Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Peluang Benturan Identitas dan Catatan Konflik : Bagaimana NTT Merawat Toleransi?

Peluang Benturan Identitas dan Catatan Konflik : Bagaimana NTT Merawat Toleransi?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
05 Agustus 2023, 20.41 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Peluang Benturan Identitas dan Catatan Konflik : Bagaimana NTT Merawat Toleransi?

JurnalPost.com - Beberapa waktu lalu lewat media sosial (TikTok), sempat ramai sebuah video unggahan yang menampilkan salah seorang Pendeta terkenal di NTT dalam suatu khotbahnya. Video tersebut dibanjiri komentar berupa nada kritikan netizen, banyak diantaranya masyarakat NTT yang kemudian merespon dengan menstich unggahan tersebut.

Dia dianggap keliru menyampaikan pengetahuan tentang sejarah agama kristen dan pemisahannya dari agama katolik. Beberapa komentar juga menyayangkan sikap pemuka agama tersebut yang dapat mengganggu harmonisasi dan kerukunan beragama di NTT. Kasus ini beruntungnya tidak menciptakan gelombang reaksi yang berkepanjangan. Namun, kasus ini perlu menjadi catatan tersendiri untuk mengajak kita kembali memeriksa sejauh mana toleransi bergama di NTT terbentuk, “apa faktor pendukung dan penghambatnya, dan apa saja peluang yang bisa didapatkan?”. Atau pertanyaan yang lebih refleksif tentang “apakah masyarakat NTT sudah benar-benar toleran?”.

IKLAN

Selain mempertanyakan soal kerukunan beragama di NTT, toleransi yang dalam pandangan Robert D.Putnam sebagai modal penting untuk kehidupan demokrasi, juga tidak melulu dikontekskan dalam relasi keagamaan. Sebagai bangsa multikultural dengan persoalan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), NTT dihadapkan dengan dinamika toleransi yang cukup kompleks. Apalagi jika dikaitkan dalam situasi politik baik lokal maupun nasional yang dapat meningkatkan volume ketegangan identitas di NTT.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kerukunan Masyarakat di NTT dan Konflik dibaliknya Penobatan sebagai provinsi dengan tingkat toleransi tertinggi di NTT sejatinya bukan tanpa sebab. NTT adalah daerah dengan penduduk yang multikultural. Dalam data BPS tahun 2022, pemeluk agama Kristen tercatat berjumlah sebanyak 89,82%, di mana jumlah pemeluk agama Katolik berjumlah 53,55% dan Kristen Protestan 36,27%. Sedangkan pemeluk agama islam berjumlah 9,25%, pemeluk agama Hindu 0,18%, dan Budha 0,01%. Kemudian suku yang terdapat di NTT berjumlah hingga 45 lebih jenis suku. NTT juga memiliki bahasa yang beragam, dalam data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi NTT tahun 2021, tercatat berjumlah 86 bahasa yang dikelompokkan menjadi 12 kelompok besar. Selain keberagaman identitasnya, dalam praktiknya sehari-hari kerukunan antar umat beragama dan suku dapat terjalin lewat aksi gotong royong dalam pembangunan rumah ibadah, partisipasi perayaan keagamaan yang melibatkan beberapa agama tertentu dan bentuk-bentuk kerukunan lainnya.

Keharmonisan tersebut memiliki unsur fundamental yang kuat berdasarkan budaya kearifan lokal dengan makna filosofisnya yang telah sejak lama terbentuk di NTT. Misalnya, di Manggarai Barat terdapat suatu aktivitas musyawarah antar masyarakat yang dikenal dengan istilah Nempung. Lalu di Manggarai juga terdapat istilah yakni Lonto Leok, sebuah tradisi musyawarah yang dilaksanakan untuk membicarakan kepentingan bersama diatas perbedaan. Di tempat lain di Flores yakni di suku Sikka terkenal sebuah istilah untuk kegiatan musyawarah yakni Kulababong.

Selain itu, kerekatan ini juga didukung dengan slogan-slogan persatuan yang terus didengungkan sebagai simbolisasi persatuan antar masyarakat di NTT. Sebut saja “katong Samua Basodara”, atau “Nusa Tinggi Toleransi”. Namun, dalam beberapa catatan terdapat beberan fakta yang menunjukan hal yang sebaliknya. NTT tidak selamanya hidup dalam keharmonisan yang tunggal, sebagai daerah yang penuh keberagaman tidak jarang potensi konflik dapat mencuat kapan saja.

Salah satu yang dapat diingat adalah kerusuhan antar umat beragama di Kota Kupang, tahun 1998 silam. Dalam Laporan Investigasi Awal-1 Tentang Kerusuhan Kupang dan sekitarnya (30 November-1 Desember) tercatat ada 15 masjid di Kupang yang hancur dan terbakar. Selain itu, terdapat rumah dan fasilitas yang berkaitan dengan umat muslim juga dihancurkan oleh massa. Situasi ini disebabkan juga atas tragedi pada Mei 1998 yang membawa juga letupan konflik berbau SARA di tiga tempat yang berbeda yakni di Ambon, Poso, dan juga NTT.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Selain konflik bersejarah tersebut, kerusuhan berbau SARA juga sempat terjadi setelahnya (Pasca reformasi). Terdapat beberapa kasus penolakan perihal pembangunan rumah ibadah, misalnya pembangunan Masjid Nur Musafir di Kecamatan Alak, Kota Kupang dan konflik pembangunan Masjid Jami Al Muhajirin di Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU).

Ketegangan antara suku-suku di NTT juga sering memantik konflik yang beberapa diantarnya berakhir dengan konflik berdarah. Misalnya konflik antara dua suku di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur akibat sengketa tanah. Konflik tersebut berujung pada tewasnya 6 orang warga Desa Sandosi. Konflik berbau suku bahkan seringkali rawan terjadi akibat faktor perebutan sumber daya dan faktor historis, seperti konflik antara masyarakat eks Timor Timur dengan beberapa kelompok masyarakat di NTT.

IKLAN

Pergolakan Politik dan Dinamika Toleransi Berbicara soal toleransi sering terkait bagaimana individu atau kelompok menghadapi perbedaan. Sesuatu dapat dianggap toleran jika dia mampu menerima, bahkan menghargai perbedaan. Dalam pandangan Tillman toleransi disebut sebagai faktor yang esensial dalam menciptakan suatu perdamaian.

Namun demikian, toleransi bukanlah konsepsi nilai yang independen, kaku, dan statsis. Toleransi adalah konsepsi yang tidak lepas dari unsurnya yang paradoks dan multidimensional. Dengan kata lain, toleransi selalu berkorelasi dengan aspek-aspek lainnya, salah satunya adalah aspek politik.

Asap Negara
Baca Juga

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dengan faktor antropologis, sejarah, dan filosifisnya yang kuat, toleransi yang terbentuk di NTT juga sangat begitu bergantung dengan gejolak politiknya. Pergolakan politik seringkali berpeluang menghadirkan benturan-benturan identitas. Suasana ini seringkali muncul dalam kontestasi politik dan menciptakan perebutan kepentingan dibaliknya. Efek struktural terhadap gesekan identitas ini tidak jarang membuat disparitas yang cukup lebar dan efek yang cukup membekas.

Selain itu, praktik politik identitas yang sering menjadi senjata politik dalam kontestasi Pemilu dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan kerukunan di NTT. Salah satu yang bisa diingat adalah kontes Pilkada tahun 2018 lalu.

Kontestasi politik itu dianggap berkaitan erat dengan efek politik identitas yang terjadi di Jakarta. Efek domino itu bermuara pada kasus penistaan yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sehingga berbuntut pada aksi massa yang dikenal sebagai “Gerakan 212”.

Situasi itu, kemudian membawa pengaruh politik di NTT. Narasi politik identitas pun menguat seiring dengan dukungan yang disalurkan oleh berbagai kelompok masyarakat di NTT untuk mendukung Ahok. Political oppotunities itu lalu dimanfaatkan oleh pasangan Viktory-Joss untuk memakai kampanye berbau identitas dengan membawa isu Ahok, sekaligus mendatangkan adik kandung Ahok, Vivi Lety Purnama.

Merawat Kerukunan dan Melihat Peluang Dengan penobatannya sebagai provinsi paling toleran di Indonesia. wacana ini tidak saja menciptakan kesan positif bagi masyarakat NTT. Namun, perlu diingat bahwa status ini terkadang menjadi keadaan anomali bagi NTT dengan fakta lain bahwa daerah ini dikategorikan sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Masyarakat pun tidak boleh memalingkan pandangan atas fakta empirik yang memprihatinkan tersebut. Problem yang cukup kompleks ini tidak boleh begitu saja terbius oleh penobatan yang terus direpetisi sebagai sebuah potret kerukunan. Namun disisi lain, melihat pada aspek peluang dengan mendapatkan keuntungan dalam sektor ekonomi politik yang terbuka akan jauh lebih penting.

Dengan kata lain, modal sosial yang kuat ini perlu dirasionalisasikan sebagai peluang yang membawa keuntungan besar bagi NTT. Tidak saja bangga dengan toleransi yang ada, merawat kondisi ini akan membawa NTT dalam mendapatkan berbagai kesempatan. Oleh sebab itu, fondasi kultural yang kuat sebagai daerah toleran perlu terus dirawat. Selain itu, kesadaran atas ancaman akan ekses kekuasaan yang sering mengambil keuntungan dibalik sistem luhur harus terus dibangun. Konsolidasi inilah yang demikian semakin menjauhkan posisi NTT dari hantaman keretakan dan perpecahan.’

Penulis : Anselmus A.Y Barung Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UGM

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/peluang-benturan-identitas-dan-catatan-konflik-bagaimana-ntt-merawat-toleransi/56950/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 05.43 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  4. 4

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.