapi mereka adalah peniru yang hebat. Pendidikan karakter ini perlu dibangun pada diri siswa agar mengetahui baik/buruknya suatu perbuatan yang dilakukan supaya bisa diterapkan dalam kesehariannya dan ketika menghadapi suatu tantangan. Memasukkan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran sangatlah dibutuhkan. Disamping guru mengembangkan nilai-nilai karakter tersebut, siswa pun akan mempraktekan langsung dalam kegiatan pembelajarannya. Siswa akan dihadapkan dengan berbagai macam tantangan, disitulah pengimplementasian nilai-nilai karakter dilakukan.
Maraknya krisis moral pada anak sekolah dasar menginisiatif Novani Ramadhani yang merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara melaksanakan PKL 1, untuk menerapkan pendidikan karakter pada siswa SD Negeri 060929 Medan Johor, terkhususnya pada siswa kelas 3 SD. Kegiatan PKL ini merupakan pelaksanaan program Kampus Mengajar MBKM selama kurang lebih 4 bulan. Kegiatan ini bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Medan terhitung mulai tanggal 13 Mareta sampai dengan 30 Juni 2023.
Dalam penerapan program pendidikan karakter pada siswa kelas 3 SD Negeri 060929 Medan Johor. Saya yang bertanggungjawab penuh dalam menyelesaikan program hingga akhir. Sebelum program pendidikan karakter ini di mulai, tentunya membangung kelekatan pada anak menjadi kunci utama dalam keberlangsungan program ini. Pendekatan ini biasa dilakukan ketika siswa sedang istirahat bermain dengan memberikan mereka lagu kata-kata baik seperti terimakasih, maaf, dan tolong.
Sifat dari penerapan program ini lebih kepada semi terstruktur, semua kegiatan dijalankan berdasarkan modul. Meskipun pada metode penerapannya, Novani Ramadhani sebagai praktisi yang menjalankan program ini sangat memerhatikan suasana hati anak dan metode pendekatan yang bisa saja berbeda pada setiap waktunya. Berdasarkan hal tersebut, Novani Ramadhani membagi 4 (empat) kelompok anak dalam satu kelas yang berjumlah 28 siswa. Sehingga dalam metode mengajar ini, Novani Ramadhani menggunakan metode group work yang betujuan mencapai efektifitas anak dalam memahami alur komunikasi yang disampaikan oleh pendidik terkait pendidikan karakter. Selain itu melatih anak untuk bekerja sama dengan membudayakan karakter yang baik dan suportive sesama teman kelompoknya. Setiap kelompok dibimbing untuk melakukan role play terkait tema-tema karakter baik yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap penyampaian materi, Novani Ramadhani aktif dalam mengajak komunikasi anak yang cenderung diam. Komunikasi dalam penyampaian materi juga sangat bersifat atraktif seperti dilakukan dengan cara menari, ice breaking, dan melakukan role play drama. Setiap anak ditunjuk aktif dalam berperan aktif melakukan role play bagaimana berkarakter yang baik. Sehingga dalam kelas ini, tidak terjadi sesi tanya jawab tetapi pengulangan sugesti yang dikatakan berulang-ulang sehingga anak menemukan point penting dalam pendidikan karakter. Lagu tentang karakter baik juga dinyanyikan ketika masuk dan keluar kelas sehingga anak mampu mengingat bagaimana karakter yang terpuji. Dalam pemaparan terkait pendidikan karakter ataupun saat bermain drama, terdapat beberapa anak yang berucap ‘kotor’ dan juga saling tuduh menuduh mengatakan temannya sering berucap ‘kasar’ dan ‘kotor’.
Novani Ramadhani menggunakan metode group work yang memudahkanmenjangkau penanganan siswa yang akan lebih diperhatikan dibandingkan yang lain dalam penerapan pendidikan karakter tersebut. Tahapan yang dilakukan dalam menangani permasalahan pada siswa kelas 3 SD Negeri 060929 Medan Johor tersebut adalah dengan cara:
1. Engagement, Intake, Contract: Tahapan ini merupakan tahap mula dan dasar tetapi sangat menentukan keberhasilan. Novani Ramadhani melakukan pendekatan emosional terhadap beberapa siswa yang harus diberikan perhatian khusus. Pendekatan emosional ini dilakukan ketika jam istirahat, sering menanyakan kabar ketika berpapasan di jalan, dan lebih sering menjalin komunikasi kepada beberapa anak tersbut.
2. Assessment : Tahapan ini adalah tahapan selanjutnya ketika sudah terjadi bonding ataupun pendekatan emosional. Praktisi menggali permasalahan klien menggunaka teknik wawancara dan observasi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan telah disusun sehingga paktisi lebih mudah menemukan inti dari permasalahan tersebut.
3. Planning: Planning dilakukan ketika permasalahan sudah tergambar dan praktisi sudah mampu membayangkan bagaimana tahapan selanjutnya dapat terencana sesuai dengan tujuan . Strategi perencanaan ini bersifat terancang dan atraktif dalam menarik perhatian anak SD. Seperti yang dilakukan oleh saya sebagai praktisi penerapan pendidikan karakter di kelas ini dengan cara membuat list centang anak terkait apakah mereka sudah salam pagi, sudah menyapa teman dan guru, berapa kali memuji teman, dan mengucapkan kata-kata baik.
4. Intervensi: pada tahapan ini anak akan menyepakati apa saja yang sudah diplaningkan. Tujuannya adalah untuk melihat perubahan pada anak karakter anak. Beberapa anak yang termasuk kepada golongan memiliki karkater kurang baik sudah mulai melakukan beberapa list yang sudah direncanakan.
5. Evaluasi: Tahap ini merupakan penilaian terhadap pencapaian tujuan yang telah direncanakan dan disepakati bersama . Evaluasi juga bertujuan apakah tujuan tercapai. Berdasarkan hasil evaluasi, berdasarkan observasi dan list centang karakter baik anak belum terisi sempurna dalam berkelakukan baik. Tetapi telah menunjukkan adanya kemajuan dari sebelum dilakukannya penerapan pendidikan karakter dengan yang sekarang. Anak rutin melakukan salam, menyapa, memuji meskipun sesekali masih berbahasa yang kasar dan kotor.
6. Terminasi: Tahap ini merupakan penghentian proses bantuan praktisi dalam penerapan pendidikan karakter anak yang bersangkutan. Dalam tahap akhir ini, Novani Ramadhani menghentikan proses bantuan dengan melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Novani pada setiap harinya sehingga hal ini bisa menjadi kebiasaan yang melekat pada anak. Berakhirnya tahapan PKL 1, Novani Ramadhani mengucapkan terimakasih kepada Kepala Sekolah SDN 060929 Medan Johor yang telah memberikan kepercayaan dan mendukung program pendidikan karakter ini pada siwa anak kelas 3, Selanjutnya juga ucapan sayang dan terimakasih sebanyak-banyaknya pada seluruh guru, wali kelas, dan siswa-siswa 3 SD.
Yang mana atas bantuan arahan dan bimbingand ari Bapak Ibu guru, staf, kepala sekolah yang terlibat memberikan pengalaman yang sangat berharga dan menyanjungkan di hati saya. Harapannya semoga program ini dapat terus dilanjutkan dan dapat mengembangan karakter baik pada seluruh siswa, tidak hanya pada siswa kelas 3 SD saja.
Oleh Novani Ramadhani, Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda