JurnalPost.com - “Aku tak takut pada gerombolan serigala yang dipimpin oleh seekor domba. Aku jauh lebih takut pada gerombolan domba yang dipimpin oleh seekor serigala”. Pernyataan ini diucapkan oleh salah satu raja terhebat dalam sejarah, Alexander The Great. Kutipan tersebut tampaknya tepat untuk menggambarkan kondisi ASEAN.
Dewasa ini, ketiadaan sosok ‘serigala’ di kawasan ASEAN disinyalir menjadi penyebabnya. Keadaan ini lantas memberi dua dampak negatif. Pertama, adanya kompetisi ekonomi antar negara ASEAN. Tercermin dari ‘ego’ para anggota ASEAN yang sibuk mempromosikan ‘rumahnya’ masing-masing. Imbasnya, persaingan tak sehat antar anggota pun tak terelak.
Kedua, terjadi ketimpangan antar sektor ekonomi pada semua level. ASEAN seakan terbelah dua, ‘high-income’ dan ‘lower-income’. Situasi ini kontradiktif dengan tujuan awal didirikannya ASEAN pada 1967 silam. Kala itu, Menteri Adam Malik dkk. berkomitmen menciptakan transparansi informasi melalui kerja sama dan integrasi antar negara anggota.
Sejatinya, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi problematika tersebut. Salah satunya, pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2016. Meski demikian, permasalahan ini sudah begitu kompleks, hingga MEA belum sanggup menyatukan ASEAN. Maka dari itu, diperlukan sosok ‘serigala’ yang dapat merangkul dan memimpin negara-negara ASEAN menjawab tantangan perkembangan zaman.
Indonesia menjawab tantangan itu dengan cara yang khas: memimpin dengan inovasi. Setelah sukses menjadi tuan rumah Presidensi G20 pada 2022 dan memegang tongkat keketuaan ASEAN pada 2023, Indonesia menegaskan posisinya sebagai motor kawasan. Tema “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth” kala itu bukan sekadar jargon, melainkan pernyataan bahwa ASEAN bukan lagi pinggiran dunia, melainkan pusat pertumbuhan global.
Bukti paling nyata terlihat pada akselerasi integrasi sistem pembayaran digital. Per Agustus 2025, inisiatif Regional Payment Connectivity (RPC) semakin matang. Dari sekadar MoU pada 2022, kini sembilan negara anggota ASEAN terhubung melalui sistem pembayaran berbasis QR code. Interoperabilitas antara QRIS Indonesia, DuitNow Malaysia, PayNow Singapura, PromptPay Thailand, hingga VietQR, KHQR, dan Lao QR, sudah mulai berjalan dan ditargetkan kompatibilitas penuh akhir tahun ini.
Indonesia sendiri menorehkan prestasi gemilang melalui QRIS. Hingga kuartal pertama 2025, lebih dari 56 juta pengguna dan 38 juta merchant, 92,5 persen di antaranya UMKM telah bergabung. Tidak hanya melintasi batas domestik, QRIS kini menjadi paspor keuangan lintas negara. Setelah sukses di Singapura, Malaysia, dan Thailand, Agustus ini Indonesia resmi meluncurkan QRIS di Jepang, sekaligus menguji coba integrasi dengan China yang direncanakan aktif sebelum tutup tahun. Ini menjadi tonggak bersejarah, pertama kalinya QRIS menembus kawasan di luar ASEAN.
Langkah ini bukan hanya mempermudah wisatawan ASEAN bertransaksi lintas batas tanpa menukar uang di money changer. Lebih dari itu, pekerja migran, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata mendapatkan manfaat langsung dari sistem yang lebih efisien dan murah. Dari sisi makroekonomi, RPC dan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement) juga menekan ketergantungan kawasan terhadap dolar AS—sebuah langkah strategis menuju kedaulatan finansial.
Tak berlebihan jika disebut, inisiatif pembayaran digital adalah “senjata emas” yang ditawarkan Indonesia untuk menyatukan ASEAN. Dengan sebuah kode QR, ASEAN yang sebelumnya terfragmentasi kini mulai menyatu dalam ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berdaulat.
Momentum emas ini menegaskan kembali pepatah lama: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Di bawah komando Indonesia sebagai serigala yang memimpin, ASEAN kini bukan hanya punya peluang untuk solid secara internal, tetapi juga memperkokoh posisinya di panggung global. Tantangannya memang belum selesai, mulai dari harmonisasi regulasi hingga kesiapan infrastruktur digital. Namun, arah perjalanan sudah jelas: ASEAN sedang berlari kencang menuju kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya.
Penulis: Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra Pekerjaan: Pegawai Bank Indonesia
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda