JurnalPost.com - Sudah tidak asing lagi untuk kita mendengar kata kenakalan remaja, khususnya tawuran. Menurut Mansoer (dalam Solikhah, 1999), tawuran adalah perkelahian massal antar kelompok pelajar laki-laki dengan kekerasan yang ditujukan pada kelompok pelajar dari sekolah lain. Biasanya, tawuran dilakukan dengan kekerasan fisik. Di zaman sekarang, banyak remaja-remaja yang melakukan aksi tawuran. Tawuran dapat timbul dari beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud yaitu berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru terhadap lingkungan. Faktor internal dapat disebabkan dari berbagai gangguan, seperti gangguan tanggapan, gangguan cara berpikir dan gangguan emosional. Sedangkan faktor eksternal yaitu pengaruh dari luar yang merangsang dan menyebabkannya terjadi perbuatan atau tingkah laku. Faktor eksternal biasanya disebabkan oleh faktor keluarga dan faktor sekolah. Faktor-faktor ini adalah yang menjadi timbulnya tawuran. Tawuran tidak tiba-tiba terjadi, tawuran terjadi melalui proses.
Tak lama yang lalu terjadi kasus tawuran antar pelajar SMK di daerah Jakarta Utara, di mana salah satu pihak melempar air keras. Salah satu pelajar mengalami luka bakar di bagian wajahnya dan harus melakukan perawatan di rumah sakit. Kenakalan remaja, khususnya dalam bentuk tawuran, telah menjadi isu yang mendominasi pemandangan sosial dalam beberapa dekade terakhir. Kenakalan remaja, khususnya dalam bentuk tawuran, telah menjadi salah satu masalah sosial yang paling meresahkan masyarakat saat ini. Tawuran antar remaja adalah bentuk agresi fisik yang sering terjadi di jalanan. Seringkali melibatkan kelompok-kelompok yang bersaing atau berkonflik.
Salah satu faktor utama dari adanya tawuran ini adalah tekanan sosial yang signifikan yang dihadapi oleh remaja modern. Pada tahap perkembangan ini, remaja seringkali merasa tertekan oleh ekspektasi sosial, tekanan akademik, dan kebutuhan akan pengakuan. Perlu diingat juga bahwa remaja merupakan proses dimana anak-anak perlahan mencari jati dirinya yang ia akan tetapkan ke masa dewasa dia sehingga kebanyakan kali remaja terpengaruh lebih gampang karena nilai yang belum bisa dipegang.
Selain tekanan sosial, kurangnya pengawasan dan perhatian dari orang tua atau wali juga merupakan faktor penting dalam mendorong kenakalan remaja. Orang tua yang tidak aktif atau terlalu sibuk dapat membuat anak-anak mereka merasa tidak terpantau. Hal ini dapat memungkinkan mereka terlibat dalam perilaku berisiko, termasuk tawuran. Faktor lain yang signifikan adalah pengaruh lingkungan. Remaja yang tumbuh besar di lingkungan yang dilanda kekerasan atau ketidaknyamanan sering kali lebih rentan terlibat dalam tawuran sebagai bentuk melawan atau pertahanan diri. Selain itu, pengaruh teman sebaya juga menjadi pemicu utama. Apabila remaja memiliki teman-teman yang terlibat dalam tawuran, mereka cenderung tergoda atau merasa terdorong untuk ikut serta dalam perilaku tersebut. Maka dari itu, kurangnya alternatif positif dalam hidup remaja juga dapat menjadi faktor utama dalam terjadinya tawuran. Jika mereka tidak memiliki akses ke kegiatan positif atau pekerjaan paruh waktu yang memadai, mereka mungkin lebih cenderung mencari pengalaman melalui kekerasan jalanan.
Dampak tawuran remaja jauh lebih serius daripada yang mungkin terlihat pada pandangan pertama. Bagi individu yang terlibat dalam tawuran, ini bisa mengakibatkan cedera fisik yang serius atau bahkan kematian. Perilaku agresif ini seringkali melibatkan penggunaan senjata atau benda tumpul yang dapat menyebabkan kerusakan yang permanen. Selain itu, tawuran juga memiliki dampak psikologis yang serius, seperti trauma atau gangguan stres pasca-trauma, yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional remaja yang terlibat. Tawuran juga menciptakan ketidakamanan dan rasa takut di tengah masyarakat. Daerah-daerah yang sering menjadi lokasi tawuran seringkali menjadi tempat yang tidak aman untuk dikunjungi. Masyarakat merasa terancam dan tidak nyaman berjalan di jalanan, bahkan pada siang hari. Ini juga dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi lokal, karena bisnis atau perdagangan tidak dapat beroperasi dengan lancar di lingkungan yang terkenal dengan kekerasan. Dampak lain yang dapat dirasakan oleh pelaku tawuran adalah kerusakan materi, tindakan vandalisme, dan korban jiwa.
Selain itu, dampak tawuran terasa dalam lingkungan pendidikan. Tawuran sering terjadi di dekat atau dalam lingkungan sekolah, dan ini mengganggu proses belajar-mengajar. Para siswa mungkin merasa tidak aman di sekolah dan mengalami tekanan psikologis yang signifikan. Ini bisa menyebabkan terganggunya perkembangan akademik, peningkatan tingkat ketidakhadiran, dan bahkan drop out sekolah. Akibatnya, tawuran dapat merusak masa depan remaja yang akan mendatang. Bahkan hingga detik sekarang, bukan hanya anak-anak SMA lagi yang melakukan tawuran, tetapi anak-anak SMP sekarang sudah mengikutinya. Jika semakin lama, semakin tidak dicegah, hal ini bisa menjadi dampak negatif bagi penerus bangsa.
Tawuran ini sudah bisa dikatakan sebagai budaya. Hal tersebut didukung oleh para ahli yang mengatakan bahwa kebudayaan tawuran di kalangan masyarakat Indonesia dikarenakan oleh kondisi masyarakat yang masih menganut sebuah solidaritas mekanik. Rasa kesolidaritasan mereka sangat tinggi dalam masalah kekeluargaan. Namun, rasa solidaritas yang tinggi ini sangat rentan bila terjadi suatu konflik. Tawuran sudah menjadi bagian dari masalah sosial dan budaya bangsa Indonesia. Segala hal atau masalah yang tidak bisa diselesaikan secara damai, jawabannya pasti dengan tawuran. Pola perilaku inilah yang seharusnya bisa diubah dari sebagian besar masyarakat Indonesia.
Faktor-faktor penyebab tawuran pelajar adalah pola pikir atau mindset, kontrol diri, krisis identitas, dan sebagainya. Menurut Mulyadi (2007:71), pola pikir atau mindset merupakan sikap mental mapan yang dibentuk melalui pendidikan, pengalaman, dan prasangka. Pola pikir yang belum matang yang membuat adanya keterlibatan seorang pelajar dalam tawuran karena masih belum bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri (mudah dibujuk). Menurut Anshari (1996:605), kontrol diri adalah kemampuan untuk menekan atau untuk mencegah tingkah laku yang menurut kata hati atau semaunya. Pengendalian diri atau kontrol diri berfungsi untuk beradaptasi dengan norma ideal, moral, dan lain-lain. Sebaliknya, pelaku tawuran kurang bisa mengendalikan diri atau mengontrol dirinya sehingga mengarah ada emosi yang mudah marah, frustasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Menurut Erikson, krisis identitas adalah tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan yang penting yang berkaitan dengan pertanyaan tentang identitas dirinya. Para ahli mengatakan bahwa penyebab tawuran pelajar dikarenakan berhubungan dengan krisis identitas mengarah pada ketidakmampuan menemukan nilai positif dalam diri seseorang. Oleh karena itu, akan mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan perilaku seseorang, salah satunya tawuran.
Kebanyakkan dari para pelajar yang melakukan tawuran itu merupakan pelajar yang belum memiliki wadah untuk aktualisasi diri yang tepat. Dengan tidak adanya wadah aktualisasi diri, energi mereka tidak tersalurkan dengan baik sehingga para pelajar mencari wadah tersebut melalui tawuran. Mereka harus lebih diperhatikan lagi dan dididik oleh orang yang lebih tua agar dapat mengetahui tindakan serta perilaku negatif yang dapat mengarah ke tawuran.
Perlu diketahui pentingnya mencegah tawuran sejak usia remaja. Berdasarkan hasil penelitian tentang penanganan permasalahan tawuran remaja melalui Pusat Pengembangan Remaja, para remaja diharapkan memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam Pusat Pengembangan Remaja (PPR) sebagai kegiatan positif dalam mengurangi dan dapat menghentikan kegiatan negatif. Selain itu, orang tua juga dapat mempertimbangkan sikap anaknya di usia remaja. Oleh karena itu, kegiatan negatif seperti tawuran dapat terhindarkan.
1. Bintang Setyaputra Wijaksana 2. Brandon Trandishel Prihantoro 3. Clea Adrienne Wikhova
SMA Kolese Gonzaga
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda