Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Mahir Teknologi tapi Miskin Literasi, Kemana Arah Pendidikan Kita?

Mahir Teknologi tapi Miskin Literasi, Kemana Arah Pendidikan Kita?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
28 Juni 2025, 14.37 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Augmented Reality

oleh Aidha Hany Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar

IKLAN

JurnalPost.com - Sungguh memprihatinkan ketika kita menyaksikan pemandangan sehari-hari di sekitar kita. Anak-anak muda dengan lihai mengoperasikan telepon pintar, bermain permainan digital dengan kemahiran tinggi, bahkan mampu menguasai berbagai aplikasi canggih dalam hitungan menit. Namun, ketika diminta membaca buku atau menulis karangan sederhana, mereka tampak kesulitan dan enggan melakukannya. Fenomena ini bukan lagi sekadar kekhawatiran para pendidik, melainkan sudah menjadi kenyataan pahit yang harus kita hadapi bersama.

Tambua Tansa
Baca Juga

Tambua Tansa: Simbol Perpisahan Masyarakat Maninjau untuk Mahasiswa Universitas Tidar

Data yang dirilis berbagai lembaga penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca Indonesia masih berada di peringkat bawah dibandingkan negara-negara lain. Sementara itu, penetrasi teknologi digital di kalangan anak muda mencapai angka yang sangat tinggi. Hampir setiap anak memiliki akses ke internet dan mahir menggunakannya untuk berbagai keperluan hiburan. Akan tetapi, kemahiran teknologi ini tidak diimbangi dengan kemampuan memahami bacaan yang mendalam atau menulis dengan baik dan benar.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah pendidikan kita. Apakah sistem pendidikan yang ada saat ini sudah tepat dalam menyiapkan generasi masa depan? Ataukah kita terjebak dalam euforia teknologi tanpa mempertimbangkan keseimbangan dengan kemampuan dasar yang tidak kalah penting?

Penyebab utama dari fenomena ini sebenarnya sangat beragam dan saling berkaitan. Pertama, perubahan pola konsumsi informasi di era digital sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Generasi muda lebih terbiasa dengan informasi yang disajikan dalam bentuk visual, pendek, dan cepat. Mereka lebih senang menonton video pendek daripada membaca artikel panjang. Kebiasaan ini secara perlahan mengikis kemampuan konsentrasi dan kesabaran dalam membaca teks yang panjang dan kompleks.

Kedua, lingkungan keluarga dan masyarakat juga berperan besar dalam membentuk kebiasaan ini. Banyak orang tua yang lebih memilih memberikan gadget kepada anak-anak mereka sebagai cara mudah untuk membuat mereka tenang, tanpa menyadari dampak jangka panjangnya. Sementara itu, kegiatan membaca buku bersama atau bercerita sebelum tidur mulai ditinggalkan karena dianggap kuno dan tidak praktis.

KKN Universitas Warmadewa
Baca Juga

KKN Universitas Warmadewa Perkuat Smart Village di Desa Mekar Bhuwana

Ketiga, sistem pendidikan kita sendiri masih belum optimal dalam mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran literasi. Banyak sekolah yang memang sudah menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar, tetapi penggunaannya lebih bersifat teknis daripada mendorong kemampuan berpikir kritis dan literasi yang mendalam. Akibatnya, siswa mahir menggunakan teknologi tetapi lemah dalam kemampuan dasar seperti membaca pemahaman dan menulis argumentatif.

IKLAN

Namun, situasi ini bukan berarti tidak ada harapan untuk diperbaiki. Justru sebaliknya, masa depan pendidikan kita bisa menjadi lebih baik jika kita mampu menemukan keseimbangan yang tepat antara kemahiran teknologi dan literasi dasar. Kunci utamanya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan literasi, bukan sebagai pengganti dari kegiatan membaca dan menulis tradisional.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengubah pendekatan dalam proses belajar mengajar. Teknologi harus digunakan sebagai jembatan untuk membuat kegiatan literasi menjadi lebih menarik dan relevan bagi generasi digital. Misalnya, guru dapat menggunakan aplikasi membaca interaktif, platform menulis digital yang menarik, atau bahkan memanfaatkan media sosial untuk kegiatan literasi yang kreatif dan menyenangkan.

Selain itu, peran keluarga juga sangat penting dalam mengembalikan budaya literasi di rumah. Orang tua perlu menjadi contoh yang baik dengan menunjukkan kebiasaan membaca dan menulis di hadapan anak-anak mereka. Kegiatan sederhana seperti membaca buku bersama, berdiskusi tentang isi bacaan, atau bahkan menulis diary keluarga dapat menjadi langkah awal yang efektif.

2B SDN 02 Kalongan22
Baca Juga

Bukan Sekadar Teori, Siswa Kelas 2B SDN 02 Kalongan Praktik 6 Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun

Pemerintah dan lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar dalam mengatasi masalah ini. Kurikulum pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman tanpa mengabaikan pentingnya literasi dasar. Program-program pelatihan guru dalam mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran literasi harus diperbanyak dan diperkuat. Perpustakaan sekolah dan umum juga perlu direvitalisasi dengan konsep yang lebih modern dan menarik bagi generasi digital.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita memandang teknologi itu sendiri. Teknologi bukanlah musuh dari literasi, melainkan bisa menjadi sekutu yang powerful jika digunakan dengan bijak. Platform digital dapat menjadi sarana untuk mengakses berbagai bacaan dari seluruh dunia, aplikasi menulis dapat membantu proses kreatif, dan media sosial dapat menjadi wadah untuk berbagi karya tulis dan mendiskusikan berbagai topik dengan lebih luas.

Kita juga perlu mengakui bahwa generasi muda saat ini memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lahir dan tumbuh di era digital, sehingga pendekatan pembelajaran juga harus disesuaikan dengan cara berpikir dan belajar mereka. Namun, penyesuaian ini tidak berarti mengorbankan kemampuan dasar yang tetap diperlukan sepanjang masa.

Solusi yang paling efektif adalah menciptakan ekosistem pendidikan yang seimbang, di mana teknologi dan literasi saling mendukung dan memperkuat. Generasi muda harus diajari bahwa kemahiran teknologi dan kemampuan literasi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua keterampilan yang sama-sama penting dan saling melengkapi di era modern ini. Pada akhirnya, arah pendidikan kita harus menuju pada penciptaan generasi yang cerdas secara teknologi sekaligus kaya secara literasi. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi untuk tujuan-tujuan yang produktif dan bermakna, termasuk untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Hanya dengan cara inilah kita dapat memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengorbankan kemampuan dasar yang menjadi fondasi peradaban manusia.

Tantangan ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin diatasi. Dengan komitmen bersama dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat luas, kita dapat menciptakan masa depan pendidikan yang lebih baik. Masa depan di mana generasi muda Indonesia tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga kaya literasi dan siap menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mahir-teknologi-tapi-miskin-literasi-kemana-arah-pendidikan-kita/82920/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.58 WITA

  • #Berita Mahasiswa
  • #Universitas Tidar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Pilihan Editor

  1. 1 Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah
  2. 2

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  3. 3

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  4. 4

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.