Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Memeluk Cerita di Balik Wajah Murid: Pendampingan Konseling Sederhana di Sekolah Dasar

Memeluk Cerita di Balik Wajah Murid: Pendampingan Konseling Sederhana di Sekolah Dasar

Penulis:
  • Nopilestari, S.Pd.

Afiliasi: Guru SD Negeri Bulu Lor, Semarang

Editor: Danang Purnama
09 Oktober 2026, 02.05 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Balik Wajah Murid

JurnalPost.com - Setiap pagi di gerbang sekolah, riuh tawa murid menyambut terbitnya matahari. Namun, di balik kehangatan itu, terkadang ada raut wajah yang menyimpan kesunyian. Ada anak yang datang dengan binar semangat, tetapi tidak sedikit pula yang hadir dengan tatapan murung, diam, atau memilih menyendiri.

Bagi seorang guru kelas di sekolah dasar, dinamika ini bukan sekadar pemandangan rutin, melainkan panggilan nurani. Setiap wajah membawa cerita, dan di balik perubahan perilaku murid, sering kali terdapat kebutuhan emosional yang belum tersampaikan.

IKLAN

Di kota yang terus berkembang seperti Semarang, sekolah dasar menjadi tempat bertemunya anak-anak dari beragam kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Di SD Negeri Bulu Lor, yang berada di kawasan permukiman padat penduduk, kami mendampingi anak-anak dengan latar belakang kehidupan yang sangat bervariasi.

Ada anak yang mendapatkan pengasuhan hangat di rumah, tetapi ada pula yang harus menghadapi keterbatasan perhatian akibat tekanan ekonomi keluarga, bahkan tumbuh dalam lingkungan sosial yang keras.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak sekolah dasar di Indonesia yang belum memiliki guru Bimbingan dan Konseling (BK) khusus. Ketika persoalan emosional, perilaku, hingga gejala perundungan (bullying) muncul, tanggung jawab pendampingan sering kali bertumpu pada guru kelas.

Ketiadaan tenaga konselor profesional di sekolah dasar tentu bukan alasan untuk membiarkan persoalan anak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Berangkat dari kesadaran tersebut, saya menerapkan sebuah pendekatan pendampingan berbasis kepedulian yang disebut JELASH, yakni Jeli, Empati, Luwes, Aman, dan Sepenuh Hati.

Membaca Sinyal dan Berempati

Langkah awal pendampingan dimulai dari kejelian mengamati perubahan kecil dalam perilaku murid. Anak yang tiba-tiba sering melamun, sulit berkonsentrasi, atau justru menunjukkan perilaku usil dengan mengganggu teman terkadang langsung dianggap sebagai anak nakal.

Padahal, anak yang diam belum tentu tidak peduli, dan anak yang usil belum tentu sekadar ingin membuat kegaduhan. Perubahan perilaku tersebut bisa menjadi sinyal adanya persoalan yang belum mampu mereka ungkapkan secara verbal.

Melalui pendekatan empati, guru kelas berupaya mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Penelusuran dilakukan dengan menggali informasi secara bijaksana, baik melalui catatan perkembangan murid di kelas sebelumnya maupun melalui dialog bersama orang tua.

Namun, membuka komunikasi dengan orang tua bukanlah perkara mudah. Lingkungan sosial yang beragam menghadirkan kondisi keluarga yang juga bervariasi, termasuk keluarga dengan pengalaman kehidupan yang keras dan penuh tantangan.

Dalam menghadapi situasi tersebut, keselamatan dan kenyamanan semua pihak harus menjadi prioritas. Guru dituntut untuk bersikap bijaksana, santun, serta berhati-hati dalam membangun komunikasi.

Prinsip utamanya adalah bahwa pendekatan kepada orang tua bukan untuk menyalahkan atau memojokkan, melainkan mengajak mereka menjadi mitra dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Membangun Sinergi dan Ruang Aman

Pendampingan konseling di sekolah dasar tidak cukup hanya mengandalkan interaksi selama pembelajaran di kelas. Keberhasilan bimbingan juga ditentukan oleh kemampuan sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi murid.

Pendekatan personal perlu dilakukan tanpa mempermalukan anak di hadapan teman-temannya. Ketika merasa aman, dihargai, dan diterima, anak akan lebih mudah membangun kepercayaan terhadap guru.

IKLAN

Dari rasa percaya itulah muncul keberanian untuk bercerita, menyampaikan perasaan, dan mengungkapkan persoalan yang selama ini dipendam.

Foto Balik Wajah Murid

Di sisi lain, guru kelas juga harus memahami keterbatasan kewenangan dan kapasitasnya. Tidak semua persoalan anak dapat diselesaikan melalui pendampingan sederhana di sekolah.

Ketika menghadapi kasus yang membutuhkan penanganan khusus atau bantuan profesional, kolaborasi dengan pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan menjadi langkah penting.

Dalam praktiknya, sekolah membangun sinergi dengan sejumlah lembaga terkait. Untuk mendukung murid penyandang disabilitas atau anak yang membutuhkan layanan pendidikan inklusif, sekolah bekerja sama dengan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM).

Sementara itu, untuk kasus yang membutuhkan perlindungan dan pemulihan anak secara lebih komprehensif, sekolah menjalin kolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan setiap anak memperoleh pendampingan, perlindungan, serta akses terhadap layanan psikologis sesuai dengan kebutuhannya.

Dengan demikian, pendampingan tidak berhenti pada perhatian guru di ruang kelas, tetapi dapat dilanjutkan melalui dukungan pihak lain yang memiliki keahlian dalam menangani persoalan anak.

Menumbuhkan Kembali Kekuatan Diri

Tujuan akhir bimbingan dan konseling di sekolah dasar bukanlah menjadikan anak terus bergantung pada pertolongan guru. Lebih dari itu, pendampingan bertujuan membantu murid mengenali potensi, memahami perasaan, serta menumbuhkan kembali kekuatan yang ada dalam dirinya.

Ketika pendampingan dilakukan secara konsisten dan sepenuh hati, perubahan positif dapat terlihat secara bertahap.

Murid yang sebelumnya murung dan menarik diri mulai bersedia berinteraksi dengan teman-temannya. Anak yang semula enggan berbicara perlahan berani bertanya dalam pembelajaran. Mereka pun mulai menemukan kembali keceriaan yang sempat meredup.

Perubahan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi bagi seorang guru, keberanian seorang anak untuk kembali tersenyum, bercerita, atau percaya kepada lingkungan sekitarnya merupakan pencapaian yang sangat berarti.

Mendampingi tumbuh kembang generasi penerus bangsa membutuhkan keberanian untuk hadir secara utuh dalam kehidupan murid. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan melalui papan tulis dan buku pelajaran, melainkan juga upaya kemanusiaan untuk merawat jiwa, membangun karakter, dan menumbuhkan harapan.

Melalui kejelian membaca perubahan, empati dalam mendengarkan, keluwesan dalam bersikap, penyediaan ruang aman, serta kehadiran sepenuh hati, pendekatan JELASH dapat menjadi salah satu langkah sederhana yang bermakna dalam pendampingan murid sekolah dasar.

Sebab, di balik setiap wajah anak, ada cerita yang perlu didengarkan. Di balik setiap perubahan perilaku, mungkin ada perasaan yang membutuhkan perhatian.

Dan di balik kepedulian seorang guru, selalu terbuka kesempatan untuk membantu anak kembali menemukan kepercayaan diri serta harapan akan masa depannya.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/memeluk-cerita-di-balik-wajah-murid-pendampingan-konseling-sederhana-di-sekolah-dasar/98080/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.51 WITA

  • #Pendidikan Karakter
  • #SD Negeri Bulu Lor
  • #guru kelas
  • #kesehatan mental anak
  • #konseling sekolah dasar
  • #pendampingan murid
  • #pendekatan JELASH

Artikel Terkait

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.