Penulis: Agnes Tresia Silalahi
JurnallPost.com - Sebelum melakukan perjalanan wisata, wisatawan memiliki ekspektasi terhadap perjalanan wisata yang hendak dilakukan. Ekspektasi dari wisatawan juga banyak macamnya, bisa ekspektasi terhadap atribut wisata yang ada di destinasi seperti atraksi wisata, dan bisa juga berasal dari pelayan yang diberikan pelaku usaha. Sebelum kita membahas mengenai bagaimana variabel-variabel ini terkait dengan pembentukan kepuasan wisatawan dan berdampak terhadap keberhasilan usaha pariwisata, mari kita pahami dulu apa itu pariwisata.
Destinasi wisata, sebagai tempat wisatawan mengonsumsi produk baik barang maupun jasa, memiliki tiga basis utama, yaitu wisata alam, budaya, dan buatan. Hal-hal yang menjadi pembentuk destinasi ini terdiri dari beragam unsur seperti atraksi, aksesibilitas, ancilaris, dan amenitas. Semua unsur ini dakan dikonsumsi wisatawan melalui pelayanan yang diberikan oleh pelaku usaha (host). Maka, bisa kita bayangkan bahwa harapan wisatawan bisa saja terkait dengan hal-hal tersebut. Harapan akan menikmati atraksi yang manarik dan beragam, harapan akan tersedianya akses yang baik menuju destinasi, harapan terkait dengan hal pendukung lainnya seperti tersedia internet, air bersih, tempat ibadah, rumah sakit, tempat kebugaran, money changer, dan akomodasi. Bukan hanya tersedia saja, tetapi juga layak secara fungsi, menarik, unik, bersih, nyaman dan mudah digunakan. Menariknya lagi, meskipun sarana dan prasarananya sesuai harapan, tetapi dalam proses transfer produk tersebut ke wisatawan, ditemukan ketidakpuasan. Misalnya pelayanan yang tidak ramah, tidak sopan, tidak peka, maka bisa mengakibatkan kekecewaan bagi wisatawan.
Ada begitu banyak peneliti yang mengungkapkan keterhubungan dari variabel seperti atribut wisata dan kualitas pelayanan memberikan pengaruh terhadap kepuasan wisatawan. Jika atribut wisata dan kualitas layanan bagus maka wisatawan akan merasa puas dan bahkan akan melakukan kunjungan kembali. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Silalahi (2025). Disinilah kita bisa melihat bahwa kepuasan wisatawan menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha pariwisata. Bayangkan, apabila tamu yang berkunjung ke destinasi yang kita kelola, kemudian wisatawan tidak merasa puas, apakah wisatawan tersebut akan mau datang kembali, mempromosikan destinasi, dan menceritakan hal-hal positif? Pada era digital saat ini, yang mana akses terhadap sosial media tidak terbatas, satu sisi menjadi ancaman bagi pengelola destinasi jika informasi mengenai ketidakpuasan ini tersebar dan bahkan viral. Tentu hal ini bisa mengancam keberlanjutan destinasi atau usaha yang ada di destinasi tersebut.
Hal lain yang menjadi penting juga adalah perlunya mendalami variabel-variabel lain yang menjadi penyebab kepuasan wisatawan. Pada era saat ini, langkah kecil yang bisa dilakukan oleh akademisi, pemerintah, swasta, dan masyarakat adalah dengan melihat ulasan di media sosial. Ulasan ini merupakan pernyataan wisatawan dalam bentuk nyata yang bisa kita gali dan pahami, yang bertujuan untuk menyelaraskan permintaan wisatawan dan penyediaan produk baik barang dan jasa oleh pengelola destinasi. Faktor penyebab kepuasan wisatawan akan terus mengalami perkembangan, mengingat bahwa karakter dan perilaku wisatawan akan terus berkembang seiring dengan zaman.
Terlebih, wisatawan datang dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan asal negara saja dapat memengaruhi pilihan mereka terhadap produk dan layanan wisata. Faktor lain seperti usia, jenis pekerjaan, etnis, serta jenis perjalanan yang dipilih juga turut membentuk preferensi wisatawan. Hal ini menjadi tantangan bagi pengelola destinasi untuk terus bertumbuh secara bisnis dengan menerapkan prinsip bahwa setiap upaya harus relevan dengan karakter wisatawan, demi tercapainya kepuasan dan keberlanjutan destinasi.
Referensi: Silalahi, A. T., & Hutama, S. T. E. W. (2023). Peran Kepuasan Pengunjung Sebagai Mediator Atribut Pariwisata dan Kualitas Layanan Terhadap Niat Berkunjung Kembali (Studi Kasus: Pantai Pulo Silalahi - Sumatera Utara). TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination, 2(4), 97–105. https://doi.org/10.55123/toba.v2i4.2636
Penulis: Agnes Tresia Silalahi
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda