JurnalPost.com - Mendekati hari pencoblosan pada 27 November, pasangan calon (Paslon) 03, Muhammad Sa'bani - Syukri Wahid, masih bergelut dengan masalah besar: rendahnya tingkat popularitas. Dibandingkan dengan pasangan lainnya, nama Sa'bani-Syukri tidak cukup terdengar di kalangan masyarakat Balikpapan. Tantangan ini mengundang kekhawatiran apakah mereka mampu membangun kesan yang kuat di benak para pemilih.
Dalam beberapa survei internal, popularitas Paslon 03 tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ini menjadi tanda tanya besar, mengingat semakin ketatnya persaingan menuju hari pemilihan. Salah satu alasan di balik minimnya popularitas ini adalah kurangnya kampanye yang efektif dan menarik. Mereka tampaknya belum maksimal dalam memanfaatkan media sosial, padahal saat ini, kampanye digital menjadi salah satu kunci utama untuk menjangkau masyarakat luas.
- Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia di Kota Balikpapan yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
- Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 400 orang. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 400 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error-MoE) sekitar $5% pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh kecamatan di Kota Balikpapan yang terdistribusi secara proporsional.
- Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.
- Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.





Seorang pengamat politik lokal menyebutkan bahwa Paslon 03 terkesan lambat merespons tren kampanye modern. “Di era digital seperti ini, kehadiran di media sosial menjadi sangat penting. Sayangnya, Sa'bani-Syukri masih mengandalkan metode tradisional yang kurang mampu menarik perhatian,” katanya. Keterbatasan ini berpengaruh langsung pada ketidaktahuan masyarakat tentang program-program mereka.
Sebaliknya, pasangan rival telah memanfaatkan platform digital dengan optimal, menjadikan program-program mereka lebih familiar di telinga publik. Warga Balikpapan membutuhkan pemimpin yang terasa dekat dan dapat diakses dengan mudah, terutama dalam menyampaikan ide-ide yang mampu meyakinkan pemilih. Tanpa upaya lebih keras, Sa'bani-Syukri berisiko tertinggal jauh dari lawan mereka.
Waktu kampanye yang tersisa menjadi peluang terakhir bagi Paslon 03 untuk memperbaiki strategi mereka. Jika mereka ingin meningkatkan elektabilitas, dibutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dan interaktif. Masyarakat menanti sesuatu yang baru, bukan janji lama yang terus diulang tanpa terobosan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda