Oleh: Khoerunisa
NIM: 231010504424
JurnalPost.com - Di tengah transformasi digital dan perubahan dunia bisnis yang semakin cepat, kemampuan perusahaan untuk bertahan tidak hanya bergantung pada teknologi, modal, atau strategi pemasaran. Faktor manusia tetap menjadi bagian penting yang menentukan kemampuan organisasi dalam beradaptasi menghadapi perubahan.
Namun, dalam praktiknya, masih terdapat perusahaan yang lebih menitikberatkan pengelolaan sumber daya manusia pada efisiensi jangka pendek. Program pelatihan karyawan sering kali dilaksanakan sebagai kegiatan rutin atau baru diberikan ketika perusahaan menghadapi kebutuhan tertentu. Padahal, pengembangan sumber daya manusia seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang yang berkaitan langsung dengan keberlanjutan organisasi.
Pelatihan dan Pengembangan SDM Bukan Hal yang Sama
Dalam manajemen sumber daya manusia, pelatihan dan pengembangan memiliki tujuan yang berbeda meskipun keduanya saling berkaitan.
Raymond A. Noe dan Malayu S.P. Hasibuan menjelaskan bahwa pelatihan pada umumnya diarahkan pada peningkatan keterampilan yang dibutuhkan karyawan untuk menjalankan pekerjaan saat ini. Orientasinya cenderung lebih spesifik dan berjangka pendek, misalnya meningkatkan kemampuan teknis, memahami prosedur kerja, atau memenuhi standar operasional perusahaan.
Sementara itu, pengembangan sumber daya manusia memiliki cakupan yang lebih luas.
Sondang P. Siagian, Kurniawati, dan Rio Nardo menempatkan pengembangan SDM sebagai proses jangka panjang yang bertujuan meningkatkan kapasitas intelektual, konseptual, keterampilan, hingga kemampuan kepemimpinan seseorang.
Artinya, pengembangan tidak hanya membuat seorang karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya hari ini. Pengembangan juga mempersiapkan karyawan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar dan menghadapi perubahan kebutuhan organisasi di masa depan.
Perbedaan tersebut penting dipahami. Perusahaan yang hanya mengandalkan pelatihan teknis berisiko memiliki karyawan yang mampu menjalankan pekerjaan saat ini, tetapi belum tentu siap menghadapi perubahan teknologi, struktur pekerjaan, maupun tuntutan bisnis beberapa tahun mendatang.
Pelatihan Tanpa Perencanaan Bisa Kehilangan Efektivitas
Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah pelaksanaan pelatihan tanpa didahului pemetaan kebutuhan yang jelas.
Andayani dan Hirawati dalam penelitian mengenai pelatihan dan pengembangan SDM di PT Pos Indonesia Cabang Kota Magelang menunjukkan pentingnya pengelolaan program SDM yang terencana dalam kaitannya dengan kinerja karyawan.
Program pelatihan tidak cukup sekadar diselenggarakan. Materinya harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, kemampuan peserta, serta tujuan organisasi.
Jika perusahaan memberikan pelatihan yang tidak berhubungan dengan kebutuhan nyata karyawan, manfaatnya tentu tidak akan maksimal. Hal serupa dapat terjadi ketika program hanya menyasar kelompok atau jenjang tertentu, sementara kebutuhan pengembangan pada tingkat operasional tidak memperoleh perhatian yang memadai.
Karena itu, perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu kesenjangan kompetensi yang dimiliki tenaga kerjanya.
Pertanyaannya bukan sekadar, "Pelatihan apa yang akan diadakan tahun ini?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Kemampuan apa yang dibutuhkan perusahaan dan karyawan untuk menghadapi tantangan beberapa tahun ke depan?"
Dari pertanyaan tersebut, perusahaan dapat menyusun program pengembangan yang lebih tepat sasaran.
Pengembangan SDM sebagai Investasi Jangka Panjang
Keterampilan teknis dapat berubah dengan sangat cepat. Kemampuan yang relevan hari ini belum tentu memiliki nilai yang sama beberapa tahun mendatang, terutama ketika teknologi dan metode kerja terus berkembang.
Inilah alasan mengapa perusahaan perlu memandang pengembangan SDM sebagai investasi.
Investasi dalam manusia tidak hanya berupa pelatihan formal. Perusahaan dapat mengembangkan karyawan melalui program mentoring, coaching, rotasi pekerjaan, pendidikan lanjutan, pembelajaran mandiri, pengembangan kepemimpinan, hingga pemberian kesempatan terlibat dalam proyek strategis.
Melalui proses tersebut, karyawan memperoleh kesempatan untuk memperluas kemampuan sekaligus memahami organisasi secara lebih menyeluruh.
Ketika perusahaan memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang, hubungan antara organisasi dan pekerja juga dapat menjadi lebih kuat. Karyawan tidak hanya diposisikan sebagai tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi sebagai aset yang memiliki potensi untuk terus berkembang bersama perusahaan.
Teknologi Membuka Peluang Pengembangan yang Lebih Luas
Perkembangan teknologi digital juga mengubah cara perusahaan mengembangkan sumber daya manusia.
Wardatun Nikmah dan rekan-rekannya membahas pemanfaatan teknologi dalam pengembangan SDM. Kehadiran teknologi memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih fleksibel, mudah diakses, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Perusahaan kini dapat menggunakan Learning Management System (LMS), platform pembelajaran daring, sistem manajemen talenta, hingga analisis berbasis data untuk mengidentifikasi kebutuhan kompetensi karyawan.
Dengan teknologi tersebut, perusahaan dapat memantau perkembangan keterampilan, menyediakan materi pembelajaran sesuai kebutuhan, serta mengevaluasi efektivitas program secara lebih sistematis.
Namun, teknologi tetap merupakan alat pendukung. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menentukan arah pengembangan yang jelas.
Platform digital yang canggih tidak akan memberikan banyak manfaat apabila perusahaan sendiri tidak mengetahui kompetensi apa yang perlu dikembangkan.
Pengembangan Harus Dimulai dari Analisis Kebutuhan
Muhammad Yusuf dan Robi Hendra menekankan pentingnya pelatihan dan pengembangan SDM yang dilakukan secara berkelanjutan.
Salah satu langkah penting adalah melakukan analisis kebutuhan pengembangan. Perusahaan perlu melihat kemampuan yang telah dimiliki karyawan kemudian membandingkannya dengan kompetensi yang dibutuhkan organisasi saat ini maupun di masa depan.
Dari proses tersebut, perusahaan dapat mengetahui kesenjangan kompetensi yang perlu diperbaiki.
Program pengembangan kemudian dapat disusun secara lebih terarah melalui kombinasi pelatihan teknis, mentoring, coaching, praktik kerja, hingga evaluasi berkala.
Evaluasi juga menjadi bagian penting. Perusahaan perlu mengetahui apakah program pengembangan benar-benar meningkatkan kompetensi karyawan dan memberikan dampak terhadap pekerjaan.
Tanpa evaluasi, organisasi akan kesulitan membedakan antara program yang benar-benar memberikan hasil dan kegiatan yang sekadar menghabiskan anggaran.
Pengembangan SDM Bukan Sekadar Biaya
Pandangan bahwa pengembangan karyawan merupakan beban biaya perlu mulai ditinggalkan.
Perusahaan mungkin harus mengeluarkan anggaran untuk menyelenggarakan pelatihan, menyediakan sistem pembelajaran, menghadirkan mentor, maupun memberikan kesempatan pendidikan kepada karyawan. Namun, manfaat pengembangan SDM dapat dirasakan dalam jangka yang lebih panjang.
Organisasi membutuhkan tenaga kerja yang mampu belajar, beradaptasi, menyelesaikan masalah, dan mengikuti perubahan teknologi. Kemampuan tersebut tidak dapat dibentuk hanya melalui pelatihan singkat yang dilakukan ketika perusahaan sedang menghadapi masalah.
Pengembangan harus menjadi proses yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, investasi terbaik sebuah perusahaan tidak hanya terletak pada gedung, mesin, sistem, atau teknologi yang dimilikinya. Perusahaan juga perlu berinvestasi kepada orang-orang yang mengoperasikan dan mengembangkan seluruh sumber daya tersebut.
Ketika karyawan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, perusahaan juga sedang memperkuat kapasitas organisasinya sendiri.
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia seharusnya tidak ditempatkan sebagai program tambahan. Pengembangan SDM perlu menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun organisasi yang produktif, adaptif, inovatif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Referensi
Andayani, T. B. N., & Hirawati, H. (2021). Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan SDM terhadap Kinerja Karyawan PT Pos Indonesia Cabang Kota Magelang. Jurnal Ilmiah Manajemen Ubhara, 3(2), 11–22.
Hasibuan, M. S. P. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi Revisi). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kurniawati. (2020). Pengembangan Sumber Daya Manusia (Edisi 1). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Nardo, R. (2024). Perencanaan dan Pengembangan SDM. Sumatra Barat: Penerbit Mitra Cendekia Media.
Nikmah, W., Mukarromah, A., Widyansyah, D., & Anshori, M. I. (2023). Penggunaan Teknologi dalam Pengembangan SDM. Mutiara: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(5), 366–386.
Noe, R. A. (2020). Employee Training & Development (8th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Siagian, S. P. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Yusuf, M., & Hendra, R. (2023). Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Berkelanjutan. JUPEMA (Jurnal Pengabdian Masyarakat), 2(1), 52–63.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda