JurnalPost.com - Kehidupan zaman sekarang ini, terutama di Indonesia, terdapat banyak sekali produk-produk baru yang bermunculan, terutama produk dalam bidang fashion. Produk dalam bidang fashion dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu produk bermerek dan produk tidak bermerek. Tentunya, kedua kategori tersebut memiliki kualitas serta harga yang berbeda. Menariknya, produk-produk kelas dunia tidak hanya diperuntukkan bagi konsumen yang berpenghasilan tinggi. Realita yang terjadi di pasar, masyarakat yang berpenghasilan rendah juga ingin menggunakan barang bermerek.
Masyarakat Indonesia pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah “Barang KW”. Barang KW adalah barang yang diproduksi dengan cara meniru, atau replika dari barang asli yang ingin ditiru. Kata “KW” sendiri diambil dari kata kualitas atau kwalitas dan pastinya barang KW diproduksi tanpa seizin dari pembuat produk barang yang asli. Kasarnya, barang KW adalah barang palsu. Hal inilah yang menjadi masalah di Indonesia karena produksi barang KW terlalu banyak. Kita dapat dengan mudah menemukan barang KW baik di online shop maupun di toko langsung. Salah satu tempat yang terkenal akan barang KW nya di Indonesia adalah ITC Mangga Dua. Lantas, mengapa barang KW menjadi hal yang menarik bagi beberapa kalangan. Apa yang bisa dilihat dari sisi sosiologi.
Ketertarikan masyarakat terhadap barang-barang KW sangat beragam menyesuaikan dengan kondisi ekonomis masyarakat tersebut. Produk yang mewah tentunya adalah produk yang namanya terkenal, kualitasnya yang baik dan kerap kali identik dengan harganya yang mahal. Peredaran barang KW sudah diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (MIG) dimana pihak yang melanggar akan dikenakan pidana dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak senilai Rp2.000.000.000 (dua miliar rupiah). Sayangnya, hal tersebut tidak dapat menghentikan peredaran barang KW di pasar masyarakat. Salah satu faktor yang membuat barang KW sangat diminati oleh masyarakat selain dikarenakan harganya yang murah adalah karena iklan yang sering dijumpai oleh masyarakat di sosial media.
Terlebih lagi di zaman sekarang, kita dapat dengan mudahnya melihat promosi-promosi toko online yang menjual barang KW. Sebagai suatu bentuk budaya yang terlahir di era milenial, budaya populer pasti tidak asing di kalangan masyarakat. Budaya pop di era ini merupakan budaya dari suatu pengalaman yang terlahir karena budaya konsumtif dan didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Konsep lifestyle awalnya dikenal di era 1990-an. Gaya hidup ini tentu lahir karena diakibatkan oleh adanya dorongan dari globalisasi di bidang industri media. Terlebih masyarakat Indonesia dapat tergolong sebagai masyarakat yang konsumtif di era globalisasi dan lambat laun akan semakin konsumtif seiring dengan pertumbuhan ekonomi global. Hal ini dapat dilihat dengan semakin menjamurnya pusat perbelanjaan, industri di bidang fashion, kecantikan serta toko-toko online.
Lalu semakin disukainya produk asing, dan beberapa faktor lainnya yang merupakan efek dari life style yang diakibatkan dari iklan dan televisi. Dari situ, masyarakat menengah menjadi lebih tau barang apa saja yang digunakan oleh masyarakat kelas atas. Masyarakat secara tidak sadar akan menjadi lebih boros karena perilakunya yang konsumtif dan sikap mereka yang tidak ingin ketinggalan. Disini bisa kita melihat bahwa seolah-olah terjadi suatu persaingan di antara masyarakat untuk menunjukkan stratanya melalui barang atau produk yang mereka pakai. Pendapat Sumartono (dalam Hotpascaman, 2010: 3) “Seseorang akan melakukan perilaku konsumtif dengan mengacu pada apa yang ditentukan oleh kelompok referensinya”.
Namun ada faktor lain yang dapat dilihat dari kacamata sosiologi yang membuat barang KW menjadi sangat diminati oleh beberapa kalangan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari teori konflik menurut Karl Marx, di mana teori tersebut menunjukkan adanya struktur kelas di dalam masyarakat. Setiap kelas tersebut memiliki kondisi ekonomi yang berbeda sehingga menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial di dalam kalangan masyarakat. Dalam kasus ini, masyarakat dari kalangan menengah kebawah akan berusaha untuk menjadi masyarakat kalangan atas.
Upaya yang mereka lakukan untuk menjadi masyarakat kalangan atas adalah dengan menggunakan barang-barang bermerek atau terkenal dengan harapan orang-orang akan menganggap mereka sebagai orang-orang kalangan atas, namun tidak semua orang dapat membeli barang bermerek dikarenakan barang bermerek memiliki harga yang mahal, maka dari itu mereka akan mencari alternatif lain untuk memuaskan keinginan mereka untuk mendapatkan bermerek barang tersebut dengan cara yaitu membeli atau menggunakan barang KW.
Disini kita bisa lihat bahwa ada juga faktor konsumtif dalam masyarakat. Werner Sombart, Emile Durkheim, dan Thornstein Veblen (Trentman dalam Umanailo, 2004), menyatakan bahwa konsumsi merupakan kekuatan besar yang sangat menentukan di balik dinamika dan struktur sosial dalam sistem kapitalisme modern. Budaya konsumerisme terutama muncul setelah masa industrialisasi ketika barang-barang mulai diproduksi secara massal sehingga membutuhkan konsumen lebih luas. Konsumerisme adalah suatu pola pikir serta tindakan dimana orang melakukan tindakan membeli barang bukan dikarenakan ia membutuhkan barang itu tetapi dikarenakan tindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan bagi dirinya. Konsumerisme yang terjadi di masyarakat ditandai dengan adanya gaya hidup yang tinggi. “Cogito ergo Sum: Aku berpikir maka aku ada”, tetapi sekarang istilah yang lebih populer ialah: “I shop therefore I am: Aku berbelanja maka aku ada” (Firovani dalam Umanailo, 2004).
Kesimpulannya, konsumerisme barang KW ini terjadi di dalam kelas sosial masyarakat pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang di mana anggotanya berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidak ditentukan hanya oleh faktor seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan, dan variabel lain.
Penulis: Kayla Anandita, Aninayottama Aptanta A, Felix Sugestian
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda