JurnalPost.com - Ditengah pesatnya arus digitalisasi dan modernisasi, keberadaan perpustakaan sebagai penjaga warisan pengetahuan dan kebudayaan tetaplah menjadi pemegang peranan penting. Perpustakaan merupakan lumbung warisan pengetahuan dan kebudayaan yang tak ternilai harganya. Institusi di Yogyakarta yang hingga saat ini masih merawat dan menjaga warisan pengetahuan salah satunya ialah Perpustakaan Museum Sonobudoyo. Perpustakaan Museum Sonobudoyo tidak hanya sedakar ruang penyimpanan buku saja, melainkan gudang ilmu dan jejak sejarah. Di dalamnya tersimpan beragam koleksi arsip, majalah, buku langka, dan beberapa literatur penting yang tidak hanya mencerminkan kekayaan intelektual masa lalu, namun juga menjadi sumber rujukan kajian sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Museum Sonobudoyo tidak hanya dikenal sebagai institusi budaya yang memfokuskan diri pada pelestarian artefak, seni, dan tradisi masyarakat Jawa, Bali, dan Madura. Namun, juga memiliki perpustakaan yang menyimpan kekayaan yang tidak kalah penting dengan menawarkan koleksi dari masa kolonial hingga masa sekarang. Koleksi tersebut berupa naskah-naskah kuno, buku-buku langka dalam bahasa Belanda dan Jawa, majalah kebudayaan tempo dulu, hingga buku-buku literatur dari berbagai kategori. Koleksi-koleksi yang ada di Perpustakaan Museum Sonobudoyo ini tersimpan dan terawat dengan sangat baik. Keberadaan koleksi-koleksi berharga ini menegaskan peran perpustakaan bukan hanya sebagai penyedia informasi saja, namun juga sebagai penjaga memori kolektif bangsa.

Pada bulan Maret 2025 enam mahasiswa Program studi Ilmu Sejarah UNS ikut terlibat dalam merawat dan menjaga jejak warisan sejarah yang tersimpan di dalam Perpustakaan Museum Sonobudoyo. Melalui kegiatan Magang MBKM enam mahasiswa berkolaborasi untuk mengenal, menjaga dan merawat koleksi buku-buku langka yang sudah rapuh dimakan usia, namun tetap rapi tersimpan di barisan rak-rak kayu dan lemari kaca. Kegiatan magang ini bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja. Lebih dari sekadar praktik, kegiatan ini juga menanamkan kesadaran akan nilai historis dan intelektual yang terkandung dalam setiap koleksi.
Mahasiswa Ilmu Sejarah tidak hanya bergelut dengan teori dan analisis peristiwa masa lalu, tetapi juga dituntut untuk memahami langsung bagaimana bukti sejarah dijaga dan dilestarikan. Kesempatan magang di Perpustakaan Museum Sonobudoyo menjadi wadah nyata bagi Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk terlibat aktif dalam upaya pelestarian warisan pengetahuan bangsa. Magang ini tidak hanya memberikan pengalaman teknis, tetapi juga membentuk kesadaran dan pemahaman akan budaya kerja dalam suatu instansi. Kegiatan magang juga memberikan kesadaran akan pentingnya menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui warisan pengetahuan yang masih bisa diakses hingga saat ini.

Koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan ini, banyak yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun, sehingga secara alami kondisi fisiknya telah mengalami kerapuhan. Selain itu, faktor lain seperti kelembapan udara dan serangga juga menjadi penyebab rapuhnya koleksi buku yang ada. Dibawah bimbingan dan arahan pustakawan, mahasiswa magang diajarkan berbagai teknik konservasi dan perawatan untuk menjaga kondisi fisik koleksi buku yang ada. Kegiatan perawatan diawali dengan langkah dasar yaitu membersihkan debu yang menempel pada buku menggunakan kuas agar tidak merusak bahan kertas yang rentan sobek. Selanjutnya, pemahaman tentang pentingnya kontrol suhu ruang penyimpanan. Suhu yang stabil dan terkontrol sangat berperan untuk mencegah percepatan degradasi kertas, pertumbuhan jamur, serta aktivitas serangga, sehingga memastikan koleksi tetap terjaga dalam kondisi optimal untuk generasi mendatang.

Kegiatan perawatan buku bukan sekadar tugas rutin, melainkan sebuah bentuk dedikasi dan penghormatan terhadap jejak-jejak masa lalu yang terekam dalam setiap lembaran kertas tua nan rapuh. Dalam setiap lembarnya tersimpan nilai sejarah dan informasi yang tak ternilai, maka dibutuhkan perlakuan khusus agar setiap informasinya dapat tetap terjaga. Melalui pengalaman langsung ini tidak hanya mengasah keterampilan konservasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mendalam akan nilai sejarah dan budaya yang diemban oleh koleksi-koleksi tersebut. Tugas-tugas tersebut mungkin terdengar sederhana, namun memiliki makna yang sangat besar. Menjadikan mereka garda terdepan dalam melindungi warisan intelektual bangsa dari gerusan waktu dan kerusakan, memastikan keberlanjutan pengetahuan untuk masa depan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda