Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Barang KW Sebagai Bentuk Konsumerisme

Barang KW Sebagai Bentuk Konsumerisme

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
10 November 2023, 10.01 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Barang KW Sebagai Bentuk Konsumerisme

JurnalPost.com - Kehidupan zaman sekarang ini, terutama di Indonesia, terdapat banyak sekali produk-produk baru yang bermunculan, terutama produk dalam bidang fashion. Produk dalam bidang fashion dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu produk bermerek dan produk tidak bermerek. Tentunya, kedua kategori tersebut memiliki kualitas serta harga yang berbeda. Menariknya, produk-produk kelas dunia tidak hanya diperuntukkan bagi konsumen yang berpenghasilan tinggi. Realita yang terjadi di pasar, masyarakat yang berpenghasilan rendah juga ingin menggunakan barang bermerek.

Masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah “Barang KW”. Barang KW adalah barang yang diproduksi dengan cara meniru, atau replika dari barang asli yang ingin ditiru. Kata “KW” sendiri diambil dari kata kualitas atau kwalitas dan pastinya barang KW diproduksi tanpa seizin dari pembuat produk barang yang asli. Kasarnya, barang KW adalah barang palsu. Hal inilah yang menjadi masalah di Indonesia karena produksi barang KW terlalu banyak. Kita dapat dengan mudah menemukan barang KW baik di online shop maupun di toko langsung. Salah satu tempat yang terkenal akan barang KW nya di Indonesia adalah ITC Mangga Dua. Lantas, mengapa barang KW menjadi hal yang menarik bagi beberapa kalangan. Apa yang bisa dilihat dari sisi sosiologi.

IKLAN

Ketertarikan masyarakat terhadap barang-barang KW sangat beragam menyesuaikan dengan kondisi ekonomis masyarakat tersebut. Produk yang mewah tentunya adalah produk yang namanya terkenal, kualitasnya yang baik dan kerap kali identik dengan harganya yang mahal. Peredaran barang KW sudah diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (MIG) dimana pihak yang melanggar akan dikenakan pidana dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak senilai Rp2.000.000.000 (dua miliar rupiah). Sayangnya, hal tersebut tidak dapat menghentikan peredaran barang KW di pasar masyarakat. Salah satu faktor yang membuat barang KW sangat diminati oleh masyarakat selain dikarenakan harganya yang murah adalah karena iklan yang sering dijumpai oleh masyarakat di sosial media.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Terlebih lagi di zaman sekarang, kita dapat dengan mudahnya melihat promosi-promosi toko online yang menjual barang KW. Sebagai suatu bentuk budaya yang terlahir di era milenial, budaya populer pasti tidak asing di kalangan masyarakat. Budaya pop di era ini merupakan budaya dari suatu pengalaman yang terlahir karena budaya konsumtif dan didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Konsep lifestyle awalnya dikenal di era 1990-an. Gaya hidup ini tentu lahir karena diakibatkan oleh adanya dorongan dari globalisasi di bidang industri media. Terlebih masyarakat Indonesia dapat tergolong sebagai masyarakat yang konsumtif di era globalisasi dan lambat laun akan semakin konsumtif seiring dengan pertumbuhan ekonomi global. Hal ini dapat dilihat dengan semakin menjamurnya pusat perbelanjaan, industri di bidang fashion, kecantikan serta toko-toko online.

Lalu semakin disukainya produk asing, dan beberapa faktor lainnya yang merupakan efek dari life style yang diakibatkan dari iklan dan televisi. Dari situ, masyarakat menengah menjadi lebih tau barang apa saja yang digunakan oleh masyarakat kelas atas. Masyarakat secara tidak sadar akan menjadi lebih boros karena perilakunya yang konsumtif dan sikap mereka yang tidak ingin ketinggalan. Disini bisa kita melihat bahwa seolah-olah terjadi suatu persaingan di antara masyarakat untuk menunjukkan stratanya melalui barang atau produk yang mereka pakai. Pendapat Sumartono (dalam Hotpascaman, 2010: 3) “Seseorang akan melakukan perilaku konsumtif dengan mengacu pada apa yang ditentukan oleh kelompok referensinya”.

IKLAN

Namun ada faktor lain yang dapat dilihat dari kacamata sosiologi yang membuat barang KW menjadi sangat diminati oleh beberapa kalangan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari teori konflik menurut Karl Marx, di mana teori tersebut menunjukkan adanya struktur kelas di dalam masyarakat. Setiap kelas tersebut memiliki kondisi ekonomi yang berbeda sehingga menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial di dalam kalangan masyarakat. Dalam kasus ini, masyarakat dari kalangan menengah kebawah akan berusaha untuk menjadi masyarakat kalangan atas.

Upaya yang mereka lakukan untuk menjadi masyarakat kalangan atas adalah dengan menggunakan barang-barang bermerek atau terkenal dengan harapan orang-orang akan menganggap mereka sebagai orang-orang kalangan atas, namun tidak semua orang dapat membeli barang bermerek dikarenakan barang bermerek memiliki harga yang mahal, maka dari itu mereka akan mencari alternatif lain untuk memuaskan keinginan mereka untuk mendapatkan bermerek barang tersebut dengan cara yaitu membeli atau menggunakan barang KW.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Disini kita bisa lihat bahwa ada juga faktor konsumtif dalam masyarakat. Werner Sombart, Emile Durkheim, dan Thornstein Veblen (Trentman dalam Umanailo, 2004), menyatakan bahwa konsumsi merupakan kekuatan besar yang sangat menentukan di balik dinamika dan struktur sosial dalam sistem kapitalisme modern. Budaya konsumerisme terutama muncul setelah masa industrialisasi ketika barang-barang mulai diproduksi secara massal sehingga membutuhkan konsumen lebih luas. Konsumerisme adalah suatu pola pikir serta tindakan dimana orang melakukan tindakan membeli barang bukan dikarenakan ia membutuhkan barang itu tetapi dikarenakan tindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan bagi dirinya. Konsumerisme yang terjadi di masyarakat ditandai dengan adanya gaya hidup yang tinggi. “Cogito ergo Sum: Aku berpikir maka aku ada”, tetapi sekarang istilah yang lebih populer ialah: “I shop therefore I am: Aku berbelanja maka aku ada” (Firovani dalam Umanailo, 2004).

Kesimpulannya, konsumerisme barang KW ini terjadi di dalam kelas sosial masyarakat pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang di mana anggotanya berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidak ditentukan hanya oleh faktor seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan variabel lain.

Penulis: Kayla Anandita, Aninayottama Aptanta A, Felix Sugestian

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/barang-kw-sebagai-bentuk-konsumerisme/61183/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 07.46 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  3. 3

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.